
Axio menggendong Ale dan mendudukan putri kecilnya itu di kursi tempat makan, lalu membantu Abang Tian agar bisa naik ke atas kursi.
Lalu Axio menatap ke arah Naura yang sejak bangun tidur menghindarinya, ia kini sibuk di dapur.
“Mom, dimana kamu menyimpan gelas?” Tanya Axio dia tidak mau tinggal diam, dia juga ingin ikut membantu Naura mengurus rumah.
“Ada di dalam lemari bawah sebelah kiri say—“ ucapanya terhenti saat sadar siapa yang memanggilnya, ia kira Abang Tian yang memanggilnya Mom, rupanya Ayah anaknya.
Axio tersenyum karena akhirnya Naura mau menatap ke arahnya, setelah beberapa kali menghindarinya pagi ini.
Semalam setelah ciuman itu terjadi, Naura pura-pura tertidur sampai akhirnya ia benar-benar tertidur. Lalu sejak tadi pagi ia sengaja menghindari Axio, karena jujur Naura sangat malu karena sudah terbawa suasana malam itu padahal ia harusnya tidak boleh melakukanya.
Naura berjalan membawa nasi goreng dan menyimpanya di atas meja, sementara Axio kini selesai menyiapkan alat-alat makan yang akan mereka gunakan.
Abang Tian tersenyum, ia merasa keluarga yang di impi-impikanya saat ini telah terwujud.
“Mom kenapa mata mu bengkak? Apa semalam Mommy menangis?” Tanya Abang Tian saat melihat kelopak mata Mommy nya.
“Se-semalam…” Nuara bingung harus bicara apa.
“Makanlah yang banyak, selesai makan ada yang mau Daddy bicarakan pada kalian.” Ucap Axio segera mengalihkan pembicaraan, Naura tidka berani menatap ke arah Axio ia malah sibuk menyuapi Ale.
“Baik Dad.” Ucap kedua anak itu.
“Mom, biar Daddy yang suapi Ale. Mommy sarapan saja lebih dulu.” Ucap Axio, dia tidak ingin Naura sibuk sendiri karena dia sudah berjanji akan menebus semua kesalahanya sekarang.
Naura yang tidak terbiasa dengan panggilan yang keluar dari mulut Axio merasa geli, ia seperti punya anak lain selain kedua anaknya.
Ale mengangguk. “Ale mau si suapi Daddy Mom.” Ucap Ale sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya senang.
Naura hanya mengangguk dan melanjutkan makanya, mereka makan dengan berisik karena kedua anak itu sangat aktif bertanya ini dan itu bahkan samapi mengungkapkan kebahagiaanya saat ini saat sarapan bersama.
“Dad, Abang sudha selesai makan. Daddy mau bicara apa?” Tanya Abang saat melihat Mom dan Ale juga selesai makan.
“Hari ini Dad ingin mengajak kalian pergi mendaftar masuk TK, apa kalian berdua sudah siap masuk sekolah?” Tanya Axio.
Tentu saja kedua anak itu berteriak bahagia, Ale dan Abang bilang jika mereka siap untuk bersekolah.
Axio menatap ke arah Naura yang sejak tadi hanya diam. “Tentu saja keputusan ada di tangan Mommy, jika Mommy mengijinkan maka hari ini kita akan langsung pergi ke sana.” Ucap Axio sambil menatap ke arah Naura.
Naura menatap ke arahnya, ia tidak menyangka jika Axio akan melibatkan dirinya. Ia kira Axio akan seenaknya mengatur kedua anak kembarnya dan juga dirinya.
Naura lalu menatap ke arah kedua anak nya yang kini menatap dengan tatapan memohon, Naura pun tersenyum melihat betapa antusiasnya kedua anaknya itu.
“Jika tidak boleh, pilihan kedua adalah homeschooling.” Ucap Axio.
“Sejujurnya aku takut jika Ale akan kelelahan jika banyak bermain, aku juga tidak mau banyak menyusahkan mu.” Ucap Naura dengan jujur.
“Daddy, Mom. Panggil Daddy di depan anak-anak, kita terlihat terlalu kaku.” Ucap Axio. “Daddy tidka maslaah soal itu, Dad hanya menunggu jawaban Ya atau Tidak dari mo Mom.” Ucap Axio tanpa malu lagi, ia juga memberi kode dengan matanya jika kedua anak itu sedang menunggu jawaban Mommy nya.
Naura manatap kedua anaknya. “Apa kalian sungguh ingin sekolah? Kalian bisa melewatkan sekolah TK dan langsung masuk SD jika kalian mau.” Ucap Naura tidka ingin membuat anaknya lelah karena banyaknya aktifitas.
“Kami siap untuk sekolah, Mom.” Ucap Ale dan abang secara bersamaan.
Axio tersenyum. “Kalau begitu, Ayo kita siap-siap pergi.” Ucap Axio sambil menggendong kedua anaknya dan membawanya ke kamar untuk mengganti pakaianya.
Naura terkekeh melihay kedua anaknya tertawa dengan riang, apa jadinya jika kemarin dia tidak menerima bantuan dari Axio. Naura pasti akan sangat menyesal.
Di dalam mobil, Ale dan Abang tidak ada satu pun yang mau mengalah. Mereka berdua ingin duduk di atas paha sang Daddy, sampai membuat Naura cemburu melihatnya.
“Apa kalian tidak mau lagi duduk di atas pangkuan Mommy?” Tanya Naura sampai membuat kedua anak yang sedang berebut itu menatap ke arahnya.
“Mom, bukan tidak mau. Tapi Abang takut Mommy lelah karena badan Abang dan Ale yang gemuk ini.” Ucap Abang Tian.
Naura mengulum senyum, saat melihat tubuh kedua anaknya memang sangat bulat apalagi keuda pipi Ale dan Abang trlihat seperti bakpau.
“Tapi Daddy kalian pasti tidak bisa bernafas jika kalian duduk di pangkuanya.” Ucap Naura.
Kedua anaknya pun menatap ke arah Axio, Axio tersenyum sambil menggelengken kepalanya.
“Tidak kok, Abang duduk di sini. Ale duduk di sini ya.” Ucap Axio sambil memposisikan kedua anaknya untuk duduk di paha kanan dan kirinya.
Keharmonisan keluarga itu pasti membuat sebagian orang berpikir jika mereka adalah satu keluarga, bahkan sampai membuat Ronal mengulum senyum hanya dengan melihat interaksi Axio dan kedua anaknya.
Axio lalu menarik Naura agar semakin rapat dengan tubuhnya, Axio tidak ingin membuat Naura merasa terkucilkan atau bahkan tidak di perhatikan oleh kedua anaknya.
Entah mengapa sikap Axio yang selalu melibatkan Naura dalam urusan anaknya membuat hatinya merasa hangat, ia pun membalas senyuman Axio.
“Ale senang bisa pelgi baleng Dad dan Mom.” Ucap Ale ia memeluk Mommy nya dengan sangat erat.
“Abang juga.” Ia tidak mau kalah dan ikut memeluknya dalam posisi duduknya.
“Tuan, sepertinya harus turun di sini. Di dalam tidak ada parkiran, jadi saya harus mencari tempat parkir dulu.” Ucap Ronal tiba-tiba setelah ia di beri tahu petugas penjaga sekolah.
“Baiklah, ayo kalian siap?” Tanya Axio.
Abang dan Ale mengangguk dengan mantap lalu naik ke gendongan Axio, di ikuti Naura yang juga ikut turun dari mobil.
“Biar aku gendong Abang.” Ucap Naura hendak mengambil Abang, namun Axio menolak.
“Biar aku saja, ayo masuk.”
Tepat saat mobil yang di bawa Ronal melaju, seseorang yang tidak sengaja lewat di jalan itu melihat ke arah di mana ada sosok pria yang sangat ia kenal.
“Tunggu, menepi sekarang. Sepertinya itu suamiku?” Ucap Bella sambil menatap pria yang tengah menggendong dua anak sekaligus.
Namun supir itu masih melajukan mobilnya, membuat Bella semakin kesal.
“Berhentik pak!” Pekik Bella.
.
To be continued…