
Kini Ale terlihat jauh lebih senang, tidak ada tangisan lagi di wajahnya. Axio memeluk tubuh Ale yang sejak tadi duduk di pangkuan, ia nampak bersiap untuk malam pertamanya tudur bersama Daddy, Mommy dan Abangnya.
Beberapa saat lalu Axio telah mengganti pakaianya dengan setelan tidur yang senada dengan kedua anaknya dan ibu dari anak-anaknya.
Tentu saja Ronal yang menyiapkan itu, ia jadi lebih keras lagi bekerja akhir-akhir ini. Tapi Ronal juga senang melakukanya.
Abang dan Mommy nya masuk ke dalam kamar, mereka baru sepesai mandi dan mengganti baju.
“Abang, ayo! Ale sudah tidak sabal ingin mendengar Daddy membaca buku dongeng.” Ucap Ale dengan gembira, ia berlari ke tengah ranjang untuk memposisikan tubuhnya di tengah.
Axio juga ikut membaringkan tubuhnya di sisi kiri sambil memeluk Ale yang ada di sampingnya dan menatap ke arah kanan.
Sementara Naura melakukan hal yang sama di tempat sebaliknya, ia memeluk Abang dari belakang dan menatap ke arah Ale dan Axio.
“Dad, apa Daddy takun bisa membaca buku dongeng?” Tanya Abang Tian tiba-tiba, membuat ale dan Naura menatap ke arahnya.
Sementara yang di tatapnya hanya bisa menelan salivanya susah, ia memang belum pernah melakukanya. Namun saat mengingat betapa kakunya Dad Daren saat membacakan dongeng saat ia kecil, sudah sangat jelas jika dia akan terlihat seperti Dad Daren dulu.
“Tidak aku pasti bisa,” gumam Axio dalam hatinya mengingat sikap dirinya yang penyayang pada kedua anaknya, berbeda dengan Dad Daren yang malah sering mengacuhkan ketiga anak kembarnya.
Ya Dad Daren malah sering mendekati ketiga anaknya saat datangnya pengasuh baru untuknya dan kedua adik kembarnya, tentu saja dia hanya mencari perhatian pada Mom Aneu.
Sementara dirinya, ia dengan senang hati melakukan itu untuk kedua anaknya.
“Tentu saja Daddy bisa sayang.” Ucap Axio.
Namun beberapa menit kemudian wajah Axio menucat, nyatanya ia membaca ceria itu dengan datar sampai membuat kedua anaknya bosan.
“Sial aku harus belajar lebih rileks lagi!” Pekiknya dalam hati, untung nya Naura menawarkan diri untuk melanjutkan ceritanya.
Axio menatap kedua anaknya yang sudah tertidur, ia terkekeh pelan melihat kedua anaknya yang tidur sama dengan kebiasaanya tidur.
Naura yang masih membaca dongeng itu langsung berhenti membaca dan menoleh menatap Axio yang masih terkekeh.
“Ada apa?” Tanya Naura dengan raut wajah tidak suka, karena ia kira jika Axio menertawakanya.
“Mereka sangat mirip dengan ku dan kedua adik kembarku.” Ucap Axio kembali terkekeh. “Kami tidur sambil memeluk lengan dan bahkan kaki orang tua kami,” ucap Axio sambil menatap Abang Tian yang memeluk kaki Naura.
Ia bahkan mengelus kepala Ale yang sedang memeluk leher Axio.
“Kembar? Adik mu kembar?” Tanya Naura kaget, karena itu artinya gen kembar anaknya berasal dari Ayahnya.
Axio mengangguk. “Huuh, lebih tepatnya kami kembar tiga.” Ucap Axio.
“What?!” Pekiknya langsung menutup mulutnya, “untung aku tidak melahirkan tiga bayi, dua saja sudah sangat kewalahan.” Ucapnya sambil membayangkan jika dirinya mempunyai tiga anak.
Axio langsung terdiam, entah mengapa hatinya terasa sangat nyeri membayangkan wanita bertubuh kecil ini mengurus kedua anaknya seorang diri.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Naura sambil sedikit memberontak karena tidak mau membuat kedua anaknya terbangun.
“Maafkan aku Naura, aku sudah membuatmu menderita.” Ucap Axio dengan tulus. Naura berkmhenti memberontak saat mendengar ucapan Axio.
“Aku sudah merusak masa depanmu, aku juga sudah membuat mu di usir oleh orang tuamu. Aku benar-benar minta maaf Naura.” Ucap Axio, seketika Naura pun menangis saat mengingat kejamnya dunia. “Maaf, karena tidak menemanimu saat hamil, melahirkan bahkan membesarkan kedua anak kita.” Ucap Axio, dia mengecup pucuk kepala Naura yang sedang menangis di dada bidang Ayah dari anak-anaknya.
“Aku memang sempat benci kepadamu, tapi ini semua pilihanku. Aku menginginkanya malam itu, dan aku juga memilih untuk melahirkan si kembar karena aku menginginkan anak-anak. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, karena aku senang punya dua anak kembar yang lucu.” Ucap Naura.
Dulu Naura sangat membenci Axio karena pria itu bisa hidup bahagia di atas penderitaanya, sementara dirinya harus menanggung semua rasa tidak adil itu.
Tapi kini ia sadar setelah membesarkan kedua anaknya, ia menikmati jalan yang sudah Tuhan berikan kepadanya.
“Terima kasih sudah berjuang dan bekerja keras selama ini.” Ucap Axio dia menarik lengan Naura untuk ia cium.
Naura tidak menolak, ia hanya menatap Axio yang berucap tulus.
“Kali ini biarkan aku yang bertanggung jawab mengurus anak-anak kita dan juga kamu.” Ucap Axio. “Ijinkan aku merawat kalian bertiga, sekarang giliran kamu beristiahat tanpa harus memikirkan segala hal yang memberatkanmu mulai sekarang.” Ucap Axio.
Naura mengangguk. “Tentu saja, kamu harus berbalas budi padaku karena aku sudah membesarkan anak kita dengan sangat baik.” Ucap Naura di tengah tangisanya ia terkekeh pelan. “Kamu memang harus membayar aku mahal karena anak-anak semuanya hanya mirip kamu Kak, tidak ada satu pun yang mirip denganku Huaaa…” Keluhnya.
Hal yang paling membuat Naura semakin kesal adalah karena kedua anaknya sama sekali tidak ada yang mirip denganya, itu semakin membuat Naura benci pada Axio karena kedua wajah anaknya selalu mengingatkan dirinya pada Axio.
Axio terkekeh, dia juga sampai kaget saat melihat kedua anaknya yang sangat mirip denganya bahkan Axio merasa melihat dirinya sendiri saat masih kecil.
“Soal itu maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin Tuhan ingin menunjukan jika kedua anak itu adalah anakku.” Ucap Axio semakin mempererat pelukanya.
Entah mengapa, malam ini begitu hangat. Hangat karena tawa kedua anaknya, dan teman mengobrol nya malam ini. Axio tidak menyangka jika ia bisa bicara berdua dengan Naura tanpa emosi seperti sebelumnya.
“Karena itulah aku tidak bisa marah.” Ucap Naura.
“Oh iyah, kamu tau jika aku itu anak genius sejak kecil?” Tanya Axio saat mengingat sesuatu. “Sepertinya kegeniusan ku tidak ada yang menurun pada salah satu anakku.” Ucap Axio sampai membuat Naura mendongak menatapnya
“Kamu salah, Kakak harus lihat sendiri seberapa geniusnya anak kita.” Ucap Naura sambil tersenyum karena merasa bangga dengan kedua anaknya.
Axio menatap bibir ranum itu, ia mengingat ciuman panas di mana kejadian lima tahun silam.
“Benarkah?” Tanya Axio sambil tersenyum karena ia sangat senang jika rupanya ia bisa menurunkan kegeniusanya pada kedua anaknya, namun perlahan wajahnya mendekat ke bibir Naura.
“Tentu saja benar.” Ucap Naura dengan suara yang sangat kecil, sambil balas menatap Axio yang kian mendekat hingga akhirnya bibir kenduanya saling bertautan.
.
To be continued…