My Beautiful Mom

My Beautiful Mom
MBM 7



Di kamar VVIP yang kini di tempati Aleya, suasana tampak begitu hening karena kedua anak itu tertidur, keduanya terlihat kelelahan setelah bermain dengan Daddynya.


Naura menyentuh lembut rambut Abang Tian yang tertidur di atas kedua pahanya, sementara Axio yang ada di atas ranjang Aleya ia tersenyum menatap Ale yang tidur menyender di dadanya.


“Tolong, jangan bawa anak-anakku pergi.” Ucap Naura tiba-tiba dengan suara pelanya.


Senyuman Axio pun menghilang, ia menoleh ke arah Naura. Di tatapnya Naura yang sekarang sangat berbeda dengan Naura yang dulu, Axio baru menyadari itu setelah kini ia bisa pokus memperhatikan Naura dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Wanita yang dulu sangat kurus, ramping dan sorot mata indah saat memandang dirinya, kini tidak ada lagi sorot mata mengagumi. Yang ada Naura terus menatap Axio dengan tatapan permusuhan.


Tubuh Naura lebih berisi dari pada yang dulu, apa lagi di beberapa bagian seperti area dada dan bokongnya. Axio pikir itu mungkin efek dari melahirkan dua orang anak.


“Kamu mendengarku?” Tanya Naura karena Axio sama sekali tidak menjawab ucapanya.


“Aku tidak akan memisahkanmu dengan kedua anak kita, aku hanya ingin melakukan peranku sebagai seorang ayah. Bagaimanapun mereka anak-anakku juga.” Ucap Axio, karena sejujurnya dia juga masih sangat bingung bagaimana di memberi tahu isterinya jika dirinya sudah mempunyai anak, apalagi kedua orang tuanya.


Axio kini baru sadar, jika kedepanya mungkin akan banyak rintangan yang menghalangi dirinya yang ingin menjaga kedua anaknya.


Naura kembali menunduk menatap Abang Tian, lalu tersenyum getir.


“Aku cemburu saat melihat kedua anakku ternyata semuanya sangat mirip dengan wajahmu.” Ucap Naura dengan kelopak mata yang sudah mulai memanas.


Axio menatap sendu Naura.


“Padahal aku yang mengandung dan melahirkan mereka.” Ucap Naura akhirnya tangisanya pecah. Ia mengusap air yang sudah mulai membasahi pipinya, ia terkejut karena rupanya Axio sudah ada di depanya.


Axio duduk di sampingnya, ia menatik lengan Naura dan di simpanya di antara kedua telapak tanganya.


Naura menatap lenganya yang di sentuh lalu menatap ke wajah Axio yang sejak tadi menatapnya.


“Maafkan aku, jika saat itu aku tidak mengajakmu ke kamarku mungkin ini semua tidak terjadi kepadamu.” Ucap Axio dengan tulus, karena sejak kejadian itu Axio merasa menyesal apalagi dirinya langsung meninggalakn Naura.


Naura menggelengkan kepalanya pelan. “Itu bukan salahmu, aku juga menginginkanya saat itu.” Ucap Naura jujur. Lalu ia menatik lenganya untuk menyeka air matanya.


“Aku sama sekali tidak menyesali kejadian itu, aku sangat senang karena kehadiran Abang dan Ale.” Ucap Naura jujur, “apa kamu menyesalinya?” Tanya Naura ia kini kembali menatap Axio untuk menunggu jawaban pria itu.


“Aku senang dengan kehadiran kedua anakku, tapi aku merasa bersalah kepadamu.” Ucap Axio, karena dulu ia sempat mendengar jika Ballerina terkenal itu tiba-tiba berhenti menjadi seorang Ballerina dan menghilang entah kemana.


Axio jadi yakin jika saat itu Naura tidak melanjutkan menjadi seorang Ballerina karena tengah mengandung anaknya.


“Jika kamu merasa bersalah, tolong serahkan hak asuh kepadaku dengan begitu kamu tidak perlu merasa bersalah lagi.” Ucap Naura.


Axio hanya diam dia tau jika Naura akan lebih gigih lagi untuk menjauhkan dieinya dari kedua anaknya, ada tasa sakit di dadanya.


“Baiklah, tapi kamu harus janji tidak melarangku untuk menemui mereka.” Ucap Axio lagi.


Naura mengangguk.


“Mom…” lirih Ale yang kini terbangun dari tidurnya.


Axio dan Naura terkejut, Axio langsung bangkin dan mendekati Ale, sementara Naura lebih dulu menurunkan kepala Ale di atas ranjang yang sejak tadi di dudukinya lalu berjalan ke arah Ale.


Rasa sedih kembali melandanya saat melihat wajah pucat Ale, anak itu terlihat sangat lemah bahkan tubuhnya lebih kurus dari seminggu yang lalu.


“Kenapa sayang?” Tanya Axio kini ia menggenggam lengan Ale.


Ale tersenyum. “Ale senang, saat Ale bangun melihat Mom dan Dad.” Ucap Ale dengan tubuh dan lengan yang lemah.


“Iya Mom dan Dad akan di sini menemanimu.” Ucap Axio yang tidak tega melihat anaknya itu.


“Janji? Dad gak akan pelgi lagi? Dad mau bobo baleng Ale?” Tanya Ale sedikit bersemangat walau wajah pucatnya mengisyaratkan jika anak kecil ini sedang sakit.


Axio mengangguk cepat. “Tentu saja, Dad akan selalu ada di sisi Ale mulai sekarang Dad gak akan pergi jauh dari Ale.” Ucap Axio dengan sungguh-sungguh.


Naura melirik ke arah Axio, namun dia hanya diam saja tidak berani berkomentar di depan Ale.


“Ale senang kalena ahilnya Ale punya Daddy.” Ucapnya.


“Ya sayang, kamu punya Daddy. Daddy sayang Ale.” Ucap Axio lagi.


Hati Naura menghangat, ia melihat ada keseriusan dari sorot mata Axio saat mengucapkan janji pada anaknya itu, semoga ia juga bisa menjaga janjinya pada Naura.


“Kalau begitu Daddy juga bisa mengajari kita pelajaran yang susah kita mengerti?” Tanya Axio yang sejak tadi sudah terbangun karena suara ketiga orang itu mengusik tidurnya.


Axio dan Naura menatap ke arah Cristian, anak laki-lakinya itu kini memanjat naik ke ranjang milik Ale.


“Sayang, jangan membuat Daddy kalian susah, dia sibuk bekerja.” Ucap Naura, dia tidak mau menyusahakn orang lain.


“Bisa, Daddy ada banyak waktu untuk mengajari kalian berdua.” Ucap Axio dengan mantap, dia tidak ingin mengecewakan kedua anaknya. 


Sementara Naura merasa tidak enak.


“Kalian sekolah di mana?” Tanya Axio karena mengingat umur anaknya yang sudah cukup usia untuk sekolah.


“Mom sibuk kerja untuk biaya Ale selama ini, tapi Mom sudah janji tahun ini akan


Memasukan kita ke TK B.” Ucap Abang Tian dengan polosnya.


Naura tersenyum lalu mengelus kepala anak laki-lakinya itu. “Iya sayang, Mom janji taun ini kalian akan masuk sekolah.” Ucap Naura.


Sementara Axio semakin merasa bersalah. 


“Asikkk, Ale bisa sekolah.” Teriak Ale walau dengan nada lemah. Abang Tian juga tidak kalah semangatnya.


“Ale, Abang.” Panggil Axio tiba-tiba sampai membuat kedua anak itu menatap ke arahnya, dan Naura juga menatap ke arahnya.


“Dad pulang dulu malam ini, besok pagi-pagi sekali Dad akan datang kesini lagi.” Ucap Axio sambil tersenyum lembut ke arah kedua anaknya itu.


“Dad janji kan akan datang lagi?” Tanya Ale.


“Iya Dad janji, Dad akan bawa hadiah besok untuk Ale dan Abang.” Ucap Axio dan sontak membuat kedua anak itu gembira.


“Asikkk!!!” Teriaknya.


“Abang tolong jaga adikmu yah.” Ucap Axio dan di jawab anggukan oleh Abang Tian.


.


To be continued…