
Ayah dan anak itu selesai berbelanja untuk kebutuhan Mommy nya, Axio menurunkan kedua anaknya dari gendonganya. Mereka berlarian menuju dapur, Axio berjalan mendekati putra putrinya.
Ia memperhatikan Abang Tian yang gesit mengambil beberapa barang di dapur itu, dengan Ale yang duduk di kursi makan sambil mengeluarkan barang belanjaanya.
“Biar Daddy bantu.” Ucap Axio dia duduk di sebelah Ale dan mengambil nampan dan gelas yang sudah di siapkan Abang Tian lalu mengisinya dengan air hangat.
“Makasih Daddy.” Ucap Ale sambil tersenyum ke arah Daddy nya.
“Iya sayang, lalu sudah ini apa lagi?” Tanya Axio yang memang tidak terbiasa melakukan hal-hal seperti itu.
“Abang mau isi kantong ini dengan air hangat, apa Daddy mau menbantu Abang?” Tanya Abang Tian. Axio lalu berdiri dan menghampiri putranya, sementara Ale menyusun makanan yang tadi ia beli di atas nampan itu.
“Tentu saja sayang.” Jawab Axio.
Selesai menyiapkan keperluan Naura, Axio mengikuti kedua anaknya masuk ke dalam kamar untuk menemui Naura.
Naura yang terpejam pun membuka matanya saat mendengar pergerakan seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, ia tersenyum menatap kedua anaknya.
“Sudah Mommy bilangkan, Abang sama Ale tidak usah menyiapkan ini semua saat Mommy sedang datang bulan.” Ucap Naura, namun bagaimana pun dia sangat senang karena kedua anaknya sangat perhatian kepadanya.
“Kita di bantu Daddy ko, jadi Mommy jangan khawatir.” Ucap Abang sambil menunjuk Daddy nya yang sedang di ambang pintu.
Naura menoleh ke arah Axio, dia jadi diam membeku.
Ale dan Abang segera meletakan nampan itu di atas meja dan dan bergegas naik ke aras ranjang.
“Mommy mau minum obat dulu? Atau makan cokelat?” Tanya Ale.
“Coklat.” Ucap Naura, karena dia tau jika Ale pasti akan ikut makan cokelat yang dia makan. Dan benar saja anak itu tersenyum kegirangan dan membuka cokelatnya.
Axio tersenyum, dia juga tidak mau tinggal diam hanya melihat kebahagaian mereka, ia ingin berbaur dan juga merasakan kebahagiaan itu.
“Lalu apa yang bisa Daddy bantu agar Mommy bisa lebih baik?” Tanya Axio dia pun duduk di atas ranjang bersama Ale dan abang.
“Tidak usah Dad, terima ka—“
“Daddy bisa bantu Abang, Daddy mau kompres atau mau pijitin Mommy?” Tanya Abang menyarankan. Axio terdiam, jika ia memilih mengompres it artinya ia harus membuka pakaian yang ada di daerah perut wanita itu.
Jika ia memilih memijit, tetap saja itu artinya ia akan menyentuh bagian tubuh Naura. Tapi tidak mungkin kan dia membiarkan Abang memijit tubuh Mommy nya yang lebih besar dari putranya itu.
“Biar Daddy mijitin kaki Mommy yah.” Ucap Axio, ia hendak menyentuh betis Naura. Namun kaki Naura langsung bergerat karena terkejut saat tiba-tiba di sentuh.
“Kemarilah, Mommy mau nanya sama Abang dan Ale.” Ucap Naura dan membuat kedua anaknya menghentikan aktifitasnya lalu menyenderkan tubuhnya di ketiak kiri dan kanan Naura.
“Ada apa Mom?” Tanya Abang.
“Coba Mommy ingin tau perasaan kalian, sebentar lagi Abang dan Ale sekolah. Apa kalian berdua senang?” Tanya Mommy Naura.
Ale lebih dulu menjawab dengan antusias bahkan dia bangun dari tidurnya dan duduk di antara Axio dan Naura.
“Tentu saja Ale senang, Ale bisa main dengan teman-teman balu.” Ucap Ale dengan senyum lebar di bibirnya.
“Pasti Ale ingin main dengan Nikol kan? Kakak kelas kita nanti?” Sindir Abang.
“Abang!!” Pekik Ale sambil melempar boneka yang di peluknya sejak tadi.
Abang terkekeh, sementara Axio kini hatinya menghangat. Ia senang berada di situasi seperti ini, Axio jadi ingin lebih sering berbaur dengan ketiga orang di hadapanya dan melakukan hal seperti ini setiap sebelum tidur.
Tapi dengan status yang sudah sah.
“Kalau Abang gimana?” Tanya Naura sambil mengelus rambut buah hatinya itu.
“Abang tentu senang Mommy, Abang pasti belajar lebih giat lagi gar Mom dan Dad bangga.” Ucap Abang.
“Ale jugaaa.” Ucapnya tidak mau kalah, lalu keduanya berhambur memeluk Naura.
“Kalian harus berterima kasih pada Daddy, karena Daddy lah yang menyekolahkan kalian sayang.” Ucap Naura.
Axio yang sejak tadi hanya tersenyum menatap ke tiga orang itu sambil memijat kaki Naura, kini tubuhnya terlentang ke belakang karena tanpa aba-aba Ale dan Abang berlari dan langsung memeluk tubuh Daddy nya.
Naura hanya tertawa pelan sambil menahan sakit di perutnya melihat kedua anaknya mencium pipi Axio.
“Makasih Daddy.” Ucap Abang.
“Ale sayang sama Daddy.” Ucap Ale.
.
To be continued…