
Leon pun memutuskan untuk melihat kebelakang dan m gelihat mengayunkan batu bata kekepala Juna hin gv. gga pingsan. Juna pun dibawa turun kebawah Teo dan diikat diatas kursi.
"Dasar bodoh!" ucap Teo menatap Juna yang sudah dipenuhi darah di wajahnya.
"Kerja bagus Teo!" ucap Farlan sembari memberikan tepuk tangan untuk Teo.
"Terimah kasih Bos," jawab Teo menudukkan kepalanya.
•~~~•
Dilain waktu perasaan Luna mulai tidak enak tentang Juna.
"Pak Bayu pinjamkan aku ponsel mu," ucap Luna yang merasa kalau ini perbuatan Farlan.
"Baik Bos muda," jawab Bayu sembari memberikan ponselnya kepada Luna.
"Aku akan menyetir sendiri," ucap Luna kepada Doni.
"Bos muda mau kemana?" tanya Doni bingung, karna tiba-tiba Luna ingin membawa mobil sendiri.
"Aku akan menyuruh anak buah ku menjemput kalian!" ucap Luna sebelum menutup pintu mobil, Luna pun lansung pergi meninggalkan kantor dengan kecepatan tinggi.
"Halo Adrian!"
"Kenapa ponsel Pak Bayu ada sama kamu?"
"Itu tidak penting sekarang. Yang lebih penting nyawa kakak ku dalam bahaya sekarang!"
"Maksudmu?" tanya Adrian tak mengerti.
"Sepertinya Kak Juna masuk kedalam jebakkan Farlan!"
"Baik Luna aku mengerti!" jawab Adrian sebelum menutup telponnya.
"Ibu, Raisa sepertinya aku harus pergi. Ada hal yang medesak terjadi di kantor!"
"Baiklah Adrian," jawab Tania tersenyum.
"Hati-hati kak!" teriak Raisa saat Adrian sampai di pintu, Adrian hanya membalas dengan anggukkan dan bergegas menuju mobilnya.
"Bintang, kumpulkan semua anggota. Aku akan mengirimkan lokasinya!"
"Baik Adrian, aku mengerti!" jawab Bingtang menutup telponnya.
"Kumpulkan semua orang. Kita punya tugas!" ucap Bintang pada salah satu anggota Geng Zurrah.
"Baik!" jawab anggota Geng Zurrah berlalu pergi.
"Ini aku Luna Azzurah!" ucap Luna yang sedang menelpon Farlan.
"Aku kira kau tak akan menelpon ku!"
"Aku tau Kakak ku sedang bersama mu saat ini. Jika kau berani menyentuh sehelai rambut Kakak ku kau akan mati Farlan!"
"Coba saja kalau kau bisa!" jawab Farlan sembari memeritahkan anak buahnya untuk menyakiti Juna, anak buah Farlan pun lansung memukul kaki Juna dengan besi.
"Aaaakkhhh..." Teriak Juna yang begitu kesakitan.
"Mungkin sebelum kau sampai disini kakak mu sudah K.O!" ucap Farlan tersenyum devil sembari mematikan teleponnya.
"Awas kau Farlan!" ucap Luna marah sembari membating ponselnya. Luna pun lansung menabah kecepatan dan melaju begitu cepat menuju tempat Farlan.
Dilain waktu Adrian sedang mencoba menghubungi Luna, Adrian takut Luna akan berbuat nekat sebelum dirinya dan para anak buah lainnya sampai.
Sementara itu Luna baru saja sampai, Luna melihat mobil Juna terpakir tak jauh darinya. Luna pun lansung mengambil dua senjata api ilegal dan sebuah pisau dan beberapa peluru yang disimpan Luna didalam tempat duduk. Luna pun memakai baju anti peluru dan meletakan senjata apinya di kaki kiri.
"Huft!" Luna menghela nafasnya sebelum keluar dari mobil. Luna pun memutuskannya masuk ke dalam bangunan itu sendiri, tampa menunggu Adrian dan anak buahnya. Luna berjalan masuk ke dalam bangunan dengan penuh waspada, sembari memegang senjata api di tangan kanan dan pisau ditangan sebelah kiri. Ternyata kedatangan Luna sudah ditunggu oleh Teo dan beberapa anak buah Teo lainnya.
"Kenapa kau datang sendirian?" tanya Teo tersenyum sinis.
"Bukan urusan mu!"
"Baiklah satu lawan sepuluh!" jawab Luna yang sudah bersiap menerima serangan dari anak buah Teo.
"Jika aku ingin menang maka aku harus menjadi gila seperti mereka!" batin Luna tersenyum sinis, saat Luna di serang oleh para anjing gila. Bagi Luna ini adalah hal biasa, Luna mengagap ini seperti sedang berlatih.
"YEAA ...!" teriak Luna keras sembari berlari menuju anak buah Farlan yang begitu menganas, semua serangan dari parah anak buah Farlan berhasil ditangkas Luna.
Slup!
Slup!
Luna melukai salah satu tangan anak buah Farlan dengan pisau, saat Luna sibuk menusukkan pisau ke dalam dada anak buah Farlan. Tiba\-tiba anak buah Farlan mencoba memukul Luna dengan besi, dengan sigap Luna melepaskan pelurunya tepat di kepala anak buah Farlan.
"AKU TIDAK PUNYA WAKTU MENGHADAPI KALIAN!" teriak Luna marah seraya menebak seluruh anak buah Farlan, dalam beberapa menit Luna berhasil membunuh semua anak buah Farlan. Mata Teo lansung membesar saat melihat Luna berhasil mengalahkan anak buahnya.
"Luna!" panggil Adrian yang baru datang bersama anggota Geng Zurrah dan beberapa anak buah Luna
"Teman\-teman kalian bantu Luna mencari Juna," titah Adrian kepada anak anggota Geng Zurrah.
"Baik ketua," jawab anggota Geng Zurrah serentak.
"Kalian dan aku akan menghadapi \*\*\*\*\*\*\*\* itu!" ucap Adrian seraya menatap tajam ke arah Teo yang sedang berdiri dengan anak buahya.
"Adrian aku serahkan Dia padamu!" ucap Luna sembari belari menaiki tangga satu persatu dengan diikuti anggota Geng Zurrah, dalam perjalanan menuju lantai atas. Luna harus bertemu dengan anak buah Farlan yang sudah menunggu kedatangan Luna.
"Bos muda kami akan menghadapi mereka!" ucap anggota Geng Zurrah yang berusaha memberi Luna jalan untuk menuju lantai atas.
"JANGAN HALANGI AKU!" bentak Luna saat anak buah Farlan berusaha menghalangi Luna, seraya menusukan pisau kedalam tubuh anak buah Farlan hingga mereka terjatuh. Luna bagaikan Singa betina yang sedang terluka, Luna lansung menusuk atau menembak orang\-orang yang mencoba menghalanginya untuk menyelamatkan kakaknya. Tak ada yang bisa menghentikan Luna, dengan lihai Luna menggunakan pisaunya untuk menusuk bahkan mencabik\-cabik tubuh musuhnya atau memotong urat nadi musuhnya. Begitu banyak darah segar, saat musuh\-musuhnya tumbang.
PLAK!
Luna memeritahkan anggota Geng Zurrah untuk menjadi mendobrak pintu, hingga menimbulkan bunyi yang saat keras. Saat pintu terbuka, Luna melihat beberapa anak buah Farlan yang sudah siap menunggu kedatangan Luna Azzurah atau lebih dikenal Bos Muda. Yang lebih mengerikan lagi Luna melihat Juna yang sedang diikat dengan tali diatas kursi, dengan wajah yang penuh darah.
"Akhirnya kau datang juga!" ucap Farlan tersenyum seraya memberikan tepuk tangan.
"Beraninya Kau melukai kakak ku!" jawab Luna geram.
"Akan ku lakukan apapun demi menguasai harta ayahmu!" jawab Farlan sembari duduk disamping Juna yang sudah tak berdaya.
"Kau akan menyesal telah membuatku marah!" ucap Luna dengan mata yang sudah merah.
"Aku tidak peduli," jawab Farlan tersenyum devil. "Bunuh Dia!" titah Farlan kepada anak buahnya.
Dengan senjata api ditangan kanannya dan sebuah pisau di tangan kirinya yang siap mencabik\-cabik tubuh anak buah Farlan.
Bagaikan sebuah perang yang terjadi, Luna dan anggota geng Zurrah melawan musuhnya dengan gagah berani. Luna menembak dan mengoyak tubuh anak buah Farlan, tampa merasa ngeri. Darah berceceran dimana\-mana, anggota Geng Zurrah mulai tumbang satu persatu, karna begitu banyak anak buah Farlan. Dilain waktu Adrian mulai kewalahan menghadapi anak buah Farlan dan Teo, namun Adrian dan anak buahnya tidak putus asa untuk menang dalam pertarungan ini. Begitu pun Luna dan anggota Geng Zurrah yang masih mencoba untuk kuat.
"Percuma kau menghadapi orang\-orang ku. Pada akhirnya cuma nama kau saja yang tinggal!" ujar Farlan tersenyum sinis saat melihat anggota Geng Zurrah terbaring lemah diatas lantai. Mendengar perkataan Farlan, Luna mulai tidak bisa menguasai amarahnya yang meluap seperti api.