My Annoying Husband

My Annoying Husband
18. Pengganggu



"kak hari aku akan menginap ditempatmu" pinta Stella sambil mengunyah makanannya.


"tidak biasanya kau mau tinggal ditempatku, biasanya kau akan menolak tinggal ditempatku dengan seribu satu alasan" jawab Daniel, yang hanya mendapat cengiran dari adik bungsunya.


"kalau bukan karena kakak ipar, aku juga tidak akan mau tinggal ditempatmu, tempatmu sangat membosankan"


"bagaimana mana bisa tempat ku


membosankan?" tanya Daniel


"tempat mu terlalu sepi, bahkan pemakaman tetangga lebih ramai daripada rumahmu"


"kau......." Daniel mulai emosi


Jason hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku kakak adik yang hampir tidak pernah akur ketika mereka bertemu.


"sudahlah Daniel, biarkan saja Stella menginap ditempat kita, bukannya tadi kau bilang sangat merindukannya" Irene berusaha melerai kedua saudara tersebut.


"kakak ipar memang yang terbaik" Stella menunjukkan rasa menangnya.


"baiklah, tapi kau tidak boleh minta macam-macam" syarat Daniel


"ayolah kak.... aku tidak akan meminta hal yang aneh" rajuk Stella dengan senyum licik


"aku hanya akan minta tidur bersama kakak ipar" lanjutnya


"tidak, kau tidak boleh" tolak Daniel setelah mendengar permintaan adiknya tersebut, mereka melanjutkan makan malam masih dengan perdebatan yang sama, bahkan perdebatan itu masih berlanjut sampai mereka tiba dipenhouse Daniel.


💕


"kak, biarkan kakak ipar tidur bersamaku ya" Stella bergelanyut manjan dilengan Daniel, memasang wajah puppy eyes untuk membujuk kakaknya.


"hanya satu malam saja, iya, iya, iya kak.... " dia semakin memasang wajah imut untuk meluluhkan hati kakaknya, sekarang mereka bertiga sudah tiba didepan pintu rumah, irene menahan tawa melihat bagaimana Daniel menolak adiknya.


"apa yang sudah kau lakukan Irene?" Daniel menghentikan langkahnya, menatap yang wanita yang tidak memahami makna dari pertanyaan Daniel.


"kenapa semua orang ingin merebutmu dariku" lanjut Daniel


"kau tau, semenjak dia menjadi istriku banyak sekali orang yang ingin bersamanya, hari ini kau, bahkan tadi pagi kedua orang bodoh juga memohon kepadaku untuk bersamanya" jelas Daniel, Irene segera mengerti maksud Daniel, dan hanya tersenyum sebagai jawaban.


"itu resiko menikahiku" jawab Irene penuh percaya diri


"kak, yang kau maksud kedua orang bodoh itu, kak christ dan kak wuzi" tanya Stella, Daniel diam sebagai jawaban, segera berjalan masuk menaiki tangga.


"pokoknya malam ini aku ingin tidur bersama kak Irene" teriak Stella, Daniel menghentikan langkahnya ditengah tangga.


"kalau dia mau tidur denganmu, maka aku akan mengizinkannya" jawabnya, Stella segera meloncat senang mendengar jawaban kakaknya.


💕


Didalam kamar Daniel


Irene baru selesai keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit diatas kepalanya, dia sudah mengganti bajunya dengan piyama sutra panjang menutup seluruh bagian tubuhnya, dia melihat sekeliling kamar mencari pria yang sudah dia nikahi hampir satu bulan, dia melihat pria tersebut sedang berdiri di balkon kamar dengan seputung rokok disalah satu tangannya.


"berhentilah merokok, itu tidak akan bagus untuk kesehatanmu" dia menghampiri sang pria dan berjalan mendekatinya.


"masuklah ini sudah terlalu malam" lanjut Irene, Daniel segera membuang rokok yang dia hisap tadi, dia berjalan mendekati Irene dan berdiri tepat dihadapannya.


"bolehkah aku memelukmu?" tanyanya, Irene menatap Daniel dalam.


"jika aku menolak apa kau tidak akan melakukannya?" tanya Irene


"tidak, aku akan tetap memelukmu" Daniel segera merekuh tubuh kecil Irene kedalam pelukannya, menyesap wangi tubuh Irene yang bisa menenangkannya, dia menyandarkan dagunya dibahu kecil Irene.


"kenapa semua orang tertarik padamu?"


"apa kau masih mempermasalahkan adikmu?" Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban.


"aku tidak rela kau bersama orang lain, bahkan jika itu adikku sendiri" ucap Daniel


Irene segera melepas pelukan Daniel, menatap yang pria dalam, sebelum akhirnya dia memberi kecupan kecil disamping pipi Daniel untuk menenangkannya, Daniel diam mematung bahkan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.


"mandilah, aku akan turun kebawah" Irene mengusap pipi Daniel yang tadi dia kecup, dan berjalan meninggalkan Daniel yang masih diam mematung ditempatnya.