
Naura menoleh ke arah pintu saat Axio dan Abang Tian datang, wanita yang sejak tadi menangis kini akhirnya terlihat sedang melebarkan senyumnya.
Ia tersenyum mendekati anak dan pria yang sudah menolongnya, Naura sedikit berlari dan memeluk kedua orang itu.
Deg!
“Makasih, makasih banyak sudah menolong ku dan Anak-anak.” Ucap Naura, karena tanpa Axio dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mata Axio membelalak, entah mengapa hatinya kini menghangat. Dia tidak menyangka jika Naura mengucapkan kata Terima kasih, padahal beberapa waktu lalu Naura masih menatapnya dengan sinis karena takut jika kedua anaknya di bawa pergi oleh dirinya.
“Itu sudah menjadi kewajibanku, Naura. Karena mereka berdua juga anakku.” Ucap Axio lenganya pun terurur untuk menyentuh kepala Naura.
Naura mengangkat wajahnya untuk menatap Axio, dada pria itu malah semakin berdebar-debar tidak karuan karena menatap wajah ibu dari anak-anaknya dengan jarak yang sangat dekat.
“Aku pasti akan membalas semua kebaikanmu.” Ucap Naura, ia lalu melepaskan pelukanya dan melangkah mundur.
Naura baru sadar atas sikapnya yang kurang ajar. “Maaf, aku tidak bermaksud—“
“Tidak masalah, bagaimana dengan Ale?” Tanya Axio dia menatap Ale yang tertidur dari kejauhan.
“Dia belum sadar, dokter bilang kondisi Ale jauh lebih baik dan operasinya berhasil. Karena itu aku sangat berterima kasih padamu Kak.” Ucap Naura dengan sungguh-sungguh.
“Kapan aku bisa bicara dengan Ale?” Tanya Abang karena sejak tadi ia hanya melihat interaksi kedua orang tuanya.
Tentu saja Abang senang.
“Nanti saat dia sadar sayang, kita tidak boleh mengganggu Ale dulu.” Ucap Axio dan kembali mencium pipi tembam Abang yang ada di gendonganya.
***
Beberapa jam lalu, Ale sudah sadar namun masih dalam pengaruh obat bius. Axio terbangun dari tidurnya, ia tidur berdua dengan Abang di ranjang di samping Ale.
Sementara Ale tidur dengan Naura di ranjang pasien, anak itu merengek terus dan tidak mau jauh dari Mommy nya.
Axio beranjak dari tidurnya ia berjalan dan duduk di samping ranjang Ale, banyak hal yang Axio pikirkan termasuk masa depan kedua anaknya.
Axio mengelus lengan Ale yang sedang tidur dengan sedikit pencahayaan, Axio sangat bersyukur karena Ale bisa kembali sehat walau masih lemah.
Axio janji dia akan memberikan yang terbaik untuk anaknya itu, putrinya itu terbangun tiba-tiba dan sedikit merengek.
“Ale sayang, kenapa? Ini Daddy.” Ucap Axio hendak bangun untuk mengangkat tubuh Ale.
Namun Naura lebih dulu bangun dari tidurnya, dengan setengah sadar ia memeluk putrinya.
“Sssuuutt,, jangan nangis sayang.” Ucap Naura dengan lengan yang kini menarik tubuh Ale kepangkuanya.
Axio terdiam. Dia bingung, bagaimana mungkin Naura yang setengah sadar dengan mata yang masih terpejam bisa duduk dan menggendong Ale naik ke pangkuanya.
“Anak Mommy, jangan nangis yah sayang.” Ucap Naura masih dengan mata yang terpejam.
Axio menutup mulutnya sendiri dengan telapak lenganya,ia sangat terkejut.
Rupanya Naura memberi asi pada putrinya, Axio tidak menyangka jika Ale masih minum asi.
Dada Axio berdebar-debar tidak karuan, ia tidak bergerak dan juga tidak beranjak. Karena pencahayaan kecil hanya mengarah ke ranjang pasien, jadi siapapun tidak akan ada yang melihat jika Axio sedang menyaksikan seorang ibu yang memberi asi pada anaknya.
Axio tidak tau jika perubahan Naura begitu banyak, jujur saja dulu Naura yang berumur 20 tahun mempunyai dada yang hampir rata bahkan jauh lebih kecil dari anak ABG pada umumnya.
Namun mengingat Naura adalah seorang Ballerina, itu hal yang wajar.
Tapi kali ini Axio benar-benar terkejut, ia bergegas berjalan perlahan ke arah luar. Dia takut jika Naura memergoki dirinya yang sedang melihat Naura yang memberi asi pada Ale.
Napas Axio sangat legak, rasa sesak seketika hilang saat ia berhasil keluar dari kamar itu.
“Kamu kenapa keringetan begitu?” Tanya Sean yang berjalan ke arahnya.
Axio menyeka peluh di keningnya lalu menatap ke arah Sean yang kini hendak melewati dirinya.
“Mau kemana kamu?” Cegak Axio dengan sorot mata tajamnya.
Sean mengerutkan keningnya. “Kamu kenapa? Tentu saja aku harus kembali memeriksa Alle.” Jawab Sean bingung, karena sebelumnya dirinya juga sudah memeriksa Ale dan bilang jika tiga jam yang akan datang dia akan kembali memeriksa kondisi Ale.
“Tunggu, biar aku masuk lebih dulu.” Ucap Axio.
“Kamu kenapa?” Tanya Sean bingung.
“Apanya?” Tanya Axio.
“Aku suka sikapmu yang ramah saat bersama anakmu, kenapa sikap dinginmu kembali lagi?” Tanya Sean malas. Karena rupanya pria itu bersikap manis hanya di depan kedua anaknya saja, selebihnya ia kembali seperti biasanya.
“Tunggu, sebelum aku suruh masuk.” Tegas Axio tanpa meghiraukan ucapan Sean yang bertanya padanya.
Dadanya kembali berdegup sangat kencang, perlahan ia melirik ke arah Naura. Rupanya wanita itu sudah bangun dengan Aleya yang sudah berbaring di atas ranjang.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Axio basa-basi.
“Iya, karena sekarang waktunya Dokter Sean datang dan memeriksa kondisi Ale lagi.” Ucap Naura sambil merapihkan pakaianya.
Axio mengangguk. “Dia sudah ada di depan, kalau begitu aku akan menyuruhnya masuk.” Ucap Axio masih dengan mata yang menelusuri bentuk tubuh Naura.
“Iya terima kasih, Kak.” Ucap Naura yang sedang menyelimuti tubuh Abang Tian.
Axio segera membuka pintu itu. “Masusklah.” Ucap Axio dengan datar, dia lalu lebih duku kembali berjalan masuk.
.
To be continued…