
Ale tiba-tiba merengek di dalam mobil saat perjalanan pulang, di tariknya tubuh Ale dan di dudukanya di atas pangkuan Axio.
“Ale kenapa nangis? Ale ingin apa?” Tanya Axio dengan sangat lembut, Naura hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang Ale mau pada Axio, karena ia merasa tidak enak apalagi di dalam mobil bukan hanya ada Axio tapi juga Dion.
Ale hanya mengucek-ngucek kedua matanya tanpa mau menjawab karena bibirnya terus mengeluarkan rengekan.
“Ini jadwal Ale tidur siang Dad, dia pasti ingin mimi.” Ucap Axio yang tahu betul kebiasaan adiknya yang masih meminum asi.
“Sebentar lagi yah, Nak. Tahan sedikit kita akan segera sampai.” Ucap Naura sambil mengelus kening Ale yang ada di atas pangkuan Daddy nya.
“Kenapa tidak kita kasih sekarang saja? Di mana kita harus membelinya?” Tanya Axio yang tidak tau arti dari ucapan Abang Tian.
Bukanya menjawab Naura malah menunduk malu, sementara Abang yang sedang sibuk memakan permen Ale ia malah kembali menjawab.
“Ale tidak minum susu yang di jual di mini market, dia masih minum asi Dad.” Ucap Abang lagi.
“Asi?” Tanyanya lalu menatap ke arah dada Naura, ia baru ingat jika beberapa hari yang lalu saat di rumah sakit Axio juga sempat melihat Naura yang sedang memberi asi pada Ale.
“Dion menepilah.” Perintah Axio pada asistenya itu.
“Tidak perlu, Ale masih bisa bertahan sampai rumah.” Tolak Naura. Mendengar itu Dion tetap melakukan perintah dari tuanya.
“Aku tidak mau membuat anakku menunggu, jadi lebih baik segera beri Ale asi.” Ucapnya. Axio tidak mau melihat Ale terus merengek karena kehausan.
“Dion keluarlah.” Ucap Axio, dia tidak ingin asistenya itu melihat Naura yang sedang memberi asi pada anaknya.
Dion pun bergegas keluar tanpa banyak bicara.
“Mimi… mimi…” rengek Ale. Dengan segera Axio mengangkat tubuh Ale dan mendudukan anaknya di atas pangkuan Mommy nya.
Naura menatap ke arah Axio dengan kening yang mengerut.
“Kamu tidak akan keluar juga?” Tanya Naura. Axio langsung menelan salivanya susah, ia lupa jika dirinya bukan siapa-siapa Naura sehingga ia pun tidak boleh menyaksikan hal itu.
Axio mengangkat lenganya dan memperlihatkan jari-jarinya yang di genggam erat Ale, perlahan ia melepaskan satu persatu jari jemari kecil itu.
Namun Ale semakin merengek. “Jangan pegi Daddy, Daddy mau kemana lagi?” Tanya Ale dengan mata dan hidung yang sudah memerah.
“Daddy nunggu Ale di luar yah.” Ucap Axio.
“Gak mau!! Daddy pasti pelgi lagi kalo Ale tidur ninggalin Ale sama Abang, Ale gak mau.” Rengek Ale.
“Sayang jangan bicara begitu, Daddy tidak akan pergi ko Ale mimi dulu yah baru tidur.” Ucap Naura sambil menyeka keringat Ale dengan tisue.
Axio hanya bisa diam karena lenganya terus di genggam Ale. “Aku tidak akan melihat,” ucap Axio akhirnya, karena itulah jalan satu-satunya agar Naura segera memberikan Ale asi.
Naura dengan segera mengeluarkan Asinya dan sedikit memiringkan tubuhnya agar membelakangi Axio, dengan cepat Ale meraup dan menghisap kuat dada Mommy nya.
Ale sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya, namun dia harus di iringi asi agar tidur dengan lelap tanpa rasa lapar.
Axio berkali-kali menelan salivanya susah saat mendengar suara-suara aneh yang di timbulkan dari bibir Ale, entah mengapa tubuhnya seketika berdesir saat mengingat malam itu.
Wajah Axio tiba-tiba memerah, ia silangkan kakinya untuk menutupi sesuatu yang menegang di bawah sana.
“Daddy, Abang juga ngantuk.” Ucap Abang Tian, ia naik ke atas pangkuan Daddy nya.
“Euggh!” Pekik Axio saat Abang Tian tidak sengaja menginjak senjatanya, wajah Axio memucat menahan rasa ngilu.
“Ada apa?” Tanya Naura, Axio pun menoleh ke arahnya. Tubuhnya semakin jadi meremang saat tidak sengaja melihat Ale yang memainkan sebelah dada Naura.
Ia pun segera memalingkan wajahnya, sambil memeluk Abang Tian yang sudah berada di pangkuanya dengan sebelah tanganya, karena tangan lainya masih di pegang Ale.
“Tidak apa-apa,” jawab Axio sambil menepuk-nepuk bokong Abang Tian dengan pelan, agar putranya segera tidur.
Sementara Naura, dadanya sejak tadi berdebar sangat cepat. Ia belum terbiasa memberi asi di hadapan orang lain. Entah mengapa rasanya terasa aneh, namun ia terus menyangkalnya untuk tidak berpikiran aneh karena yang penting sekarang adalah Ale.
Brak!
Naura dan Axio seketika menoleh ke kanan Axio, di sana ada seorang wanita yang tengah menatap tajam ke arah mobil.
“Buka pintunya! Cepat keluar!” Pekik seorang wanita itu dengan emosi yang sudah meluap.
Untung kedua anak itu tidak terbangun, Naura segera narik pelan dadanya yang menempel di mulut Ale dan segera merapikan pakaianya.
“Kak siapa dia?” Tanya Naura dengan takut menatap ke arah wanita yang tengah menatap tajam ke arahnya.
“Tunggu di sini, kalian pulang duluan. Aku akan menyusul.” Ucap Axio dia menidurkan Abang Tian di samping Naura.
Sementara itu ia keluar dari mobil, wanita itu hendak menarik pintu mobil untuk masuk ke dalam. Namun Axio dengan segera menahan pintu itu, bebarengan dengan Dion yang berlari dna langsung menahan tubuh wanita yang kini tengah mengamuk.
“Cepat pergi dan bawa mereka pulang!” Titah Axio, Ia sendiri memeluk tubuh wanita itu agar tidak memberontak dan berusaha membuka pintu mobil itu.
“Baik tuan.” Ucap Dion dengan cepat ia masuk kedalam mobil dan mengendarai mobil itu.
“JANGAN PERGI DION!!!” Pekik wanta itu dengan tubuh yang meronta di pelukan Axio.
“Diamlah!” Pekik Axio.
“Siapa dia Ay!! Kenapa kamu berduaan dengan wanita lain?” Sentaknya dengan sorot mata bencinya.
“Aku akan jelaskan! Ikut denganku!” Sentak Axio sambil menarik lengan wanita itu menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.
“Aku butuh penjelasan sekarang! Kenapa kau malah membawaku pergi!!” Sentak wanita itu dengan begitu frustasi.
Axio balik menatap tajam ke arah wanita itu.
.
To be continued…