My Annoying Husband

My Annoying Husband
26. Belajar mencintainya



"turunkan aku.... aku masih bisa berjalan sendiri" irene mengalungkan kedua tangannya dileher Daniel.


Mereka baru saja sampai dirumah dan Daniel memaksa Irene untuk menggendongnya.


"kau masih sakit, aku tidak bisa membiarkanmu jalan sendiri" Daniel tetap melangkahkan kakinya menuju rumah.


"aku sudah sembuh, lihatlah bahkan pipiku bertambah besar setelah banyak makan ditempat wuzi" Irene memalingkan wajah Daniel untuk melihat wajahnya.


"pipimu memang bertambah besar, tapi ada hal lain yang lebih menggoda daripada pipimu" goda Daniel, dia terus menatap bibir ranum milik Irene.


"jangan membayangkan hal yang tidak pantas, kalau tidak aku akan loncat dari gendonganmu" Irene membenamkan wajahnya kedada Daniel untuk menutupi warna merah dari wajahnya.


"kenapa kau seperti kucing kecil pemalu sekarang, bukannya semalam kau yang mulai duluan" goda daniel, semakin menundukkan wajah hingga jarak antara bibirnya dengan bibir merah Irene tinggal satu senti.


"aku tidak....... " Irene menolehkan kepala membuat bibirnya mendarat dengan empuk diatas bibir daniel, Daniel tidak menyiakan kesempatan tersebut dan segera ******* pelan bibir wanitanya.


"lihatlah wajahmu sudah semerah tomat" goda Daniel setelah melepas bibirnya, dia segera membawa Irene masuk kedalam rumah dan mendudukkannya diatas sofa.


Irene memukul pelan dada Daniel dan mengumpati suaminya yang sengaja menggodanya.


"apa kau sudah lapar?" Daniel menjongkokkan tubuhnya didepan Irene, menatap penuh dengan kelembutan kearah wanitanya.


"aku belum lapar, tadi aku sudah makan banyak ditempat wuzi, aku tidak mau menjadi gemuk seperti ****" Irene menggelengkan kepalanya.


"baiklah kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Daniel memegang lembut kedua tangan Irene.


"hm..... sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan padamu" kata Irene sedikit ragu.


"katakan, aku akan mendengarkannya"


Irene terdiam cukup lama, dia menimbang kembali apakah dia harus mengatakan hal tersebut kepada suaminya, dia takut akan menyakiti suaminya.


"katakan saja apa yang ingin kau katakan" Daniel mengelus kedua tangan Irene.


"kau janji tidak boleh marah setelah aku mengatakannya" pinta Irene, Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban.


"dalam waktu dekat ini aku tidak ingin hamil, aku masih harus bermain drama untuk memulihkan keadaanku, selain itu aku juga belum siap untuk menjadi ibu, masih banyak masalah yang harus aku selesaikan" ucap Irene, menatap Daniel yang sedari tadi tidak merubah ekspresi wajahnya.


Daniel semakin menundukkan kepala Irene hingga berada diatas pundaknya, dia masih berjongkok didepan Irene.


"aku mengerti dan aku tidak akan memaksa mu untuk mengandung anakku, setelah kau siap kau boleh mengatakannya padaku" ucap Daniel mengelus pelan punggung Irene.


"terimakasih kasih, mulai hari ini aku akan belajar untuk mencintai mu" ucap Irene penuh haru setelah mendengar jawaban dari suaminya.


"apa yang ingin kau lakukan sekarang? kita tidak ada hal yang harus dikerjakan" Daniel mengangkat wajah Irene dari pundaknya.


"bagaimana kalau kita nonton film saja, aku sedikit bosan karena aku akan berdiam dirumah selama seminggu ini" jelas Irene.


"apa syutingnya baru akan dimulai seminggu kemudian?" tanya Daniel


"iya tapi sampai saat ini aku belum mengetahui siapa pemeran utama pria yang menjadi pasanganku, pihak produksi sangat merahasiakannya" jelas Irene.


"kau tidak usah khawatir, aku akan mencari tau tentang hal ini" tawar Daniel


"tidak usah....." Irene segera menolak


"kenapa? bukannya kau penasaran dengan lawan mainmu"


"aku sangat penasaran, hanya saja aku tidak ingin merepotkan mu, menunggu satu minggu lagi juga tidak apa-apa"


"kau yakin?" selidik Daniel, Irene menganggukkan kepalanya lagi sebagi jawaban.


"kau memang kucing kecil yang tangguh" Daniel mencubit pelan hidung Irene.


💕


Sepasang suami-istri istri tersebut menghabiskan waktu sore mereka untuk menonton drama bersama diruang tamu.


Irene sangat fokus melihat film tersebut bahkan beberapa kali dia berkomentar akan akting para pemainnya, sedangkan Daniel sedari tadi hanya memandangi wajah Irene yang berada diatas pahanya dan mendengarkan semua celotehan Irene, sesekali dia menanggapi perkataan istrinya.


Hingga larut malam, mereka memesan makanan untuk makan malam bersama.