
“Bukan Nyonya, Tuan sedang ada di luar kota. Saya lihat dengan jelas jika orang itu bukan Tuan.” Ucap supir yang mengendarai mobil Bella, Bella seketika terdiam.
“Lagi pula untuk apa Tuan berada di tempat seperti itu, dengan anak kecil.” Ucap sang supir. Bella mengangguk, betul juga pikirnya karena tidak mungkin Axio mau menggendong dua kecil.
Apalagi dia belum punya keponakan, Axii sudah pasti memberi tahunya jika ia sudah pulang pikirnya.
Supir itu melirik ke arah Bella yang terdiam, kening sang supir sedikit berkeringat karena ia tidak tau jika akan berpapasan dengan Tuanya.
Dadanya berdebar tidak karuan, entah Bella percaya dengan kata-katanya atau tidak yang jelas di pikiranya saat ini adalah mengendarai mobil dengan lebih cepat agar segera sampai.
Bella mengambil ponselnya lalu menghubungi Axio, namun sudah ketiga kalinya Axio tidak juga mengangkat ponselnya.
Ia lalu menghubungi asisten pribadi suaminya, berharap pria itu mengangkat panggilanya.
“Sial! Dimana dia kenapa tidak mengangkat telponku?” Pekik Bella. “Apa kita kembali ke tempat tadi? Aku harus lihat itu Axio atau bukan.” Ucap Bella kesal, sejujurnya dirinya sendiri tidak percaya jika yang ia lihat adalah suaminya.
Karena itu tidak mungkin, Axio adalah pria yang dingin apalagi terhadap anak kecil. Yang ada di otak pria itu adalah pekerjaan.
“Mungkin Tuan sedang rapat l, Nyona.” Ucap supir itu kembali menghasut Nyonya nyah.
Wajah kesal nya tiba-tiba menghilang saat mendengar suara Ronal.
“Ronal di mana suamiku?” Tanya Bella.
“Beliau sedang meeting, Nyonya. Ada yang mau Nyonya Bella sampaikan?” Tanya Ronal.
“Oh, bilang padanya untuk segera pulang. Aku ada arisan dan suamiku harus ikut, aku tidak mau jika dia tidak datang ke acara itu karena semua teman-temanku pasti akan berpikir yang aneh-aneh jika suamiku tidak ikut.” Ucap Bella pada asisten pribadi suaminya.
“Baik Nyonya, akan saya sampaikan.”
“Iya.” Ucap Bella ia langsung mematikan panggilanya, lalu tersenyum menatap ke jalan raya.
Bella kerap kali memaksa Axio untuk datang ke acara-acara seperti itu, untuk apa? Tentu saja Bella sangat senang memamerkan ketampanan suaminya.
Bella akan merasa puas jika semua grup sosialitanya selalu memuji ketampanan suaminya, dan memuji keberuntungan dirinya yang memiliki suami perhatian dan juga kaya raya.
Tidak jarang juga Axio menolak, namun Bella memakai seribu satu cara untuk membuat Axio ikut karena ia tidak ingin mendengar gosip miring hanya karena Axio tidak menghadiri acaranya.
Dulu Axio pernah sekali tidak hadir di acara teman-temanya Bella karena sibuk bekerja, sampai sebuah gosip menyebar jika Bella sudah di campakan oleh suami kayanya itu sampai membuat Bella frustasi dna mengamuk pada Axio karena pria itu tidak bisa datang, Axio yang males bertengkar akhirnya selalu menyempatkan diri untuk datang ke pertemuan isterinya.
Sang supir bernafas dengan lega karena Bella tidak lagi membahas orang yang ia lihat.
*
Di tempat lain Ronal kini berjalan mendekati Axio.
“Tuan, pak Han bilang jika tadi Nyonya Bella sempat melihatmu. Dia bahkan nyaris turun dan menemuimu.” Ucap Ronal, namun Axio terlihat santai mendengar ucapanya padahal dirinya sudah sampai keringat dingin karena hampir saja mereka ketahuan.
“Suruh pak Han untuk memakai jalur lain selain kawasan sekolah anak-anak.” Ucap Axio dengan datar.
Axio menatap Ronal yang hanya diam saja.
“Apa lagi?”
“Baik Tuan, ada pesan juga dari Nyonya—“
“Aku harus datang di acara teman-temannya kan?” Sela Axio.
“Iya Tuan.”
“Buat alasan agar aku tidak ikut acara itu.” Jawabnya lagi dengan santai.
“Jangan banyak protes Ronal, lakukan saja tugas itu dengan benar.” Ucap Axio. “Karena aku harus membawa liburan anak-anakku sebelum tiba waktu sekolah mereka.” Ucap Axio lagi dia tersenyum saat melihat Ale dan Abang Tian berlari ke arahnya dengan Naura yang ada di belakangnya.
“Bukankah hidupku sudah cukup bahagia?” Tanya Axio pada Ronal yang masih menatap ke arahnya.
Ronal menatap wajah tersenyum Axio yang sedang menyambut kedatangan kedua anaknya.
“Akan lebih bahagia lagi jika kalian menjadi keluarga yang sesungguhnya.” Ucap Ronal membuat Axio menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
“Kamu kira kita bukan keluarga yang sesungguhnya?!” Pekik Axio kesal karena sudah membuyarkan mimpinya.
“Ma-maksudku hubungan Tuan dengan Nona Naura.” Ucap Ronal terbata.
“Kau kira gampang membuat wanita itu mau manikah denganku? aku sedang berusaha meluluhkan hatinya sebelum akhirnya membuat mereka bertigga menjadi milikku.” Ucap Axio dengan sendu menatap ke arah kedua anaknya.
Iya itu sudah menjadi keputusanya saat ia memutuskan untuk tinggal dan tidur bersama dengan kedua anaknya, Axio bukan pria bajingan yang dengan mudah tidur dengan siapaun.
Ia juga harus bertanggung jawab dan berterima kasih pada Naura yang sudah memilih untuk membesarkan kedua anaknya, demi kedua anak nya juga Axio ingin membuat mereka bahagia karena kedua orang tuanya yang masih utuh.
“Daddy, Abang jahat!” Rengek Ale sambil masuk kedalam pelukan Daddy nya.
“Ada apa? Abang ngapain Ale sampe Ale kesal sama Abang?” Tanya Axio sambil terkekeh.
“Abang bilang Ale suka sama Nikol.” Adunya.
“Nikol? Siapa dia?” Tanya Axio bingung.
“Itu Daddy, Nikol anak yang sekolah di sini. Dia nanyain nama Ale, eh Ale nya malah nanyain malik nama laki-laki itu.” Ucap Abang. “Sudah pasti Ale suka sama Nikol.” Ucap Abang Tian.
“Tidak! Ale tidak suka! Abang jahat!” Rengeknya lagi langsung menyembunyikan wajahnya di dada Axio yang sedang berjongkok sambil memeluk Ale.
“Terus kalo gak suka kenapa Ale mau di kasih permen sama dia, Mommy bilang kan kita gak boleh menerima makanan dari orang yang tidak kita kenal.” Ucap Abang smabil tersenyum menertawakan adiknya yang sedang menangis.
“Mana permenya Daddy liat.”
Ale pun menjulurkan tanganya untuk memperlihatkan satu permen yang ada di telapak tanganya.
“Tunggu di sini, Daddy harus pergi dulu.” Ucap Axio dia pun bangkit dan hendak berdiri namun Naura menahanya.
“Mau kemana?” Tanya Naura.
“Aku harus menemui anak yang berani-beraninya memberikan permen pada anakku.” Ucap Axio sambil berbisi agar kedua anaknya tidak mendengar.
“Tunggu, dia hanya anak kecil. Kamu tidak perlu mepermasalahkan nya,” ucap Naura.
“Ale masih kecil Mom, kamu tidak takut jika anak kita kenapa-kenapa di sekolah?” Tanya Axio.
Naura terkekeh geli. “Nikol juga masih anak-anak, dia tidak mungkin berniat jahat pada Ale. Belum waktunya kamu menghalang-halangi pria yang mau mendekati Ale, karena mereka masih anak-anak yang belum mengenal cinta.” Ucap Naura sambil terkekeh.
“Tidak aku harus—“
“Daddy, berhentilah hawatir pada masalah ini.” Ucap Naura akhirnya.
Axio pun terdiam, dia senang mendengar Naura memanggilnya Daddy tanpa rasa malu dan canggung.
.
To be continued…