
Axio berlari dengan semangat menaiki anak tangga, ia tidak peduli larangan Naura untuk tidak menemui anaknya lagi.
Suka tidak suka Axio bertekad tetap datang demi kedua anaknya, ia tersenyum sambil menatap dua paperbag besar di tanganya.
Namun senyumnya menghilang saat Axio sudah dua kali mengetuk pintu, namun sang pemilik rumah tidak kunjung membukanya.
Padahal toko rotinya saja buka seperti biasanya, Axio perlahan membuka pintu itu.
“Kenapa tidak di kunci? Apa mereka baik-baik saja?” Tanya Axio pada dirinya sendiri. Kedua keningnya mengerut saat mendengar jeritan dari arah kamar mandi, tanpa sadar Axio berlari mendekati pintu kamar mandi yang tertutup itu, bahkan paperbag yang tadi di bawanya tergeletak begitu saja di atas lantai.
Ceklek.
Axio terkejut saat hendak membuka pintu, karena pintu kamar mandi itu terbuka dengan sendirinya.
“Daddy??” Panggil kedua anaknya saat mereka bertiga keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk dengan seluruh tubuh yang basah.
Axio berdiri mematung saat melihat tubuh dan rambut Naura yang basah hanya mengenakan handuk, keduanya sama-sama terkejut.
Dengan cepat Naura berlari ke arah kamar, sementara Axio walau ia terlambat melakukanya Axio tetap membalikan tubuhnya agar tidak melihat sosok Naura.
“Daddy kenapa?” Tanya Ale bingung, bukanya memeluk mereka. Axio malah membelakangi Ale dan Abang yang sudah gembira menyambut kedatanganya.
“Daddy gak tau kalau kalian sedang mandi, Daddy kaget saat dengar jeritan di kamar mandi jadi Daddy langsung masuk.” Ucap Axio sambil mensejajarkan tubuhnya dengan kedua anak itu, suara Axio dapat di dengar Naura ealau pintu kamar itu tertutup.
Dengan cepat Naura segera memakai pakaianya.
“Iya, tadi abang sama Mommy jailin Ale siram-siram pake ail.” Ucap putri Axio yang cadel itu.
“Ale senang?” Tanya Axio karena wajah Ale terlihat lebih segar dari seminggu yang lalu.
“Tentu saja Dad.”
Axio tertawa lalu mengusap lembut rambut basah Ale, lalu menatap tubuh putra dan puterinya yang hanya mengenakan handuk.
“Mana baju kalian? Biar Daddy yang pakaikan kalian baju.” Ucap Axio.
Walau dia belum pernah melakukan itu, setidaknya ia akan berusaha. Lagi pula hal yang mudah memasangkan kedua anaknya pakaian, pikirnya.
Namun rupanya Axio sangat kesulitan memakaikan kedua anaknya itu baju, itu jauh lebih sulit dari pada memecahkan maslaah dalam pekerjaanya.
Naura yang baru keluar dari kamar, hanya menghela nafasnya kasar.
“Biar aku saja,” ucap Naura. Namun Axio kembali menarik pakaian Abang dari lengan Naura.
Naura menatap bingung.
“Aku juga bisa.” Ucap Axio namun sedetik kemudian, ia kesulitan untuk memasukan lengan Abang ke dalam baju itu.
“Berikan kepadaku, aku akan mengajarimu.” Ucap Naura akhirnya. Dia pun dengan telaten memasangkan kedua anaknya baju, ia juga memberi beberapa tips pada Axio agar kedua anaknya tidak berlari kesana kemari saat memakai pakaianya.
Axio mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Daddy ini apa?” Tanya Abang saat melihat paperbag yang tergeletak di atas lantai.
“Oh itu, itu pakaian untuk kalian. Daddy yang menilihnya sendiri.” Ucap Axio sambil mengulum senyum dengan bangganya ia menyombongkan dirinya karena bisa memilih pakaian untuk anaknya.
“Tidak perlu, baju Mommy masih banyak Ale.” Ucap Naura buru-buru.
Sementara Axio terdiam, dia tidak tau jika dirinya boleh atau tidak bileh membelikan baju untuk ibu kedua anaknya itu.
Dia juga sampai bingung saat memilih baju untuk Naura, hingga akhirnya di urungkanya.
“Tapi Dad, pakaian ini tidak ada yang muat untuk ku. Ini sedikit lebih kecil.” Ucap Abang Tian setelah memakai salah satu baju itu.
Axio mengerutkan keningnya.
“Benarkah? Daddy sudah minta size umur 5 tahun.” Ucap Axio dia segera memeriksa pakaian itu.
Naura tersenyum. “Anak kita lebih besar dari anak umur 5 tahun.” Ucap Naura sambil tertawa, Axio menatap Naura.
Ada rasa aneh yang menggelitik di dalam hatinya saat setiap mendengar Naura menyebut kata ‘anak kita’ .
“Ngomong-ngomong, aku akan mendaftarkan anak kita sekolah tahun ini.” Ucap Axio mengingat umur anaknya susah memasuki waktu untuk bersekolah.
Naura menggeleng pelan. “Aku tidak setuju, aku akan mengajarkan anak ku sendiri pendidikan dasar. Mereka boleh sekolah saat masuk SD.” Ucap Naura.
“Tidak, aku tetap akan memasukan mereka sekolah TK tahun ini.” Tegas Axio.
“Aku ibunya Kak, kamu tidak bisa seenaknya mengatur kedua anakku.” Ucap Naura.
“Karena itu, aku juga Ayahnya! Aku ingin pendidikan yang terbaik untuk kedua anakku.” Tegas Axio lagi tidka mau di bantah. “Masalah uang kamu tidak perlu memikirkanya, mereka juga akan di jaga oleh Baby sitternya masing-masing.
Naura menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat itu Axio jadi mulai prustasi, ia meremat rambut kepalanya kesal. Namun tetap menarik tubuh Naura kedalam dadanya.
“Suka tidak suka aku akan tetap menyekolahkan kedua anakku, jangan menangis seperti ini. Jadi seorang ibu tidak boleh cengeng, bagaimana anakmu bisa berlindung padamu jika ibunya saja cengeng dan rapuh seperti ini.” Ucap Axio sedikit memberi saran.
Kedua anaknya yang melihat Mom nya menangis dengan segera memeluk Daddy dan Mommynya itu.
“Huaa Mommy kenapa nangis? Ale jadi sedih.” Teriaknya dengan air mata yang maul mengalir, Ale selalu menangis ketka Naura menangis. “Daddy jangan pelgi lagi dan buat Mommy menangis, Daddy halus tinggal dan tidul bersama kita jangan kerja telus.” Keluh Ale yang dia tau jika Daddy nya selama ini pergi untuk bekerja, karena itulah Naura bilang jika Daddy nya tidak bisa tidur bersama mereka.
Naura yang menangis langsung terhenti mendengar ucapan Ale yang tiba-tiba. Axio langsung menatap ke arah Naura, begitu juga dengan Naura.
“Ale, Daddy harus pergi bekerja lagi.” Ucap Naura pada anak perempuanya itu.
“Apa kita keluarga?” Kali ini Abang Tian yang bertanya sampai membuat Axio dan Naura kebingungan untuk menjawab pertanyaan puteranya. “Semua teman di kompek ini bilang, jika Ayahnya tidak tinggal bersama dengan anak dan ibunya merkea bilang jika kedua orang tuanya berpisah. Apa kalian berdua berpisah?” Tanya Abang Tian.
Walau dia sendiri tidak mengerti dnegan ucapan yang di ungkapkan temanya, setidkanya ia menyadari satu hal selama bertemu dengan Daddynya.
Mereka tidak pernah tidur bersama.
“Huaaa, Daddy jahat! Daddy ninggalin Ale, Abang dan Mommy!” Teriak Ale lagi dengan histeris, anak yang berada di pangkuan Naura itu tiba-tiba meraskan sesak di dadanya sampai membuat Axio dan Naura kewalahan.
Axio segera menghubungi Sean, untuk segera datang ke rumah Naura.
.
To be continued…