
Naura menatap wajah memohon Axio, ia lalu menatap lenganya yang di di genggam calon suaminya itu.
“Maaf, belum waktunya kita tidur bersama. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang kedua kalinya.” Ucap Naura, dulu ia sangat menyesal karena tidak mendengarkan apa kata orang tuanya.
Naura terlalu banyak di kekang dan di paksa fokus pada bidangnya saja, ia tiap hari hanya bertemu dengan para pelatih dan terus berlarih menjadi seorang Ballerina. Karena itulah Naura merasa muak dan kabur hanya untuk menikmati masa mudanya dan terbebas dari kehidupanya yang hambar.
Namun orang tuanya benar, kehidupan malam tidak cocok untuknya. Sampai membuat Naura langsung jatuh cinta saat pertama kali berkenalan dengan Axio, Naura tidak menyangka satu malam yang ia habiskan bisa membuat masa depannya rusak.
Tapi yang jelas kini ia tidak menyesalinya lagi, Naura justru akan lebih menyesal jika saat itu ia mengikuti ucapan Ibunya untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam kandunganya.
“Apa yang kamu pikirkan Nau?” Tanya Axio sambil memasang wajah bingung. “Aku hanya memintamu menemaniku sampai tertidur, aku ingin berbicara dengan mu. Apa kamu tidak ingin tau apa yang terjadi padaku tadi?” Tanya Axio sambil menahan tawanya sekuat tenaga.
Naura terlihat salah tingkah, dia mengira jika Axio ingin tidur denganya.
“Kemarilah.” Ucap Axio sambil menarik tubuh Naura sampai terduduk di tepi ranjang, Axio pun menyenderkan kepalanya di pangkuan Naura. “Kenapa kamu tidak menghubungiku setelah hari itu?” Tiba-tiba Axio menanyakan pertanyaan yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.
“Bagaimana caranya aku menghubungi pria yang baru ku kenal? Tapi ku pikir itu hanya malam tak berarti untuk mu, jadi untuk apa aku menghubungimu.” Ucap Naura jujur.
“Aku menyimpan kartu namaku, dan menunggu kabar darimu.” Ucap Axio yang sejak tadi menatap Naura dari bawah. Sumpah di lihat dari sudut manapun Naura tetap cantik, walau tubuhnya tidak sekurus dan seramping dulu tapi kecantikan wanita ini tetap terpancar, pikir Axio.
“Maaf… aku ingin mengatakan maaf padamu pagi itu.” Ucap Axio. Namun karena waktu yang tidak memungkinkan ia malah lebih memilih pergi dan meninggalkan Naura yang masih tertidur.
“Itu bukan salahmu Kak, aku berterima kasih karena sudah menolong anakku.” Ucap Naura dengan jujur. Ia sudah tidak mempermasalahkan masa lalunya. Sekarang Naura hanya ingin melihat masa depan kedua anaknya.
“Anakku juga.” Ucap Axio sambil menarik tengkuk leher Naura dan mencium bibir wanita itu.
Sementara di depan gerbang rumah mewah itu, sejak tadi Bella duduk di dalam mobil sambil menatap hunian yang tidak kalah mewahnya dengan rumahnya yang di tempati dirinya dan suaminya itu, dadanya terasa panas dengan rahang yang mengeras.
“Sialan kau Axio! Benarni-beraninya kau menghianatiku!” Pekik Bella.
Bella merasa menyesal karena dulu saat tau diirnya akan di jodohkan dengan Axio, dia meninggalakn begitu saja pria yang menjadi kekasihnya hanya untuk seorang Axio yang menjadi incaran teman-temanya.
“Akan ku balas semua perbuatan yang kalian lakukan padaku!” Pekik Bella dengan kesal. Ia segera melajutkan mobilnya dan mengendarai dengan kecepatan tinggi.
.
To be continued…