My Annoying Husband

My Annoying Husband
4. Hari yang melelahkan



Setelah kejadian pada waktu makan malam, kedua belah pihak sibuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan, satu bulan berjalan begitu cepat hingga tak terasa waktu yang ditunggu akhirnya tiba.


Hari ini di sebuah ballroom hotel yang sangat megah dipenuhi oleh tamu undangan yang datang untuk merayakan resepsi pernikahan tersebut, hampir seluruh tamu undangan berpakaian sangat mewah karena kedua belah pihak pengantin berasal dari keluarga yang terpandang mempelai laki-laki berasal dari keluarga xi yang cukup terkenal dan memiliki pengaruh besar dalam bidang bisnis di negara R.


Sedangkan mempelai wanita adalah seorang artis papan atas yang telah banyak mendapat penghargaan pada ajang artist award, walaupun dia terkenal sebagai artis yang sangat dingin membuat sebagian besar artis tidak terlalu menyukainya tetapi tidak sedikit pula junior yang mengaguminya.


Kedua mempelai terlihat sangat menawan hingga membuat tatapan iri bagi siapapun yang yang melihatnya, mempelai pria terlihat tampan mengenakan tuxedo hitam dengan wajah laksana pahatan dewa Yunani, memberikan nilai sempurna penampilannya, tidak sedikit tamu undangan wanita yang melirik kearahnya bahkan sebagian tanpa rasa malu menunjukkan rasa kagumnya.


Sedangkan membelai wanita mengenakan gaun putih panjang hingga menutupi kaki dengan rambut yang disanggul diatas membuatnya terlihat laksana boneka yang hidup, banyak tamu undangan yang menatap kagum kepadanya bahwa banyak pula yang langsung memuji akan kecantikannya membuat orang yang berdiri disampingnya merasa sebal.


"kau tidak boleh tersenyum selain kepadaku" bisik yang pria membuat sang wanita menoleh kearahnya dengan tatapan penuh tanya.


"apa ada yang salah jika aku tersenyum? bukankah hari pernikahan kita? kenapa kau melarang ku tersenyum" berusaha menutupi kejengkelannya.


"tapi aku tidak suka melihat orang lain menatapmu seakan-akan kau mangsa yang sangat lezat"


"suamiku....... apa kau lupa apa pekerjaan ku?" berusaha menampilkan wajah paling manis untuk menutupi kekesalan saat ini.


"aku seorang artis, bahkan sebelum ini pun banyak orang yang selalu melihat senyumku, mungkin setelah kita menikah akan lebih banyak orang yang memperhatikanku"lanjut sang wanita dengan tujuan menggoda sang pria.


"kalau begitu lebih baik kau berhenti bekerja, uang yang aku hasilkan lebih dari cukup untuk menghidupi mu" balas sang pria.


"kau....... " menginjak dengan keras kaki yang berada disampingnya.


"ouh....... apa yang kau lakukan" tanya sang pria dengan wajah kesakitan, belum sampai Irene membalas pertanyaan Daniel dua laki-laki dengan paras menawan jika dibandingkan dengan mempelai pria menghampiri kedua pasangan tersebut.


"seperti kau terlihat bahagia Daniel xi" ucap seorang pria yang mengenakan sebuah kacamata membuatnya terlihat seperti orang yang jenius.


"lihatlah bung, siapa dulu yang bersumpah tidak akan meningkah sampai tua" balas sang teman.


Irene hanya diam tak mengerti apa yang mereka katakan karena dia tidak mengenali kedua laki-laki tersebut


"kalau kalian ingin berbicara omong kosong lebih baik tidak usah datang kepestaku" balas Daniel dengan sedikit menahan rasa sakit akibat injakan highils Irene dikakinya.


"hahahhahahaha.... " kedua laki-laki tersebut tertawa sangat keras membuat tamu undangan melihat kearah mereka.


"tenang bung kami tidak akan menghancurkan pesta pernikahanmu mungkin membuat beberapa keributan saja sudah cukup"


"lakukan saja jika kau berani"


"aku diam karena aku tidak mengenal kalian" balas irene membuat kedua laki-laki tersebut menatapnya dengan takjub.


"wow..... ternyata kau tidak seperti gadis lainnya, pantas saja Daniel jatuh cinta kepadamu, perkenalkan aku wuzi Cheng" laki-laki yang memakai kacamata mengulurkan tangannya kearah Irene.


"Irene Chen"


"dan aku Christ Xio, kami sudah berteman dengan Daniel dari kami masih memakai popok" tambahnya, membuatnya mendapat lototan dari daniel.


"Irene Chen, ternyata kalian juga termasuk tuan muda kaya yang manja" sindir Irene.


"bagaimana kau bisa tau" tanya wuzi.


"seperti nya rasa kagumku kepadamu semakin bertambah"lanjutnya dengan senyum licik dikedua bibirnya.


"kapan kalian akan pergi, jangan mengganggu wanitaku lagi" ucap Daniel berusaha mengusir kedua orang yang merupakan sahabat karibnya tersebut.


"hei... sejak kapan kau pelit kepada kami, seharusnya kau berbagi wanita mu kepada kami" goda Christ.


"maaf aku bukan barang" jawab Irene ramah.


"kalau kalian tidak pergi aku akan..... " belum selesai Daniel mengucapkan perkataannya kedua laki-laki berjalan cepat meninggalkan nya.


"kami sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua" kata wuzi sambil mengerlingkan matanya kearah Irene.


Irene yang mengetahui kelakuan dari teman-teman suaminya hanya menghela nafas panjang.


"apa kau lelah" tanya Daniel lembut setelah kepergian kedua sahabatnya


"sedikit" jawab Irene singkat.


"ayo kita kembali ke kamar" Daniel menarik tangan Irene lembut.


"tapi masih banyak tamu"


"tidak apa-apa, biar orangtuaku dan kakakmu yang menangani mereka"


"baiklah" karena sudah merasa kecapekan akhirnya Irene hanya menurut ketika Daniel mengajak nya untuk kembali kekamar.