
Axio menatap wajah Naura yang tertidur di sampingnya, sambil mengelus kepala Abang yang tidur di atas tubuhnya.
Naura perlahan membuka matanya saat Ale sedikit merengek dalam tidurnya, Axio tersenyum.
“Dia hanya mengigau.” Ucap Axio saat melihat Naura terbangun.
“Kamu belum tidur kak? Biar aku pindah ke kamar sebelah.” Ucap Naura karena takut jika Axio tidak nyaman.
“Tidak usah, aku baik-baik sana.” Ucap Axio sambil perlahan menurunkan tubuh Abang yang sejak tadi memeluknya dan membaringkan putranya di samping tubuhnya.
Naura menoleh ke arah Axio saat hendak bangun dari tidurnya.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu.” Ucap Axio tiba-tiba samapi membuat Naura terdiam dan menatap ke arah pria itu. “Aku tidak mau seperti ini terus.” Ucap Axio.
Deg. Dada Naura tiba-tiba terasa nyeri, ia tau cepat atau lambat Axio akan muak padanya dan kedua anaknya. Tapi Naura tidak menyangka akan secepat ini.
“Maksudmu apa? Sejak awal jika tidak mau bertanggung jawab, maka berhentilah saat aku menolakmu dulu! Apa kamu tidak kasian melihat anak-anak!” Pekik Naura dengan mata yang sudah memanas, karena merasa kecewa pada pria yang dulu pernah mengecewakanya. Naura tidak mau jika Axio mebgecewakan kedua anaknya juga, cukup samapi dirinya saja.
“Ssuuuttt… jangan berisik. Kemarilah.” Pinta Axio sambil menarik tubuh Naura duduk di atasnya.
Naura membenrontak dengan gerakan pelan karena tidak mau membuat kedua anaknya terbangun. “Apa yang kakak lakukan!” Pekik Naura.
“Diam lah Mom! Aku hanya ingin berdiskusi!” Pekik Axio sambil menahan lengan Naura yang hendak memukul dadanya.
“Apa? Mau apa? Aku bisa duduk seperti tadi tidak usah dengan posisi begini!” Cerocos Naura karena tidak nyaman duduk di atas pangkuan pria ini dan menghadap ke wajahnya.
“Apa kamu gila Kak! Kamu jangan pernah bermain-main dengan kata-kata itu, kamu sudah punya isteri! Mau kamu apakan isterimu jika menikah dengnku?!” Ketus Naura tidak terima, ia kesal dengan tingkah Axio yang seenak jidatnya mengajak dirinya menikah, karena itu artinya Axio tidak peduli dengan perasaan Bella.
“Lalu aku harus membiarakan anakku tanpa seorang ayah? Atau membiarkan anakku memanggil pria lain ayah? Aku tidak mau melihatmu menikah dengan pria lain, aku adalah ayah dari anak-anakmu dan kita—“ ucapanya terhenti saat melihat wajah Naura. “Kita tidak bisa terus begini, tidur bersama tanpa status. Apa kamu lebih suka jika aku meninggalakn anak kita? Dan pergi dengan—“
Naura menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, membayangkanya saja membuat dirinya sakit. Jujur Naura tidak mau, ia sudha nyaman dengan situasi saat ini namun ucapan Axio ada benarnya. Mereka tidak bisa terus seperti ini tanpa hubungan yang jelas, karena cepat atau lambat kedua anaknya akan mengerti kondisi mereka saat ini.
Axio menarik tengkuk wanita itu dan menyandarkan wajah Naura di dadanya, dan membelai halus rambut lembut Mikayla.
“Aku akan bertanya untuk yang terakhir kali, apa kamu mau menikah denganku Naura?” Tanya Axio lagi dengqn serius dan hati yang berdebar-debar.
Naura mengangguk di dada Axio, dia tidak mau berpikir lebih lama lagi. Naura harus jadi wanita egois demi kedua anaknya. Karena baginya dosanya sudah cukup ia tebus dengan penderitaanya selama ini, untuk kedua anaknya Naura tidak mau jika anaknya juga menanggung dosa ibunya.
Axio menjauhkan wajah Naura untuk menatap wanita yang kini sudah terisak.
“Jawab aku Naura.” Ucap Axio.
“Iya, aku mau menikah denganmu.” Ucap Naura, walau harus menjadi isteri kedua Naura tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan kedua anaknya.
Axio tersenyum, lalu memeluk calon isterinya itu.
.
To be continued…