
“Ya ampun kak, aku tidak mungkin melukai keponakanku sendiri.” Ucap Bee dengan mata menyipit menatap sang kakak.
Naura terkekeh pelan melihan interaksi adik dan kakak itu, hatinya senang karena Brisea menganggap anaknya sebagai keponakanya sendiri.
Naura lalu menatap ke arah Axio. “Kamu tenang saja, dia sudah tau semuanya.” Ucap Axio. Naura hanya mengangguk.
“Jadi siapa nama kalian anak manis?” Tanya Bee sambil mengelus kedua kepala keponakanya.
“Abang Tian, Aunty bisa panggil aku itu.” Ucap Abang sambil tersenyum manis.
“Namaku Ale, Aleya. Aunty suka permen?” Tanya Ale.
“Tentu saja suka, apa kalian di larang makan permen oleh Daddy mu?” Tanya Bee karena mengingat sikap diaiplinya pria itu sudah pasti dia akan bersikap keras pada kedua anaknya.
“Tidak, kami tidak pernah di larang apapun oleh Daddy.” Ucap Abang. Ale mengangguk.
Bee menganga ternyata dugaanya salah, ia pun menggandeng kedua anak itu untuk mendekat dan duduk di bergabung dengan Axio dan Naura yang sejak tadi duduk di sofa.
“Kak kenapa anakmu menggemaskan? Sikap mereka tidak ada yang mirip denganmu.” Ucap Bee sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa dan mengangkat satu per satu anak itu untuk duduk di sampingnya.
“Memangnya sikap seperti apa Daddy?” Tanya Abang Tian yang terlihat penasaran.
Bee tersenyum dengan mata berbinar, ia sangat ingin membicarakan hal jelak dari sifat kakaknya namun di urungkanya karena melihat kedua anak ini masih kecil. Bee berdoa semoga sifat jelek kakaknya tidak ada yang menurun dari kakaknya.
“Daddy mu itu pendiam saat seumuran kalian, dia bahkan gengsian. Daddy kalian jarang main bersama Aunty Bee dan Om Cyi, dia hanya main dengan buku-buku saja karena dia sangat suka membaca.” Ucap Bee sampai membuat kedua anak itu tertawa.
“Aunty yakin kalo Daddy mainya sama buku?” Tanya Ale sambil terkekeh menertawakan Daddynya yang kini hanya mengulum senyum menatap interaksi kedua anaknya dengan Bee.
“Tentu saja, nanti kalau Daddy kalian banyak melarang ini dan itu bilang saja sama Aunty biar Aunty yang bujuk Daddy kalian yah.” Ucap Bee.
“Mommy mau kemana?” Tanya Ale saat Naura berdiri dari duduknya.
“Mom mau buat kue dulu untuk Aunty Bee.” Ucap Naura.
“Abang ikut Mom, Abang mau bikin juga buat Aunty.” Ucap Abang sambil berlari mendekati Mommy nya.
“Ale juga mau ikut, Aunty tunggu yah. Roti buatan Ale sangat enak Aunty harus mencobanya.” Ucap Ale dia lalu mencium pipi kanan Aunty Bee.
“Iya sayang, Aunty tunggu.” Ucap Bee.
Mereka bertiga pun turun ke bawah, untuk membuat roti dengan tangan mereka sendiri. Karena biasanya Ale dan Abang memenag suka membantu Naura untuk membuat roti di tokoknya.
Dulu toko roti itu di kelola langsung oleh Naura dan di bantu April pegawai yang kini menjadi sahabatnya, tapi semenjak Ale sakit Naura merekrut lagi pegawai untuk membantu April.
Sementara di ata bangunan tokok roti itu, kini Bee mulai berbicara dengan serius bersama Kakaknya.
“Ada apa? Kenapa kamu menatap ku begitu?” Tanya Axio heran karena bukanya berbicara, Bee malah menatapnya dengan lekat sejak tadi.
Bee sendiri sedang memantapkan hatinya, ia tidka mau salah bicara dan salah langkah dengan apa yang akan ia ucapkan.
“Katakanlah Bee, kangan membuatku kesal.” Ucap Axio mulai emosi.
“Aku ingin Kakak segera menikah dengan Naura.” Ucap Bee dengan wajah seriusnya.
.
To be continued…