My Beautiful Mom

My Beautiful Mom
MBM 6



Tidak peduli berapa banyak Axio harus mengeluarkan uang untuk segera mendapatkan hasil DNA, dengan kekuasaan dan uang yang ia miliki kini pria itu tengah melihat hasil DNA.


Mata Axio bergetar, dadanya berdegup sangat kencang. Ia sangat terkejut, walau sudah sangat jelas jika kedua anak itu sangat mirip denganya. Tapi tetap saja Axio masih benar-benar terkejut melihat hasilnya.


Bersama isterinya saja dia belum pernah membayangkan memiliki seorang anak, apalagi dari wanita lain yang pernah singgah di masa lalu walau hanya pertemuan satu malam.


“Selamat Ay, ternyata kamu sudah punya dua anak.” Ucap Sean sambil tersenyum memperlihatkan hasilnya.


Axio mengangguk masih dengan menatap hasil DNA itu dengan hati yang hangat.


“Tuan…” panggil April yang kini berdiri di belakangnya.


Axio dan Sean lalu menoleh ke sumber suara.


“Apa anda bisa menemui Aleya sebentar? Aku tau anda sibuk, tapi dia…” April menjeda ucapanya saat melihat raut wajah hawatir pria itu.


“Apa? Ada apa? Kenapa dengan Aleya??” Tanya Axio bertubi-tubi, namun kini pria itu tidak menatap lagi April, dia dengan segera berlari ke arah lorong di mana ruang inpa Aleya berada.


April menatap lembar kertas yang berserakan di lantai, ia dengan segera berjongkok mengambil ketas itu. Namun Asisten pribadi Axio dengan cepat menarik kertas itu di tangan April.


“Maaf Nona, berkas ini milik Tuanku.” Ucapnya lalu dia berdiri dengan berkas yang sudah ada di tanganya.


April mengerutkan keningnya tidak terima, dia pun ikut berdiri dan langsung merebut kembali berkas itu.


“Ada nama keponakanku di sana! Aku harus melihatnya!” Tegas April dengan mata tajamnya, karena kecurigaanya sejak tadi rupanya bukan hanya kecurigaan. Ternyata Aleya benar anak kandung dari pria itu, April tersenyum saat melihat hasil tes DNA itu.


Sementara Axio kini membuka pintu tanpa permisi, dengan perasaan yang sudah tak menentu. Ia takut jika sesuatu terjadi pada anaknya, Axio tidak memperdulikan Naura yang sudah mengancamnya.


Dia lebih takut jika tidak bertemu dengan anaknya, Axio sudah bertekad untuk mendampingi kedua anaknya dalam susah dan senangnya mereka dan mengganti semua waktu yang pernah ia lewatkan dengan kedua anaknya.


“Aleya!” Panggil Axio yang kini berdiri dengan nafas yang terengah-engah. Ia hanya melihat Naura dan Cristian yang saling berpelukan, lalu kedua orang itu menatap Axio dengan bingung.


“Daddy?” Panggil Aleya yang mengintip dari celah tubuh kedua orang yang memeluknya.


Naura langsung terkejut mendengar anaknya memanggil Axio dengan sebutan Daddy, begitu juga dengan Axio yang kini hatinya sedang berdebar dan merasa hangat dengan panggilan itu.


“Ale, dia bukan—“


“Iya Ale, aku Daddymu.” Ucapan Naura terhenti karena dengan cepat Axio mengiyakan ucapan anaknya.


Sementara Cristian tertegun sambil menatap datar ke arah Axio yang kini berjalan mendekati Ale.


Naura menarik lengan Axio yang hendak memeluk anak perempuanya itu. “Axio.” Dengan tegas Naura memperingati pria itu.


“Maaf Naura, aku akan bicara dengan mu nanti. Ijinkan aku memeluk Aleya,” ucap Axio dengan wajah sendunya, lalu Naura menatap ke arah Ale.


Naura pun akhirnya memalingkan wajahnya dari kedua orang itu dan mundur satu langkah.


Axio yang melihat Naura mengijinkanya dirinya untuk memeluk Aleya, dengan segera ia memeluk anak perempuanya.


“Daddy? Kamu Daddyku kan.” Ucap Aleya sudah sangat yakin saat pertama kali melihatnya, karena wajah pria ini sangat mirip dengan kakaknya.


Dulu Aleya pernah bertanya pada April kenapa wajah dirinya dan Kakaknya  tidak mirip dengan Mommynya, dan April menjawab mungkin saja wajah keduanya mirip dengan Daddynya.


Karena itulah dia sangat yakin.


“Daddy bukan ayah.” Ucap Aleya lagi.


“Iya tapi…” ucapnya sambil menatap Naura, Axio takut jika Naura tidak mengijinkan anaknya memanggil dengan panggilan sepasang dengan wanita itu.


Naura hanya mengangguk dengan dada yang terasa nyeri, namun jujur dia juga sangat senang karena Aleya akhirnya bisa tersenyum dengan sangat lebar melihat Ayah biologisnya.


Cristian mendekati Mommynya yang sedang berdiri lalu memeluk kaki wanita itu. Cristian tau jika Mommynya sedang bersedih, Naura pun tersenyum dan menggendong Cristian.


“Mommy tidak apa-apa sayang.” Ucap Naura lalu mereka berdua memperhatikan lagi percakapan Aleya dan Daddynya.


“Ale senang kalena ahilnya bisa ketemu sama Daddy. Ale takut Ale gak bisa ketemu Daddy—“


“Jangan berbicara seperti itu Ale, mulai sekarang Dad akan ada di sisi kalian berdua. Jadi Ale harus semangat besok Ale harus operasi, Ale sudah siap untuk sembuh?” Ucap Axio.


Aleya mengangguk. “Tapi Dad janjikan tidak akan pelgi lagi?” Tanya Ale untuk memastikan jiak setelah operasi dia akan tetap bertemu dengan Daddynya.


Axio langsung memeluk tubuh anak itu. “Iya Dad janji.” Ucapnya.


Dia lalu menatap Cristian yang tidak berani mendekatinya. “Apa kamu tidak akan memelukku?” Tanya Axio pada anak laki-lakinya.


Bukanya menjawab tapi Cristian justru malah menatap Mommynya, dia tidak mau jika Mommynya terluka karena dirinya.


Naura tersenyum dan mengangguk lalu menurunkan Cristian dari gendonganya.


“Apa boleh aku memeluk Daddy?” Tanya Cristian yang selalu menjaga hati Mommynya.


“Tentu saja, peluklah Daddymu sebanyak yang  Abang mau.” Ucap Naura sambil mengelus pipi Cristian.


“Terima kasih Mom.” Ucap Cristian.


“Iya sayang, kalian berdua mainlah dengan Daddy. Mom keluar dulu karena harus bertemu dengan dokter.” Ucap Naura.


Cristian mengangguk, lalu berlari ke arah Axio dna memeluk Daddynya. Sementara Naura langsung pergi keluar sambil berusaha menahan tangisan yang sejak tadi berusaha keras tidak di perlihatkan di depan kedua anaknya.


Naura langsung menangis saat melihat April, dia memeluk sahabatnya yang kini membalas pelukanya.


April tidak bertanya apapun, dia hanya mengelus-elus punggung sahabatnya. Dia tau betul jika Naura selama ini takut jika kasih sayang anaknya terbagi dengan pria itu. Dan Naura juga pasti takut jika kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama Daddy nya.


“Cepat atau lambat mereka pasti ingin tinggal bersama Daddynya dan karena aku miskin juga tidak bisa mengurus anakku pasti Axio mengambil paksa kedua anakku.” Ucap Naura dengan tubuh bergetar, ia sangat ketakutan.


Selain kedua anaknya tidak ada lagi keluarga Naura, karena ibunya sudha mengusir dirinya yang lebih memilih membesarkan kedua anaknya.


“aku harus bagaimana, April?” Tanyanya dengan air mata yang sudah berlinang, dia menatap sahabatnya serius.


“Kamu hanya perlu berbicara baik-baik, jangan melarangnya mendekati anakmu. Semakin di larang dia akan semakin berontak.” Ucap April. “Anakmu juga butuh kasih sayang seorang ayah, kamu hanya perlu membujuk Axio agar tidak membawa kedua anakmu.


.


To be continued…


Yang pengen liat kelakuan Axio pas masa kecilnya bileh mampir di Novel Duda lebih menggoda