
Setelah sekian lama Naura menangis di dalam pelukan Axio dan melampiaskan semua kesedihanya selama 5 tahun hidup sendiri mengurus kedua anaknya, kini Naura menyeka kedua air matanya.
Ia menjauh dari tubuh Axio yang sejak tadi memeluknya, Naura baru tersadar bahwa dirinya salah. Dia tidak boleh berada di dalam pelukan pria yang sudah beristeri.
“Maaf, aku—“
“Tidak apa-apa, aku mengerti.” Ucap Axio yang juga ikut bersedih melihat wanita yang pernah ia rusak masa depanya karena keinginan dirinya yang sesaat.
Mereka berdua pun duduk sambil menunduk, keduanya berdoa untuk kesembuhan anaknya.
Sementara di tempat itu ada Dion dan juga Boy yang sedang menggendong Abang Tian, mereka bertiga menyaksikan kedua orang yang kini sibuk dengan pemikiranya masing-masing.
“Abang, kenapa diam saja?” Tanya Boy yang sudah lebih akrab dengan Tian karena sejak tadi ia banyak mengobrol tentang kegiatanya selama ini tanpa adanya seorang Ayah.
Abang Tian menatap ke arah Boy. “Abang sedih, abang ingin Ale cepet sembuh dan kita berempat hidup bahagia.” Ucap Abang Tian dengan kedua bole mata yang susah memerah, bahkan hidung dan pipi bulatnya juga ikut memerah.
“Kalau begitu, peluk lah kedua orang tuamu. Mereka sedang membutuhkan semangat dari Abang.” Ucap Boy sambil berjongkok dan membiarkan Abang Tian tuurn dari gendonganya.
Abang pun berlari.
Sementara Boy kini menatap Dion yang juga sedang menatap dirinya. “Aku sadar aku yang sudah melakukan kekacauan ini,” ucap Boy.
Dia sangat sadar diri, jika apa yang terjadi di depanya adalah ulah dirinya sendiri.
“Bagaimana dengan Nyonya Bella?” Tanya Dion pada Boy.
“Heii, aku emang salah. Tapi masalah itu bukan urusanku,” ucap Boy kesal.
“Tapi, kamu yang sudah melakukan kekacauan ini.” Ucap Dion lagi.
“Hah, kalau begitu Axio hanya tinggal memilih tetap bersama Bella, atau meninggalkan Bella dan bersama mereka.” Ucap Boy tanpa solusi.
“Mommy, Daddy…” panggil Abang sambil merentangkan tangan berlari ke arah keduanya.
Axio dan Naura langsung menyambut dan memeluk Abang, mereka bertiga saling berpelukan terlihat seperti keluarga kecil.
“Mommy jangan sedih, Ale sudah janji pada Abang jika dia akan sembuh.” Ucap Abang sampai membuat Naura kembali menangis.
Axio mengelus pucuk kepala Naura. “Jangan sedih, aku yakin Ale kuat dan kembali dalam keadaan sehat.” Ucap Axio lembut dengan hati yang juga gelisah menunggu Ale selesai operasi.
Bohong jika Naura bilang diirnyaa tidak sedih melihat anaknya sendiri terbaring lemah di sana, rasanya ingin dirinya menggantikan tubuh ale yang sakit.
“Tuan, ada panggilan untuk mu.” Ucap Dion tiba-tiba menyela di tengah ketegangan itu.
Naura langsung mengambil Abang dari pangkuan Axio, pria itu langsung menerima ponsel yang di berikan Asistenya lalu pergi menjauh dari tempat itu.
“Iya sayang, ada apa?” Tanya Axio, sejujurnya ia tidak ingin menerima panggilan sang isteri, namun agar tidak membuat Bella curiga Axio mau tidak mau harus menerima telpon darinya.
“Sayang, aku di kantormu. Kenapa kamu tidak ada di sini? Kamu juga tidak membalas pesanku?” Tanya Balla kesal karena sudah jauh-jauh datang ke kantor suaminya, ia malah tidak bertemu dengan pria itu.
“Aku sudah kirim hadiah ke kantor mu, 3 hari kedepan aku ada dinas luar kota. Tidak masalah kan aku pergi?” Ucap Axio, Bella yang hendak marah tiba-tiba tersenyum saat mendengar suaminya mengirim hadiah. Walau sejujurnya ia marah karena Axio pergi tanpa berpamitan denganya, tapi itu ssuatu yang sudah biasa pikirnya.
Axio lalu menatap Dion yang ada di depanya. “Beli hadiah untuk Bella, sebelum dia sampai di kantornya.” Ucap Axio dengan datar dia hendak melangkah pergi namun Dion menghentikan langkahnya.
“Hadiah apa tuan? Kenapa anda baru bilang sekarang.” Keluh Dion karena lagi-lagi Axio selalu membuatnya melakukan hal-hal genting di saat waktu yang minim ini.
“Tas, Diamont atau apapun itu yg dia suka.” Ucap Axio lalu melanjutkan jalanya.
“Tuan, anda bahkan tidak tau benda apa yang Nyonya suka!” Pekik Dion kesal. Dia lalu menepuk jidatnya dan berbalik untuk segera berlari, yang ada di otaknya hanya pergi untuk mendapatkan apa yang dia lihat.
“Ay…” panggil Bibi Nur.
“Bibi, bagaimana ini.” Ucap Axio yang sebenarnya sangat rapuh, dia tidak bisa menangis di depan Naura dan di depan anaknya.
Axio sangat sedih kemarin malam bahkan dia menangis di pelukan wanita paruh baya yang sudah puluhan taun melayani keluarganya, ia bahkan belum bisa bicara dengan kedua orang tuanya mengenai anaknya.
“Yang sabar, kamu harus kuat. Kamu sekarang seorang Ayah, kamu harus lebih kuat dari Naura dan Abang Tian.” Ucap Bi Nur dia kembali memeluk Axio seperti cucunya sendiri.
“Andai aku—“
“Sudah, berhentilah mengeluh. Jangan pernah katakan hal yang tidak masuk akal, di mana semangat mu saat kamu bahagia mendengar jika kamu punya dua anak Ay?” Tanya Bi Nur kembali mengingatkan dirinya saat Axio semangat menceritakan kedua anaknya dengan bangga di depan Bi Nur.
axio mengangguk, ia kembali berdiri tegak dan menatap Bi Nur.
“Untuk saat ini kamu hanya perlu berada di samping kedua anakmu, pokus lah mengurus kedua anakmu dengan baik Ay, karena kamu sekarang seorang ayah.” Ucap Bi Nur lagi dengan lembut ia menyeka air mata yang keluar dari sudut mata Axio.
Dia tidak menyangka jika anak kecil yang dulunya sangat susah di dekati, kini menangis di depaan matanya.
“Anak mu sangat cantik dan tampan seperti ayahnya.” Ucap Bi Nur membuat Axio tersenyum lebar.
“Ku bilang apa, mereka sangat mirip denganku. Mereka lucu dan menggemaskan,” ucap Axio.
“Kau benar Ay, bibi percaya.” Ucapnya.
“Daddy…” panggil Abang yang berjalan dengan terburu-buru, dengan cepat Axio segera berjongkok untuk menyambut Abang dan menggendongnya.
“Ale sudah selesai operasi, dia akan di bawa ke ruangan lain.” Ucap Abang, Axio pun langsung bergegas pergi untuk menemui putrinya.
Setelah berjam-jam menunggu akhirnya Axio merasa tenang mendengar Ale sudah keluar dari ruang operasi.
“Di mana Mommy mu?” Tanya Axio.
“Dia lebih dulu menemani Ale, Abang di suruh menemui dan memberi tahu Daddy.” Ucap Abang dan langsung mendapat ciuman di pipi tembam Abang.
“Daddy sayang sama Abang.” Ucap Axio selama perjalanan menuju kamar Ale mereka berdua sempat melontarkan rasa sayangnya.
“Abang juga sayang Daddy, makasih sudah kembali untuk kami.” Ucap Abang, membuat dada Axio kembali terasa nyeri.
.
To be continued…