
"Iya-iya Pak Bayu," jawab karyawan wanita yang kembali ke meja mereka masing-masing.
"Mentang-mentang dia sekretaris Presdir. Seenaknya dia marahin kita!" gerutu seorang wanita yang kesal.
"Kau benar," jawab temannya sembari menatap Bayu masuk dengan membawakan sebuah berkas.
Dilain waktu Luna baru saja selesai kuliah, Luna berjalan santai menuju gerbang kampus, karena supir Luna Doni sudah menunggu di luar.
"Luna!" panggil Leon menghampiri Luna dengan motornya dan diikuti Gio dan Radka.
"Ya?" jawab Luna singkat.
"Mau pulang bareng gak?" tanya Leon.
"Hah bukan aku gak mau, tapi hari ini hari pertama Kakak dan Adrian mulai bekerja di kantor. Aku ingin berikan selamat untuk mereka, maaf ya lain kali aja kita pulang bareng nya."
"Ya sayang sekali. Tapi gak apa\-apa kok," jawab Leon tersenyum.
"Maaf sekali lagi. Aku harus buru\-buru," ucap Luna pergi mendahulukan Leon, Gio dan Rafka. Dalam perjalanan menuju mobilnya, Luna sedang mencari sebuah hadiah untuk Adrian dan Juna. Tiba\-tiba si pengendara motor hitam melaju begitu cepat kearah Luna, karena Luna begitu sibuk memeriksa isi tasnya Luna tak menyadari dirinya dalam bahaya.
"Luna! Bos muda!" teriak Leon keras dan disertai panggilan dari Doni, dengan sontak Luna menegakkan kepalanya dan melihat pengendara motor hitam itu yang dalam beberapa detik menabraknya. Dengan resflek Luna membunyikan wajahnya dengan tas, tapi sipengendara itu mengambil tas Luna dan membawa kabur.
"Hei!"teriak Luna keras saat pengendara motor itu kabur dengan tasnya yang berisi hadiah untuk Adrian dan Juna.
"Luna, kamu baik\-baik saja?" tanya Leon sembari memeriksa keadaan Luna.
"Aku baik\-baik saja. Tapi tas ku dibawa kabur," ucap Luna murung.
"Kamu tunggu disini, aku akan mengambil kembali tas kamu." Ucap Leon berlari menuju motor dan mengejar pengendara motor hitam dengan kecepatan penuh.
"Jangan khawatir Leon pasti akan mendapatkannya," ucap Gio sembari menepuk bahu Luna.
Sementara itu pengendara motor hitam itu menuntun Leon ke sebuah gang\-gang kecil dan pada akhirnya si pengendara motor hitam berhenti di sebuah bangunan. Leon mengikuti pengendara motor hitam itu dengan perasaan was\-was, Leon melihat tongkat kayu di dekat tembok. Leon pun mengambil tongkat kayu itu sebagai jaga\-jaga, jika Dia dalam bahaya. Leon berjalan menuju tangga dan menaiki lantai dua, tiba\-tiba pengendara motor hitam itu kaget dengan kedatangan Leon. Si pengendara motor hitam berniat ingin kabur dari Leon, tapi dengan sigap Leon menyudutkan si pengendara motor hitam ke dinding.
"Jangan berani mengambil tas kekasih ku!" ucap Leon yang geram.
"Aku cuma di suruh saja," jawab si pengendara motor hitam itu dengan susah paya berbicara sembari memberikan kembali tas Luna.
Setelah mendapatkan tas Luna, Leon pun pergi meninggalkan si pengendara motor hitam begitu saja.
Sementara itu Luna menunggu dengan perasaan yang begitu khawatir.
"Ya Tuhan semoga Leon baik\-baik saja," ucap Luna sembari berjalan mondar\-mandir.
"Leon pasti baik\-baik saja kok," ucap Gio yang berusaha menenangkan Luna.
"Tapi Leon sudah lama pergi!" jawab Luna yang begitu khawatir.
"Itu Leon sudah kembali," tunjuk Rafka saat Leon berhasil kembali dengan membawa tas Luna.
"Kan apa ku kata Leon pasti kembali," ucap Gio tersenyum.
"Nah tas kamu," ucap Leon setelah memberhentikan motornya.
"Terimah kasih," jawab Luna senang.
"Coba deh di cek, siapa tau ada yang hilang."
"Cuma ponsel doang kok," jawab Luna setelah memeriksa tasnya.
"Aku akan pergi mengambilnya."
"Gak usah, yang penting dua kotak ini masih ada. Ponsel masih bisa aku beli yang baru," ucap Luna menahan Leon untuk pergi kembali.
"Kalau begitu aku harus pergi," sambung Luna berjalan masuk kedalam mobil.
"Hati\-hati," jawab Leon tersenyum.
"Sampai ketemu di kampus besok!" ucap Gio sembari melambaikan tangannya.
"Wah Leon kau begitu keren," puji Gio.
"Udah yok kita pulang!" ajak Leon.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Sementara itu Luna baru saja sampai di perusahaan ayahnya, Doni langsung berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk Luna.
"Kakak sama Adrian ada?"
"Kalau Tuan Adrian tapi izin pulang lebih awal, tapi kalau Tuan Juna. Katanya ingin bertemu Bos muda," jelas Bayu.
"Kakak ingin bertemu ku?" tanya Luna tampak bingung.
"Iya," jawab Bayu singkat.
"Kapan kakak pergi?"
"Sekitar dua jam lalu."
"Nomornya bisa di hubungi?" tanya Luna yang bingung.
"Karena Tuan Juna ingin bertemu Bos muda, Jadi saya tidak menghubunginya."
"Kakak ingin bertemu ku sekitar dua jam lalu?" tanya Luna yang mencoba mengingat kembali, saat Luna sedang kecopetan dan Leon berhasil membawa tas Luna kembali, walau ponsel Luna hilang.
Dua jam sebelum kejadian.
Juna sedang sibuk memeriksa berkas\-berkas yang diberikan Bayu, tiba\-tiba ponsel Juna berdering.
"Tumben Luna nelpon," ucap Juna tersenyum sembari mengakar telpon dari Luna.
"Ya hallo Luna," jawab Juna.
"Adikmu Luna sedang bersama ku saat ini, jika kau ingin adikmu selamat. Maka kau harus datang sendiri ke tempat ku, jika aku tau ada yang mengikuti mu. Maka adikmu Luna akan ku bunuh, aku akan mengirimkan alamatnya melalui SMS!" ancam Farlan sembelum mematikan ponselnya.
"Halo\-halo!" panggil Juna beberapa kali.
"Sial!" ucap Juna yang langsung percaya perkataan Farlan.
Kring!
Juna langsung membuka pesan yang dikirimkan Farlan melalui ponsel Luna.
"Luna bersabarlah aku akan datang!" ucap Juna yang langsung bangun dari kursi dan pergi meninggalkan ruangannya.
"Tuan Juna mau kemana?" tanya Bayu saat Juna berjalan terburu\-buru menuju lift.
"Aku akan bertemu dengan Luna di luar!"
"Berhati\-hatilah tuan," ucap Bayu tanpa rasa curiga.
Beberapa lama kemudian Adrian datang mencari Juna.
"Pak Bayu, Arjuna ada?"
"Tuan Juna baru saja pergi menemui Bos muda," jelas Bayu.
"Ohw, kalau begitu aku izin pulang dulu." Ucap Adrian yang juga tampak terburu\-buru.
"Baiklah Tuan," jawab Bayu singkat.
Sementara itu Juna mengaktifkan GPS, untuk mempermudahkan Juna menuju tempat Luna ditahan. Juna menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan kantor, Juna tidak berfikir kalau ini hanya jebakkan. Juna melihat sebuah mobil hitam yang dari tadi mengikuti Juna, tapi Juna tak menghiraukannya dan menambah kecepatan mobilnya menuju Luna. Setelah hampir satu jam berkendara, Juna pun akhirnya sampai ditempat bangunan yang sudah lama ditinggalkan, yang begitu terpelosok dan jauh dari kota. Juna pun keluar dari mobil dan melihat orang yang membututinya tadi menghampiri Juna.
"Ikuti saya!" ucap orang itu yang tak lain Teo tangan kanan Farlan, Juna pun mengikuti Teo masuk kedalam bangunan itu dengan jantung deg\-degan.
"Apakah adik saya baik\-baik saja?" tanya Juna penasaran.
"Jangan banyak tanya!" jawab Teo dengan nada dingin.
"Adikkmu ada disana!" ucap Teo sembari menunjuk ke bawah ruang tanah.
"Adik saya benar\-benar ada disana kan?" tanya Juna yang mulai curiga.
"Kau ingin adikmu selamat apa?" ucap Teo yang malah balik bertanya.
"Tentu saja!"
"Adikmu sedang berada dengan Bos ku disana. Aku hanya bisa mengantarkan mu sampai disini," ucap Teo sebelum pergi meninggalkan Juna.
"Huft!" tampa sadar Leon menghela nafasnya bsebelum berjalan turun dari tangga, tiba\-tiba Leon merasa ada yang mengikutinya dari belakang.
"Aneh?"