
Axio menatap datar Bee yang dengan mudahnya menyuruh dirinya segera menikah dengan ibu dari anak-anaknya, bukan berarti tidak ada niat untuk menikahi Naura.
Selain ingin membuat anaknya bahagia dengan keluarga yang harmonis, Axio yakin jika Naura tidak akan dengan mudahnya menerima pernikahan ini.
Itu sebabnya Axio lebih memilih mendekati wanita itu secara perlahan, dan meluluhkan hati wanita angkuh itu.
“Kak! Jawab, kenapa malah bengong?” Keluh Bee dengan kesal.
“Kenapa kamu menyuruhku menikah denganya?” Tanya Axio yang ingin tau tujuan adiknya itu.
“Kau kan tinggal bersama mereka? Bahkan kalian tidur bersama, apa kau gila itu jelas dosa. Apa kakak akan melukai Naura untuk yang kedua kalinya? Apa kakak tidak memikirkan mental Naura selama dia mengurus kedua anakmu? Demi anak-anakmu kak!” Jawab Bee dengan kesal.
Bee tau jika Axio tidak sejahat itu walaupun pria ini selalu bersikap menyebalkan padanya, melihat kedua anak kembar itu
“Kau memang benar, Bee. Tapi juga bodoh!” Ucap Axio sambil tersenyum simpul dan mengulurkan lenganya untuk menepuk-nepuk pelan kepala adiknya.
“Bodoh? Dimana letak kebodohanku?” Tanya Bee tidak terima.
Axio berdiri, ia lebih memilih turun ke bawah dan membantu kedua anaknya membuat roti.
“Ya kau bodoh karena tidak bisa menebak isi hatiku.” Ucap Axio, karena memang benar Axio juga berniat menikahi Naura karena rasa bersalahnya selama ini.
Selain itu… Entah mengapa hatinya selalu sakit melihat ibu dari anak-anaknya itu ketika menangis, rasa ingin melindungi dan rasa ingin menjadi orang yang dapat di andalkan oleh wanita rapuh itu membuat Axio semakin yakin ingin menikahinya.
“Memang apa yang tidak ku ketahui?” Tanya Bee mengekori Axio yang kini berjalan ke arah pintu.
“Naura bukan wanita yang mudah menutut, aku harus lebih keras lagi meluluhkan hatinya.” Jawab Axio sambil berjalan menuruni anak tangga.
“Apa aku tidak salah dengar? Kau kan Axio, kau pria yang selalu mendapatkan apa yang kau inginkan walau harus memaksanya.” Ucap Bee membuat langkah kaki Axio terhenti.
Axio membalikan tubuhnya dan menatap adiknya yang berada di anak tangga yang lebih tinggi darinya.
“Kak Bella…” lirih Bee baru teringat kakak iparnya, “membantu apa?” Tanya Bee lagi dengan wajah penasaran.
“Membantu aku merahasiakan semua ini sampai aku siap mengambil keputusan, dan…” ucapanya terjeda karena Axio tersenyum saat memikirkan sesuatu. “Bantu aku agar Naura menyukaiku.” Ucap Axio lalu kembali melangkahkan kakinya.
Bee mengangguk. “Tentu saja, aku pasti membantumu. Tapi aku boleh kan menemui mereka terus?” Tanya Bee kembali mengekori Axio.
“Tidak boleh!”
“Kak! Ayolah?!” Pekik Bee.
“Tidak boleh!”
“Aku akan membuat Naura menyukaimu.” Rayu Bee.
“Tidak— ya kau boleh menemui mereka.” Ucap Axio lalu membuka pintu toko roti itu dan masuk kedalamnya bersama dengan Bee.
“Yes…” ucap Bee dengan senang.
“Alee, Abang Aunty mau bantu juga.” Ucap Bee dia lebih dulu berlari ke arah kedua keponakanya yang sedang sibuk membuat roti.
Ale dan Abang tentu saja langsung menyambut kedatangan Aunty nya dengan senang.
Sementara Axio yang tadinya berniat membantunya, dia lebih memilih duduk di meja tamu tempat orang-orang makan roti di sana.
Dia memberi kesempatan pada adiknya agar lebih dekat dengan kedua anaknya dan Naura.
.
To be continued…