
Keesokan harinya Axio menepati janjinya, ia datang dengan dua paperbag besar dan beberapa orang di belakangnya sampai membuat Naura terdiam mematung menatap kedatangan Axio.
“Daddy!!!” Seru Abang Tian dengan suara lantangnya sampai membuat Aleya yang sedang melihat buku dongen kini menatap ke arah pintu dimana Daddynya berada.
“Naura? Aku boleh masuk?” Tanya Axio karena wanita itu tidak kunjung menyingkir, dan malah diam mematung menghalangi arah jalan masuk Axio.
“Ah, silahkan. Tapi siapa mereka?” Tanya Naura karena Axio membawa dua wanita berpakaian serba pink, dan satu wanita paruh baya. Naura semakin mengerutkan keningnya karena rupanya di belakang ketiga orang itu ada beberapa orang berpakaian serba hitam.
“Mom, Dad mau masuk.” Ucap abang Tian akhirnya Naura pun membuka pintu itu dengan lebar.
“Daddy!! Aku kira Daddy tidak akan datang.” Ucap Aleya saat melihat jika Daddynya datang.
Sejak pagi Aleya terus bertanya kapan Daddy datang, bahkan dia sempat mengeluh jika Daddynya itu tidak akan datang.
“Daddy bawa mainan untuk kalian berdua.” Ucap Axio dengan senyum lebarnya, dia menatap kedua anaknya yang bersorak bahagia.
“Ini untuk abang, dan ini untuk Alee…” ucap Axio sambil menyidorkan paperbag besar itu kepada kedua anaknya.
“Daddy telima kasih, Ale senang sekali.” Ucap Ale, Axio pun mengangguk sambil mengeluk kepala Ale yang sedang berbaring di atas ranjang.
“Daddy datang kesini juga sudah lebih dari cukup untuk Abang, tapi Abang sangat berterima kasih Dad.” Ucap Abang Tian.
“Tentu saja Dad pasti datang, Dad sudah janji akan terus menemui kalian kan? Daddy juga akan menunggu Ale saat operasi.” Ucap Axio sambil mencium kedua pipi Ale.
Dia lalu menatap ke arah Naura yang sejak tadi tersenyum, namun senyuman itu hilang saat sadar jika Axio kini menatap ke arahnya.
“Naura, kenalkan ini Bibi Nur dan mereka berdua baby siter yang akan mengurus si kembar mulai sekarang.” Ucapan Axio membuat raut wajah Naura berubah seketika, ia merasa tidak terima saat Axio seenaknya membuat keputusan.
“Jangan marah, aku tidak bermaksud seenaknya. Aku di sini juga masih menunggu ijin darimu, mereka berdua akan mengurus si kembar. Aku tau jika kamu juga sibuk dan aku juga tidak bisa setiap jam di sini karena banyak pekerjaan, tapi aku mohon agar aku merasa tenang bisa meninggalkan mereka berdua dalam keadaan aman.” Ucap Axio.
“Tapi kamu terlalu berlebihan, anak ku tidak butuh semua ini. Orang-orang di luar juga.” Ucap Naura menunjuk ke arah pintu dimana Naura yakin jika di luar adalah orang-orang yang di suruh Axio untuk menjaga anaknya.
Axio melangkah ke arahnya, dia menarik Naura duduk di sofa agar lebih jauh dari kedua anaknya.
“Aku mohon jangan menganggap ini semua hal yang berlebihan, aku pria beristri. Dan aku pembisnis di luar sana banyak irang yang akan menjatuhkanku, aku tidak mau anak-anakku dalam bahaya.” Ucap Axio membuat Naura terdiam.
Axio menarik lengan Naura, dia menatap Naura dengan serius.
“Percaya padaku jika semua ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua.” Ucap Axio. Akhirnya Naura pun menyetujui keputusan yang di buat Axio.
*
*
Beberapa jam kemudian, Boy yang sejak kemarin tau mengenai kabar kedua anak kembar sahabatnya itu dengan sengaja segera pulang dari luar negeri hanya untuk memastikan jika Sean sahabat nya tidak sedang berbohong.
Kini ia menatap kedua anak kecil bermata bulat dan pipi tembem itu tanpa sedikit pun mengedipkan matanya.
Axio terkekeh pelan, menatap kedua anaknya yang ada di pangkuanya.
“Hentikan Boy! Kau menakuti putra dan putriku.” Ucap Axio.
“Axio, bagaimana kamu bisa membuat kedua anak lucu seperti ini?” Tanya Boy bingung karena melihat ayah dari kedua anak ini yang berwajah datar dan dingin. “Mereka sangat mirip denganmu, tapi bedanya kau terlalu menyeramkan!” Ucap Boy dengan jujur karema saat ini saja Axio sedang menatap wajahnya dengan tajam.
“Kamu! Jangan bicara sembarangan di depan kedua anakku!” Pekik Axio kesal, namun ia berusaha selalu memperlihatkan sikap lembutnya di depan kedua anaknya.
“Mereka lebih mirip Nona Bee saat kecil.” Ucap Bibi Nur yang tau bagaimana tumbuh kembang Axio dan kedua adik kembarnya.
“Ya benar, Bee memang cantik.” Ucap Boy tanpa sadar dan langsung mendapat tatapan tajam dari Axio. “Ngomong-ngomong berkat aku kalian berdua lahir di dunia ini.” Ucap Boy tiba-tiba saat mengingat jika dirinya lah yang membuat Axio dan Naura bertemu.
“Aku tidak mau punya Daddy sepelti paman.” Ucap Ale ia langsung berbalik memeluk tubuh sang Daddy, menurut Ale Boy terlihat aneh.
“Hei bukan begitu mak—“
“Sudah cukup! Ayo Ale, sudah waktunya untuk operasi, kamu sidah siap Nona cantik?” Tanya Sean sambil mencolek hidung Ale yang kini naik kepangkuan Sean.
Lalu Sean menyimpan Ale di atas brankar.
“Biar aku yang gendong Anang.” Ucap Boy, agar Axio lebih leluasa bersama dengan Ale yang siap melaksanakan operasi.
Semua orang yang sejak tadi terlihat banyak tertawa saat mengobrol, tiba-tiba suasana terasa sangat gaduh dengan perasaan yang campur aduk.
“Alee siap Om dokter, Daddy Mommy kalian akan menunggu Ale kan?” Tanya Ale polos, kini ia berbaring sambil menatap kedua orang tuanya yang berjalan di samping kiri dan kanan brankar yang ia pakai.
“Tentu saja sayang, Mommy sama Daddy nunggu Ale di luar ruang Operasi. Kita akan bertemu lagi setelah Ale selesai operasi.” Ucap Naura yang sejak tadi sudah menangis, dia bahkan sampai bersembunyi di dalam toilet agar tidak ada yang menyadarinya jika dirinya sedang bersedih.
“Dad…” panggil Ale dia menatap ke arah Axio. Axio yang di panggil langsung memegang lengan Ale sambil berjalan menuju ruang operasi. “Jaga Mommy sama Abang selama Ale opelasi.”
“Tentu Nak, Daddy pasti jaga Mommy dan Abang. Ale harus kuat Ale harus sembuh, Daddy janji akan bawa Ale pergi kemanapun Ale mau.” Ucap Axio dengan mata yang mulai memanas, ia sendiri tak kuasa menahan air matanya.
Saat sampai di depan ruang operasi, para suster memberi jeda. Mereka membiarkan kedua orang taunya untuk mencium anaknya lalu mereka pun masuk kedalam ruang operasi.
Detik itu juga air mata Naura kembali pecah, ia tak kuasa melihat anak sekecil itu menderita.
Axio yang melihat Naura menangis, ia langsung mendekati wanita itu dan memeluk tubuh Naura.
“Anak kita pasti sembuh.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Axio, tangisan Naura malah semakin menjadi-jadi di dalam pelukan Axio.
.
To be continued…