
Saat pintu kamar itu hendak di buka Bella, tiba-tiba Axio keluar dari kamarnya. Dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya, ia bahkan tidak menenteng apapun. Bella pikir Axio akan mnejelaskan apa yang terjadi tapi nyatanya ia salah, pria itu malah melewatinya begitu saja bahkan tak sedikitpun menatap ke arahnya.
“Axio!! Mau kemana kamu!” Pekik Bella dengan kesal, karena pria itu sudah berani tidak mendengar sedikitpun ucapanya. Padahal biasanya pria itu type yang tidak banyak bicara dna basa-basi namun langsung mengikuti setiap ucapan Bella.
Emosi Bella semakin memuncak saat melihat pria itu keluar dari kediamanya, kedua lenganya mengepal erat sampai membuat telapak tanganya lecet karena kukunya yang panjang.
Axio mengendarai mobilnya dengan cepat, tujuanya hanya satu ingin segera menemui kedua anaknya tanpa peduli dengan isterinya yang sedang murka kepadanya.
Mungkin cukup egois, tapi sejauh ini Axio sudah banyak bersabar untuk mengikuti semua kemauan wanita itu. Bella lah yang lebih egois selama pernikahanya, Axio sadar jika dirinya di jadikan pajangan untuk memamerkan ketampanan, kekayaan dan semua yang melekat pada dirinya.
Bella juga bahkan bersikap seolah Axio sangat mencintainya dan membuat Axio terlihat sangat menurut pada isterinya hanya untuk pujian dari para teman-temannya.
Tapi walau Axio tidak suka, dia tetap mengalah hanya agar Bella tidak mengamuk seperti tadi.
Butuh waktu 30 menit untuk sampai di kediaman barunya, ia segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk kedalam rumah masa depanya dengan kedua anak kembarnya.
Axio yakin jika kedua anak itu ada di kamar utama, ia segera membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam kamar.
Naura menatap ke arah pintu, ia segera melepas bibir Ale yang sejak tadi menghisap dadanya yang sudah tidak banyak mengeluarkan asi itu.
“Ale sudah dulu yah, Daddy sudah pulang.” Ucap Naura, sementara itu Ale yang hendak tidur langsung berdiri menyambut kedatangan Daddy nya. Mata ngantuknya seketika menghilang saat melihat sang Daddy, anak perempuan itu langsung merentangkan tanganya dengan bibir yang tersenyum lebar.
“Daddy, Ale kila Daddy tidak akan pulang.” Ucap Ale saat sang Daddy memeluk putrinya.
“Tentu saja Daddy pulang, ini rumah kita. Jadi Daddy akan pulang tiap hari dan bertemu Ale, Adang dan juga Mommy.” Ucap Axio sambil mengelus rambut Abang Tian yang sedang tertidur.
Rasa kesal dan amarahnya seketika menghilang hanya dengan menatap senyum anaknya, walau hatinya masih terasa panas.
Ale tidak banyak menjawab ucapan Daddy nya, putri kecilnya itu terlihat sangat ngantuk dia bahkan menahan kantuknya hanya untuk menyambut kedatangan dirinya.
“Tidurlah sayang, ini sudah malam.” Ucap Axio sambil mengelus kepala Ale.
Lalu Axio menatap ke arah Naura dengan sendu.
“Apa ada masalah?” Tanya Naura melihat wajah sendu Axio membuat dadanya terasa nyeri.
Axio tidak banyak berbicara, ia langsung memeluk tubuh Naura dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Naura.
Naura tidak banyak bicara ia hanya mengusap lembut punggung Axio, entah mengapa keduanya merasakan rasa nyaman yang baru pertama mereka rasakan.
“Kenapa Ale masih minum asi?” Tanya Axio tiba-tiba. “Sebentar lagi dia sekolah, apa tidak bisa di ganti dengan susu pormula yang khusus seusianya?” Tanya Axio sambil menghirup aroma tubuh calon isterinya.
“Dia tidak minum asi, hanya kebiasaan jelek Ale saat hendak tidur.” Ucap Naura karena memang Ale belum bisa lepas dari kebiasaan waktu kecilnya yang hendak tidur selalu memainkan puncuk dada Mommy nya.
Ale memang lebih manja dari Abang nya, dan Naura juga tidak pernah melarang apapun yang mereka mau apalagi dengan kondisi Ale yang sakit-sakitan. Anaknya itu bahkan sempat nangis histeris karena belum terbiasa tidur tanpa menghisap sesuatu di bibirnya.
“Kalau begitu perlahan buat Ale lepas karena sudah waktunya, sekarang giliran Daddy nya yang berkuasa atas puncuk dadamu itu, Mom.” Ucap Axio sambil terkekeh membuat Naura seketika mendorong tubuhnya karena kaget.
Axio memang gila, jujur saja dia sedikit setres dengan apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini itu sebabnya ia menghibur dirinya sendiri dengan cara itu.
“Pantas saja Daddy Daren sangat mesum, ternyata hal seperti ini bisa membuat kita berdebar dan senang melihat reaksi wanita kita.” Gumamnya dalam hati dengan tubuh yang sudah terbaring di atas ranjang karena dorongan Naura tadi.
Axio tidak berniat bangun karena tubuhnya sangat lelah hanya dengan berdebat dengan isterinya, ia menatap wajah Naura yang merona karena ucapanya.
“Mau kemana?” Tanya Axio sambil menahan lengan Naura yang hendak pergi. “Tidak mau menemaniku tidur?” Tawarnya dengan senyum manis pria itu.
.
To be continued…