
Setibanya didalam kamar hotel, Irene langsung mendudukkan dirinya diatas tempat tidur diikuti oleh Daniel yang duduk disampingnya.
Kamar hotel ini cukup luas dengan segala perlengkapan yang tersedia dilengkapi dengan jendela balkon yang memaparkan keindahan pemandangan kota R dari tempat tersebut.
"aku akan pergi mandi" ucap Irene menghilangkan keheningan diantara mereka dan beranjak berdiri menuju kamar mandi.
"apa kau tidak membutuhkan bantuan ku untuk membuka gaunmu" tanya Daniel berhasil membuat Irene menghentikan langkahnya.
"aku tidak butuh bantuanmu dan kau jangan membayangkan hal yang tidak-tidak" Irene mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.
"aku yakin kau tidak akan bisa membuka gaunmu itu" senyum Daniel dikedua bibirnya
💕
Setelah membersihkan seluruh make up dan hiasan yang ada dikepalanya kini Irene mengalami kesusahan untuk membuka gaunnya, ternyata resleting gaun tersebut berada dibelakang membuat tangan kecilnya susah mencapainya.
"pantas saja dia menawarkan bantuan" batin irene.
Lebih dari lima belas menit dia berusaha membuka gaunya tapi tidak sedikitpun dia berhasil menurunkan gaun tersebut
"akan aku habisi orang yang sudah mendesain kau yang merepotkan ini" kesal irene, akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan pria yang sudah menjadi suaminya.
"hei kau...... bisakah membantuku" ucap Irene dari sedikit celah pintu kamar mandi yang dia buka kepada pria yang sekarang sedang menidurkan badannya diatas tempat tidur.
"hei...... " ucap Irene lagi karena tidak mendapat respon, setelah seperkian detik akhirnya Irene memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati pria yang ia yakini tidak benar-benar tidur.
"hei.... tuan Daniel xi bisakah anda membantu ku" Irene menggoyangkan lengan Daniel tapi tetap tidak ada respon darinya, diulanginya hal tersebut hingga beberapa kali tapi sang empu tetap enggan membuka matanya.
"Daniel xi..... " teriak Irene, sudah kehilangan kesabarannya, ketika dia hendak berbalik berjalan kembali ke kamar mandi tanpa sengaja dia menginjak bagian bawah gaunnya hingga membuatnya hilang keseimbangan dan akhirnya dia terjatuh diatas tubuh Daniel yang masih mengenakan pakaian lengkap resepsi tadi, kini jarak antara wajahnya dan wajah Daniel hanya tersisa beberapa senti saja, dipandanginya wajah tampan yang berada dihadapannya tersebut.
"ternyata kau terlihat lebih tampan ketika tidur" "apa yang kupikirkan" Irene menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan bayangan aneh dalam pikirannya.
"apakah wajahku sudah membuatmu suka padaku" ucap Daniel menyadarkan Irene dari lamunannya.
"setelah ini aku akan membuat perhitungan dengan desainer gaun sialan ini" umpatnya dalam hati, kali ini Daniel langsung menangkap tubuh ini hingga membuat Irene jatuh dalam pelukannya.
"apa kau belum puas mengganggu tidurku, manis" bisik Daniel ditelinga Irene.
"aku tidak berniat mengganggu tidurmu, aku ingin meminta bantuan mu" ucap Irene terbata-bata berusaha menutupi warna merah mukanya.
"bantuan untuk apa" tanya Daniel lebih lembut.
"lepaskan aku dulu, aku tidak bisa bergerak" Irene mendorong tubuh Daniel untuk melepaskan pelukannya.
"bantu aku membuka gaun sialan ini"
"bukannya tadi kau tidak membutuhkan bantuan ku?" serang balik Daniel.
"kalau tidak mau membantu ku ya sudah" kesal Irene.
"tunggu.... aku akan membantu mu" Daniel menahan satu tangan Irene agar dia tidak pergi dari hadapannya. dia segera berdiri dan menatap wajah irene beberapa saat.
"kenapa? apa ada kotoran di wajahku" tanya Irene sambil mengusap wajahnya.
"tidak.... hanya saja kau terlihat cantik" goda Daniel dengan senyuman nakalnya.
"berhenti menggodaku, cepat buka gaunku"
bentak Irene akhirnya.
"apa kau tidak bisa bersikap lebih baik padaku"
"tidak bisa, cepat buka gaunku"
akhirnya dengan pasrah Daniel membantu Irene membuka gaunnya, setelah terbuka Irene kembali berjalan ke kamar mandi.