
Pagi hari
Daniel bangun lebih cepat daripada biasanya, dia hendak berdiri dari kursi yang didudukinya dan dia merasakan sakit diseluruh tubuhnya.
Semalam dia tertidur diruang baca ketika membaca beberapa dokumen pekerjaan, dia menguap pelan dan melihat keluar jendela, langit sudah sedikit terang dan matahari pagi hampir menampakan cahayanya, dia berjalan membuka jendela dan menikmati segarnya udara di pagi hari, setelah beberapa saat dia berjalan kembali menuju kamarnya.
Daniel melihat istri dan adiknya masih tidur nyenyak diatas ranjang, dia tersenyum kecil melihat bagaimana kedua wanita penting dalam hidupnya tersebut tidur saling memeluk satu sama lain, bagaikan seorang anak dan ibu.
Dia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia melihat istrinya terbangun diatas tempat tidur dengan rambut berantakan tanpa make up menghiasi wajahnya membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda.
Daniel sangat menyukai istrinya tanpa mengenakan make-up, menurut nya tanpa hiasan apapun istrinya lebih terlihat polos daripada ketika dia memakai make-up, daniel tersenyum melihat tingkah manis istrinya tersebut.
"kau sudah bangun?" tanya irene, menyibakkan selimut dan berdiri dari tempat tidur.
"tidurlah kembali ini masih terlalu pagi" jawab Daniel.
"aku harus menyiapkan sarapan, kau tidak ingin melihat adikmu kelaparan kan?" Irene berjalan melewati Daniel menuju kamar mandi.
Setelah membasuh muka dan mengikat rambutnya asal, dia segera berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi tanpa membangunkan Stella yang masih tidur nyenyak.
Setelah melihat isi kulkas, Irene memutuskan untuk membuat sandwich dan segelas susu, dia sudah terbiasa sarapan dengan makanan yang tida terlalu berat untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Daniel sudah rapi dengan mengenakan kemeja biru muda dan juga celana hitam, berjalan menuju dapur untuk melihat istrinya dengan membawa dasi ditangan kanannya, dia melihat istri kecilnya sibuk menata makanan, menuangkan air pada setiap gelas yang sudah tersedia.
Dia segera menghampiri Irene dan memeluknya dari belakang, membuat Irene sedikit terkejut hingga menjatuhkan beberapa tetes air.
"Daniel! kau membuatku kaget" bentak Irene pelan, Daniel hanya menyunggingkan mulutnya dan menarik tubuh irene menjauh dari meja.
"bantu aku memakai dasi" dia menyodorkan sebuah dasi kedepan Irene, Irene menerima dasi tersebut dan melepas tangan Daniel dari tubuhnya.
"apa Stella sudah bangun?" tanya Irene sambil mengalungkan dasi dikerah baju Daniel.
"sebentar lagi mungkin dia akan bangun" jawab Daniel, mengangkat tubuh Irene dalam pelukannya untuk mempermudah pekerjaan Irene.
"selesai, sekarang turunkan aku" Irene menepuk pelan untuk merapikan dasi yang dia pakaikan untuk Daniel, kini wajahnya sejajar dengan wajah Daniel. Daniel tidak mendengarkan perkataan Irene, dia semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Irene
"morning kiss..... " pinta daniel
"bukankah kemarin sudah?"
"kau harus melakukannya setiap hari"
"aku tidak mau" Irene memalingkan wajahnya
"aku bisa memaksamu" Daniel semakin mendekatkan wajahnya.
"eh...... tunggu" Irene segera mendorong bibir Daniel yang hampir menempel pada bibirnya.
"biar aku saja" ucapnya malu "tapi dimana saja boleh ya" lanjut Irene, Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban.
"tutup matamu" pinta Irene, Daniel pun menurutinya, beberapa detik kemudian sebuah benda kenyal mendarat didahinya.
"aku sudah mencium mu, sekarang turunkan aku"
"apa kau anak SD? kenapa menciumku didahi"
"dimana saja sama, kau sudah berjanji! sekarang turunkan aku atau aku tidak akan memberikan ciuman lagi untukmu" Daniel akhirnya menurunkan Irene, dia tidak percaya akan mendapatkan morning kiss didahi, pasangan mana yang akan mencium didahi, dia berniat untuk menggoda istrinya tapi malah dia sendiri yang rugi.
💕
Sepasang mata yang sedari tadi melihat interaksi pasangan tersebut hanya tersenyum, dia berjalan kembali menuju kamar
"aku harap kau bisa bahagia kak" harapnya dalam hati.