
Naura sangat bersedih, karena dirinya lah Ale jadi histeris. Andai saja ia hanya diam menuruti apa yang Axio mau, andai saja mereka berdua tidak bicara di depan kedua anaknya.
“Maaf, maafkan Mommy Nak.” Ucap Naura dengan terisak. Ia mencium kening Ale yang sudah jauh lebih tenang, Ale hanya menatap Mommy nya dengan tubuh yang lemas.
Axio hanya menatap sedih ke arah kamar dengan pintu yang terbuka, ia melihat Abang Tian dan Naura yang juga ikut bersedih dengan kondisi Ale.
“Saran ku cuma satu, Ay.” Ucap Sean, Axio pun menatap ke arah Sean yang sedang berkemas karena ia sudah selesai menjalankan tugasanya.
Sean berdiri dan menatap sahabatnya, ia menepuk pelan punggung pria itu.
“Kamu hanya perlu memberikan apa yang dia mau, Ale masih kecil dia tidak akan bisa memahami kondisi kalian yang memang bukan suami isteri. Karena yang dia tau kalian adalah kedua orang tuanya.” Ucap Sean.
“Hanya tidur bersama? Kamu bahkan bisa menikahi Naura demi anak-anakmu bukan?” Tanya Sean lagi. “Lalu kenapa jika kalian tidur bersama? Kalian sudah punya anak, bukan kah tidur berempat bukan masalah bagi pria dan wanita dewasa seperti kalian berdua?”
Ya beberapa menit yang lalu saat Ale selesai di periksa oleh Sean, anak itu meminta hidup seperti anak-anak lainya.
Hidup bersama kedua orang tuanya di atap yang sama.
Naura dan Axio tidak bisa menjawab permintaan Ale, mereka hanya berdiri membeku.
“Iya aku akan mempertimbangkanya.” Ucao Axio akhirnya.
“Demi anakmu, Ay.” Ucap Sean sambil tersenyum. “Aku pulang dulu.” Ucapnya langsung meninggalkan Axio yang masih berpikir.
Axio masuk ke dalam kamar di mana anak-anaknya berada.
“Abang, tolong jaga Ale. Ada yang mau Dad bicarakan dengan Mommy kalian.” Ucap Axio, dia pun mengelus rambut Abang Tian yang sedang mengangguk ke arahnya.
Naura mendongak saat melihat lengan Axio yang terulur kepadanya, Axio tersenyum lalu menarik lembut wanita itu.
Abang Tian memperhatian setiap gerakan yang di lakukan Daddynya, ia tersenyum saat pinggang sang Mommy di rangkul oleh Daddy nya.
“Apa yang kamu lakukan, Kak?” Tanya Naura saat mereka berdua sudah masuk di dalam kamar sebelah.
“Kamu sendiri sengaja tidka menolak karena Abang sedang memperhatikan kita kan?” Tanya Axio, karena dirinya sendiri melakukan itu agar anaknya bisa melihat interaksi Mom dan Dadnya.
“Ada apa?” Tanya Naura tidak mau melanjutkan topik tadi, dia duduk di tepi ranjang di kamar itu.
“Aku ingin mengabulkan apa yang Ale mau.” Ucap Axio sampai membuat Naura terkejut lalu menatap ke arahnya dengan penuh tanya.
“Mengabulkan apa?”
“Tinggal dan tidur bersama layaknya sebuah kekuarga.” Ucap Axio sampai membuat mata Naura membelalak.
“Ta—“
“Tidak ada penolakan! Atau bahkan protes!” Tegas Axio sebelum wanita itu mulai protes. “Aku ingin Ale dan Abang merasakan seperti apa sebuah keluarga, kamu harus mau bersandiwara di depan kedua anak kita.” Pinta Axio.
“Dan…”
Axio menjeda ucapanya untuk menangkap raut wajah ibu dari kedua anaknya itu.
“Jangan pikirkan hubunganku dengan isteriku, kamu hanya harus pokus pada kedua anak kita. Mulai malam ini aku akan tinggal bersama kali, ke depanya juga kita akan berdiskusi bagaimana cara mendidik anak-anak kita dalam segi apapun. Karena lebih baik berdiskusi seperti itu dari pada kau terus menolak semua hal yang mau aku lakukan pada kedua anakku.” Ucap Axio dengan wajah seriusnya.
Naura kembali menundukan kepalanya.
“Jangan menangis di depanku, lebih baik ungkapkan apa yang mengganjal di hatimu lalu kita diskusikan bersama dan cari jalan keluarnya.” Ucap Axio, sangat susah ternyata mengatus seorang ibu di banding mengatur perusahaanya.
“Aku setuju, tapi aku sedikit canggung.” Ungkap Naura jujur, bukankah dia harus mengungkapan apa yang mengganjal di hatinya agar mereka berdua mencari jalan keluarnya.
Axio menarik tubuh Naura dan membuat wanita itu masuk kedalam dekapanya, sementara Naura yang di peluk malah membelalalkan matanya dengan terkejut.
“Bukankah kita pernah lebih dari sekedar tidur?” Ucap Axio, Naura langsung mendorong tubuh itu.
“Kenapa Kakak malah langsung memeluku!” Kesal Naura.
“Itu hanya simulasi, Naura! Aku melakukanya agar kamu tidak canggung dan terbiasa di depan kedua anak kita.” Ucap Axio jujur dengan niatnya. “Lagian di mana sisi Naura yang liar seperti dulu? Kali ini kita hanya berekting saja, kamu pasti bisa.” Ucap Axio dengan frustasi.
“Liar? Aku tidak seliar itu! Bukanya kamu yang lebih liar karena lebih suka bercinta dengan posisi aneh.” Ucap Naura saat mengingat satu malam bersama Axio.
Axio terkejut, karena rupanya Naura masih mengingat kenangan malam itu.
Naura yang baru sadar dengan ucaoanya langsung menutup mukutnya dengan kedua telapak tanganya, sementara Axio kini tersenyum ke arah wnaita itu dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan.
“Jadi kamu masih mengingatnya?” Tanya Axio.
“Tidak! Aku tidak ingat apapun!” Elak Naura dia hendak berbalik untuk pergi meninggalkan Axio, namun ia terkejut saat mendengar suara Abang Ale yang memanggil namanya.
Dengan cepat Naura kembali berlari ke arah Axio dan kangsung memeluk pria itu, Axio yang terkejut hanya bisa diam tanpa membalas pelukan Naura karena Abang Tian sudah ada di depan kamar itu.
“Mom, kalian sedang apa?” Tanya Abang bingung karena melihat Mommy nya yang memekuk Daddy nya.
“Daddy sedang menenangkan Mommy mu, kenapa memanggil Mommy sayang?” Tanya Axio sambil mengelus punggung Naura yang masih memeluknya.
Naura melepaskan peleukan itu, dan merutuki dirinya sendiri dalam hati karena sudah melakukan hal konyol itu.
“Oh iya, Ale tadi manggil Mommy dan Daddy.” Ucap Al teringat Ale.
“Ayo kita temui Ale.” Ajak Naura dengan buru-buru tanpa mau menatap ke arah Axio yang kini sedang mengulum senyum.
“Kamu terlalu angkuh, Naura.” Ucap Axio sembari menyunggingkan bibirnya. Ia pun teringat Ale dan bergegas keluar dari kamar itu untuk masuk ke kamar sebelah.
“Dad, Ale kila Deddy sudah pelgi.” Ucap Ale saat melihat Axio masuk ke dalam kamarnya.
Naura melirik ke arah Axio yang kini berjalan ke arahnya, seketika tubuh Naura membeku saat Axio duduk di samping Naura tanpa jarak sedikitpun karena pria itu merangkul pinggangnya.
“Mau pergi ke mana? Rumah Daddy di sini.” Ucap Axio sembari menatap ke dua anaknya.
“Daddy selius? Jadi kita bisa tidul bersama sambil baca dongeng?” Tanya Ale lagi, mata sayu itu seketika berbinar saat mendengar kabar bahagia.
Axio menganggukan kepalanya, ia tersenyum saat melihat kedua anaknya langsung bersorak gembira saat mendengar kabar jika dirinya akan tidur bersama mereka.
“Ternyata hal sesederhana ini yang membuat kalian bahagia.” Gumam Axio dalam hatinya.
Berbeda dengan pikiranya, Axio kira barang-barang mewah yang di hadiahkanya akan membuat kedua anaknya bahagia, tapi nyatanya tidak.
.
To be continued…