
Akhirnya mau tidak mau Axio terpaksa membawa Bee datang ke rumah Naura, karena adiknya itu mengancam akan melaporkan semuanya pada isteri dan kedua orang tuanya.
Abang Tian berlari keluar kamar saat mendengar suara pintu yang terbuka. “Daddy, cepat kemari…” teriak Banag Tian sambil menarik lengan Dad nya saat baru masuk ke dalam rumah. “Ale histeris saat bangun tidur karena Ale kira Daddy pergi ninggalin kami.”
Axio yang mendengar itu dia langsung berlari kedalam, di ikuti oleh Bee dari belakang. Bee hanya berdiri di ambang pintu kamar saat Axio mendekati anak perempuan yang sedang manangis.
“Ale sayang, Daddy di sini. Daddy gak kemana-mana.” Ucap Axio dengan cepat ia mengangkat tubuh Ale yang ada di atas pangkuan Naura yang membelakangi Bee.
“Daddy…!!!” Teriak Ape dia langsung memeluk leher Daddy nya sambil menangis tersedu-sedu.
Axio duduk di samping Naura. “Jangan nangis yah, Daddy janji tidak akan meninggalakn Ale, Abang dna Mommy.” Ucap Axio sambil menyeka keringat yang ada di keningnya
Ale mulai berhenti menangis, namun ia masih tersedu-sedu. Axio lalu menatap Naura yang juga menangis sejak tadi. Di usapnya pucuk kepala Naura dengan perlahan.
“Kenapa kamu ikut nangis?” Tanya Axio dengan lembut.
Naura menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. “Aku tidak menyangka jika Ale akan histeris seperti itu saat tidak ada kamu di sisinya.” Ucap Naura, ia jadi takut jika Ale akan semakin parah jika suatu saat nanti Axio tidak kembali.
Di tambah melihat seorang wanita yang Axio peluk semakin membuat Naura takut jika Axio akan melupakan kedua anaknya, ia bahkan berpikir jelek tentang pria itu karena seingatnya isteri Axio bukan wanita yang tadi.
“Ale jangan nangis lagi ya sayang, kasian Mommy nya jadi sedih karena Ale nangis.” Ucap Axio sambil menarik kepala Naura agar menyandar ke pundaknya.
“Daddy, Mommy Abang juga mau peluk.” Ucap Abang Tian dia dengan cepat memluk kedua orang tuanya.
Sementara Bee dia ikut menangis melihat kondisi keluarga itu, melihat isi kamar yang penuh dengan poto dua anak kecil hanya dengan seorang ibu membuat Bee mengingat masa kecilnya dimana ia tidak pernah melihat wajah ibunya.
“Daddy, tadi kemana? Ale sedih kalna pas Ale bangun Daddy tidak ada.” Ucap Ale ia sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Daddy nya.
“Daddy tadi jemput adik Daddy, Aunty kalian.” Ucap Axio kepada kedua anaknya. Naura mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Axio.
Dadanya berdebar-debar berharap wanita tadi adalah adiknya.
“Bee!” Teriak Axio karena ia kira adiknya masih berada di kuar.
“Aku di sini.” Ucap Bee, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Terutama Naura ia menatap ke arah Brisea dengan sangat lekat.
“Naura, kenalkan dia Brisea adik kembarku. Dan ini Naura.” Ucap Axio pada Naura dan Bee.
Naura berdiri mendekati Bee, umur Bee sama dengan Axio. Naura masih jauh lebih muda dari pada Bee, Bee menatap kagum pada wanita muda itu karena sudah berusaha sendiri mengurus kedua keponakan nya.
Keduanya merasa kaku, apalagi Naura dia sampai bingung harus bicara apa dengan kondisinya yang sekarang. Mereka hanya saling berjabat tangan dengan canggung.
Bee menatap sengit ke arah kakaknya. “Tentu saja, kakak kira aku ini apa?!” Pekik Bee dengan kesal.
“Aku hanya bingung kenapa kamu jadi pendiam begini setelah tadi memaksaku untuk bertemu kedua anakku.” Ucap Axio membuat Bee terdiam.
“Aku hanya kaget, melihat putri mu seperti melihat aku saat masih kecil.” Alasan Bee yang memang masuk akal, dia berbicara apa adanya.
“Hei, Ale anakku. Tentu saja dia mirip denganku.” Ucap Axio dengan mata sinis namun suara lembut karena tidak mau membuat anaknya mengikuti cara bicaranya yang kasar.
“Ale? Apa kamu mau Aunty gendong?” Tanya Bee sambil mengangkat kedua tanganya untuk menggendong Ale.
“Tidak, cuci dulu tanganmu! Kamu habis muntah.” Ucap Axio sambil menggendong Ale dan menggandeng Abang Tian dia pergi keluar kamar itu.
Sementara Bee kembali canggung saat tinggal berduaan dengan Naura.
“Dia jahat sekali.” Gumam Ber memecah keheningan.
Naura tersenyum. “Ayo Kak, Kamar mandinya di sebelah sini.” Ucap Naura sambil berjalan ke luar kamar dna membuka kan pintu kanar mandi itu.
Bee mengikuti Naura dari belakang lalu ia masuk ke dalam kamar mandi, di dalam kamar mandi ia melihat sikat gigi dewas berwarna pink dan biru, ia juga melihat sikat gigi berkarakter dengan warna senada dengan orang tuanya.
Bee tersenyum pahit. “Malang sekali nasib kalian.” Ucap Bee karena mengingat jika Ayah dari kedua ank itu adalah suami orang lain.
“Aku tidak tega memisahakn kalian.” Gumamnya, ia pun menyalakan air dan membasuk wajahnya agar sedikit lebih sejuk.
Bee keluar dari kamar mandi, ia terkejut karena kedua anak itu berlari menyerbu dirinya.
“Auntyy… Aunty!!” Teriak Ale dan Abang Tian. Bee tiba-tiba tersenyum dengan dada yang berdegup sangat kencang. Ia berjongkok untuk menyambut kedatangan kedua keponakanya.
“Aynty mau main sama Ale?” Tanya Ale. Di saat yang bersamaan Abang Tian juga bertanya. “Aunty apa benar kamu adik Daddy?”
Bee yang bingung hanya menganga melihat betapa imutnya kedua anak ini, di jarak sedekat ini membuat dieinya ingin mencubit Ale dan Abang Tian detik itu juga.
“Bee! Jangan berani-berani berpikir untuk mencubit pipi kedua anak ku yang menggemaskan itu!” Ancam Axio dengan sorot mata yang tajam.
.
To be continued…
Di sini ada yang udah pernah baca cerita masa kecilnya Bee dan Axio belum?