
Axio melepaskan dasinya dengan kasar dan melempar dasi itu dengan tenaga kuat seolah melampiaskan kekesalannya sejak tadi.
“Sial!” Pekik Axio kesal.
Kedua sahabatnya menatap bingung ke arah Axio, selain bingung karena tiba-tiba mengajak mereka minum di Club. Sean dan Boy juga bingung dengan sikap Axio yang tiba-tiba marah, padahal sejak seminggu lalu Axio terlihat begitu hangat.
“Ada apa?” Tanya Boy yang sama sekali tidak mengerti dengan maslaah yang sedang menimpa sahabatnya.
Sementara Sean ia meletakan gelas di atas meja, lalu mendekati Axio dan memegang bahu pria itu.
“Apa Naura kembali melarang mu mendekati anaknya?” Tanya Sean.
Sean sngat paham dengan sifat Naura yang angkuh, wanita itu sejak awal menolak meminta bantuan pada Axio.
“Mereka anakku juga, bukan hanya anaknya. Aku sudah berusaha keras bersikap baik di depan wanita itu, tapi dia terlalu egois.” Ucap Axio dengan kesal, ia pun membuka satu kancing kemejanya karena merasa sesak.
“Apa sejak awal bercinta denganmu dia memang tidak tertarik padamu, Ay?” tanya Boy bingung harusnya melihat pria setampan Axio dia akan luluh, seperti para wanita yang ia bawa selalu berpaling pada sahabatnya.
Axio menatap tajam Boy, rasa kesal kini melandanya. Dia bahkan melakukan hal itu karena tertarik pada sosok gadis muda lima tahun lalu, tapi rupanya Naura tidak sama denganya.
Axio mengepalkan kedua telapak tanganya.
“Aku hanya ingin hakku sebagai seorang Ayah!” Pekiknya kesal, ia menjawab seolah tidak peduli dengan perasaan Naura terhadapnya.
“Kalau dengan cara lembut tidak mempan juga, bukan kah kamu harus memaksanya dengan cara apapun.” Ucap Boy lagi.
Boy kadang tidak pernah berpikir matang jika sedang berbicara, ia hanya mengucapkan apa yang spontan keluar dari mulutnya.
“Memangnya kamu mau mengambil kedua anakmu dari Naura?” Tanya Sean akhirnya, dia sangat penasaran dengan tujuan Axio.
Karena Sean tau pria itu juga masih belum bilang pada isteri dan kedua orang tuanya jika ia memiliki dua anak kembar.
Axio terdiam, ia semakin mengepalkan lenganya karena tidak bisa menjawab ucapan Sean. Jujur saja Axio bukan tidak mau kedua irang tuanya tau, atau bahkan isterinya.
Dia hanya ingin membuat kedua anaknya dekat dengan dirinya lebih dulu, baru membawanya ke kedua orang tuanya.
Walau dia tau konsekuensi yang akan dia dapat dari kedua orang tuanya, tapi Axio juga yakin jika kedua orang tuanya itu tidak mungkin tidak menerima anak-anaknya.
Berbeda dengan Bella, Axio tidak tau apa yang akan di lakukan wanita itu pada kedua anaknya.
Tapi satu yang pasti, tidak semua ibu sambung adalah ibu yang jahat. Karena ia sendiri mendapatkan ibu sambung yang benar-benar menyayanginya.
“Aku hanya ingin peranku sebagai seorang Ayah.” Ucap Axio akhirnya ia mendapat jawaban dari dirinya sendiri. “Aku ingin terlibat dalam segala hal yang di lakukan kedua anakku, termasuk mendidik dan menemani mereka di masa kecilnya.”
“Kalau begitu, bersikaplah egois seperti apa yang Naura lakukan padamu. Tentu saja kau harus tidak tahu diri seperti sikapmu selama ini, bukan kah karena itu kau sellau mendapatkan apa yang kau mau Ay?” Tanya Boy lagi.
Sean hanya menghela nafasnya kasar, karena sahabatnya yang satu ini selalu mengompori Axio.
“Ya kau benar.” Ucap Axio, sampai membuat Sean kembali menghela nafas karena sikap Axio yang gampang terhasut oleh Boy.
*
*
“Sayang, apa kamu lelah hari ini?” Tanya Bella ia bergelendot manja di lengan Axio yang baru saja sampai. “Apa kita bisa bercinta malam ini sayang?” Tanya Bella lagi dengan suara genitnya.
Sejak seminggu lalu Axio sangat sibuk, tapi Bella tidak mempermasalahkan itu karena dirinya sendiri pun sama sibuknya.
Jika tidak mengingat kedua orang tuanya yang memaksa untuk segera memberi momongan, Bella lebih menilih tidur karena kerjaanya selalu membuat dirinya lelah.
Bella naik ke atas pangkuan Axio yang hanya diam menatap ke arahnya. “Mama bilang kita harus segera punya anak.” Ucap Bella tiba-tiba.
“Iya aku mengerti.” Ucap Axio.
“Aku tau kamu pasti lelah, aku juga sama.” Ucap Bella lagi, “mama ku terlihat ketakutan jika kita masih belum punya anak.” Ucap Bella dia langsung mencium bibir tebal Axio.
Axio melepas ciuman itu lalu menatap Bella dengan serius. “Kenapa dengan orang tuamu?” Tanya Axio karena biasanya kedua orang tuanya lah yang selalu meminta dirinya untuk segera mempunyai keturunan.
“Dia terlalu parno, dia mendengar menantu sahabatnya sendiri pulang membawa anak dari hasil hubungan gelapnya dengan wanita lain.” Ucap Bella sambil tertawa mengingat cerita konyol itu. “Dan bodohnya wanita itu menerima anak dari hasil hubungan gelap itu, jika aku jadi dirinya aku pasti akan langsung menceraikan pria brengsek itu.” Ucap Bella tanpa sadar jika ucapanya memancing amarah Axio.
“Kenapa menceraikannya? Bukan kah kau bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk anak itu?” Tanya Axio dengan wajah tak suka.
Bella menatap suaminya sambl tersenyum. “Aku mungkin bisa menjadi isteri yang baik, tapi aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak dari wanita lain.” Ucap Bella wanita itu hendak mencium bibir suaminya.
Namun Bella langsung menjerit kesakitan saat tubuh Axio yang tiba-tiba berdiri. “Ay! Kenapa kamu berdiri mendadak! Pantatku jadi sakit!” Pekiknya karena ia terjatuh dan terduduk di atas lantai.
“Mommy ku sendiri bisa jadi ibu sambung yang baik untuk kami bertiga, bahkan sampai saat ini dia selalu bersikap baik padaku dna adik-adikku. Apa kamu tidak bisa bersikap baik seperti Mommy?” Tanya Axio yang berdiri di depan Bella yang masih terduduk di lantai.
“Ay! Itu kan hanya cerita orang lain. Kenapa kamu harus emosi? Aku tidak bilang jika Mommy mu itu jahat kan?” Tanya Bella bingung, namun Axio malah pergi meninggalkan Bella begitu saja.
“Ish, ada apa denganya? Kenapa dia tiba-tiba selalu bersikap menyebalkan begitu.” Pekik Bella, dia pun bangkit dan mengusap bokongnya yang terasa nyeri.
“Jika tau begini sejak awal aku tidak akan menunggunya, aku akan langsung tidur karena besok ada rapat pagi.” Keluhnya menyesali kelakuanya tadi yang menuruti kedua orang tuanya.
Karena memang sejak awal prioritas utama Axio dan Belle adalah pekerjaan, mereka berdua tidak pernah mempermasalahkan anak.
Di kamar mandi Axio sudah berkali-kali memukul dinding sampai lenganya berdarah, walau terkena guyuran air pria itu terlihat tidak meringis sedikitpun dengan lukanya.
Karena kuka di hatinya lebih besar dari luka yang ada di lenganya, bagaimana mungkin Axio sempat berpikir jika Bella akan sama dengan Mommy nya.
Rasa tidak tenang mulai menyelimuti hatinya, dia tidak mau membuat kedua anaknya hidup bersama isterinya.
Axio ingin membuat kedua anaknya bahagia, tapi dia sendiri masih bingung dengan cara apa membahagiakan kedua anaknya.
.
To be continued…