
Sudah hampir seminggu yang lalu Ale operasi, kini anak itu terlihat lebih ceria dari biasanya. Apalagi beberapa hari ini Axio selalu datang ke rumah sakit saat pulang kerja dan pulang hingga larut malam.
Hingga waktunya Ale pulang ke rumah dengan siap Axio mendampingi putri kecilnya, Axio juga lah yang selalu mendampingi Ale setiap ada pemeriksaan rutin.
“Lebih cepat lagi Dion!” Pekik Axio dia tidak ingin telat menjemput anaknya, karena dirinya sudah berjanji akan menjemput Ale dan Abang pulang.
“Baik tuan.” Ucap Dion dia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah sakit.
“Itu Nona Naura.” Ucap Ronal dengan segera ia berhenti tepat di belakang taxi yang hendak mereka tumpangi.
Dengan segera Axio keluar dari mobil dengan senyuman di bibirnya, ia menatap kedua anaknya yang sudah menjerit senang saat melihat dirinya.
“Daddy!!” Teriak Ale dan Abang bersamaan.
“Maaf sayang, Daddy telat.” Ucap Axio sambil menggendong Abang dan mensejajarkan dengan Ale yang di gendong Naura.
“Ale kila Daddy tidak jemput kita.” Ucap Ale dengan wajah cemberutnya.
“Daddy sudah datang, apa Ale masih tetap akan marah pada Daddy?” Tanya Axio kini dia mencium pipi Ale dan sekilas menatap wajah Naura yang tersenyum melihat interaksi dirinya dan putrinya. “Daddy sudah janji jemput kalian pulang, tapi Daddy tepat karena ada meeting mendadak.” lanjut Axio lagi berusaha menjelaskan pada kedua anaknya itu.
“Ayo naik ke mobil, Daddy akan kasih hadiah biar kalian tidka marah lagi sama Daddy.” Ucap Axio dan membuat kedua anak itu kembali berteriak kegirangan.
Mereka pun masuk kedalam mobil, Dion tersenyum melihat kedua anak tuan nya itu sibuk memegang wajah Daddy nya.
“Ku kira dia akan lebih tegas pada anak-anaknya kelak, rupanya tuan Axio sangat manis pada kedua anaknya.” Gimam Dion dalam hati. Ia pun melanjukan kendaraanya.
Naura merasa tidak enak pada Axio, kedua anaknya terlalu berlebihan pada Daddy nya. Mereka bahkan sudah berani menaiki tubuh pria bertubuh besar itu, Naura menatap ke arahnya.
Ia terkejut saat tau jika ternyata Axio sedang menatap ke arahnya juga.
“Harusnya tidak usah repot-repot menjemput kami.” Ucap Naura dengan sedikit menundukan kepalanya.
“Demi kedua anakku, aku pasti akan melakukan apapun.” Ucap Axio. Axio memegang lengan Naura yang ada di atas paha wanita itu. “Jangan merasa terbenani, aku melakukanya karena ingin membayar semua waktu yang pernah terlewat.” Lanjut Axio.
Naura menatap lenganya yang di genggam Axio, lalu ia menariknya perlahan dan membuat Axio tersadar lalu menarik lenganya.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Mereka pun sampai di sebuah toko Bakery yang sederhana, dengan bangunan dua lantai.
Axio menatap bangunan itu dengan bingung.
“Daddy, rumah kami ada di atas toko kue ini.” Ucap Abang Tian sambil menunjuk lantai dua.
Mereka pun naik ke atas tangga yang ada di luar toko itu, saat Naura di usir dengan membawa uang tabunganya selama menjadi Ballerina. Ia langsung membeli bangunan itu untuk di jadikan toko kue, hanya itu yang ada di otaknya karena Naura tidak bisa melakukan apapun selain membuat kue.
Untungnya sejak dulu Naura suka membuat kue sebagai hobi lain yang di larang Ibunya, Naura selalu diam-diam belajar membuat kue.
Hingga ahirnya kini ia bisa membangun usahanya sendiri dan menbiayai kedua anaknya dengan mengembangkan usaha kecilnya.
Axio menatap ruangan kecil dengan penuh mainan anak-anak, tidak terlalu luas namun juga tidak terlalu kecil.
Axio berdiri kaku, dia bingung harus melakukan apa di rumah seorang wanita. Ia hanya menatap Dion yang menyimpan barang-barang anaknya laku pergi begitu saja keluar.
“Daddy, sedang apa? Ayo sini ke kamar ada yang mau Abang tunjukan pada Daddy.” Ucap Abang Tian.
Walaupun Ale dan Abang audah berusaha menarik tubuh Axio, dia hanya berdiam diri tanpa pergerakan dan hanya menatap ke arah Naura.
Naura yang sadar langsung menatap ke arah Axio. “Masuk saja, mereka sudah lama ingin menunjukan sesuatu padamu Kak.” Ucap Naura yang kini sibuk menyiapkan sesuatu di dapur.
Mereka bertiga pun masuk ke kamar bernuansa serba putih, Axio menatap seluruh ruangan yang penuh dengan photo kedua anaknya dan ibunya.
Ada rasa nyeri di dadanya karena dirinya tidak ada di saat pertumbuhan kedua anaknya.
Abang dan Ale terus menceritakan setiap photo yang mereka tunjukan pada Axio, Axio pun dengan senang hati meladeni kedua anaknya tanpa kenal lelah.
“Anak-anak, ayo makan.” Ucap Naura.
Kedua anak itu pun langsung berdiri dan berlari menbuat Axio bingung karena kedua anaknya mudah sekali berpaling dari topik satu ke topik lainya.
Axio pun mau tidak mau keluar dari kamar itu.
“Ayo makan.” Ajak Naura. Ia menyodorkan piring yang sudah di isinya dengan nasi dan lauk pauk yang baru saja ia masak.
Axio menatap piring itu, lauk pauk yang belum pernah ia makan.
Ia menghela napas lalu mulai menyantap makanan itu bersama kedua anaknya.
“Kalian sudah bisa makan sendiri?” Tanya Axio kaget saat melihat anaknya menyantap lahap makanan itu.
“Iya, Mommy mengajarkan kami hidup mandiri.” Ucap Abang Tian.
“Ale juga bisa pakai baju sendili.” Timpal Ale.
“Biar Daddy suapin, Ale kan masih sakit.” Ucap Axio dia hendak mengambil piring milik putrinya namun Ale menolak.
“Tidak apa-apa Daddy, Ale sudah biasa makan sendili kalau Mommy sibuk.” Ucap Ale membuat dada Axio tiba-tiba terasa nyeri.
“Naura, aku ingin bicara denganmu.” Ucap Axio, Naura pun mengangguk karena dirinya juga harus berbicara dengan pria itu.
“Abang, Ale makan yang banyak yah. Mommy harus bicara dengan Daddy dulu.” Ucap Naur, lalu ia lebih dulu berjalan ke arah kamar.
Ia tidak ingin obrolanya dengan Axio terdengar di telinga kedua anaknya.
“Naura, aku tau jika anak-anak harus mandiri karena kamu sibuk. Tapi ijinkan aku membawa babby sitter kemarin datang ke sini dan mengurus mereka.” Ucap Axio, dengan begitu kedua anaknya tidak perlu repot mengurus diirnya sendiri.
Naura kemarin tetap menolak Baby sitter yang sudah Axio bawa dengan alasan ingin pokus mengurus kedua anaknya dengan tanganya sendiri.
“Aku sangat berterima kasih dengan kebaikan mu Kak, tapi aku rasa cukup sampai di sini.” Ucap Naura membuat Axio yang mendengarnya jadi kecewa. “Aku tidak mau membuat isterimu curiga, karena belakangan ini kamu sering pulang telat dan bahkan samapi menginap di rumah sakit.” Ucap Naura lagi.
.
To be continued…