
"akhirnya aku bisa mengistirahatkan tubuhku" Irene memasuki kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur yang bernuansa putih, dia merebahkan tubuhnya dan ditatapnya atap kamar yang masih berwarna senada dengan kasur yang dia diduri, hampir seluruh furnitur dalam kamar ini berwarna putih, hanya sebuah korden jendela saja yang berwarna kuning keemasan, karena menurut wanita itu warna putih melambangkan kesucian dan kesetiaan yang tiada batas, tanpa dia disadari pikiran nya melayang ke kejadian yang dia alami semalam, air mata sudah berada di pelupuk matanya
"bagaimana bisa aku bisa menjadi terlalu bodoh semalam"
ucap nya dalam hati, kemudian dia mengingat-ingat kembali kejadian yang dia alami semalam.
Malam itu dia ingin mengunjungi kekasih hatinya yang telah menemaninya selama 5 tahun untuk merayakan ulang tahunnya, dengan membawa sekotak kue yang telah dia buat dan hadiah spesial yang telah ia siapkan, sebelum memasuki apartemen sang pria, Irene merapikan pakaian dan rambutnya, dia langsung memasuki apartemen tanpa membunyikan bel karena dia ingin memberikan kejutan terhadap kekasihnya.
"kapan kau akan memutuskan Irene sayang, aku sudah tidak sabar untuk mengumumkan hubungan kita" terdengar suara manja dari wanita lain, Irene mengintip sedikit kedalam untuk melihat siapa pemilik dari suara tersebut, ternyata wanita itu adalah sahabatnya yang juga menjabat sebagai asisten dikantornya, sedang bergelut manja di lengan kekasihnya.
"kau tenang saja, setelah aku mendapatkan saham dari perusahaan nya maka aku akan langsung memutuskannya" sang pria mengecup ujung rambut sang wanita dengan penuh cinta, Irene yang dari tadi berdiri menutup mulutnya dengan tidak percaya, ternyata selama ini dia telah dibodohi oleh kekasihnya dan sahabatnya sendiri, tanpa berbicara diapun meninggalkan apartemen kekasihnya dengan berlinangan air mata, dia terus berlari dan berlari tanpa memperhatikan sekitarnya hingga dia terjatuh di samping trotoar jalan
Hujan deras turun mengguyur seluruh tubuhnya sehingga menyamarkan air mata yang keluar dari kedua matanya, dia terus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya bahkan dia telah jatuh berkali-kali dan tidak merasakan rasa sakit sama sekali, darah segar keluar dari kedua lututnya tapi wanita tersebut tetap berjalan tanpa memperdulikan nya, dipikirannya saat ini adalah untuk menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan, ketika rasa pening mulai menghampirinya tiba-tiba ada sepasang tangan yang menangkap tubuhnya hingga dia jatuh ke dalam pelukan seorang pria yang tidak dikenalnya, belum sempat dia mengenali siapa pemilik dari lengan tersebut tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan menyisakan warna hitam dalam pandangannya.
Setelah itu yang dia ingat adalah bagaimana dia menghabiskan malam panjang bersama pria tersebut, dia ingat dengan sangat jelas bahwa dialah yang memaksa laki\-laki tersebut untuk melakukan hal itu tanpa rasa malu.
"nona tuan muda sudah kembali dan menunggu anda dibawah" seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dan memberitahukan kepulangan kakaknya.
Tanpa menjawab Irene langsung berlari membuka pintu dan menuruni tangga ketika dilihatnya seorang laki\-laki tampan berdiri di depan pintu dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan laki\-laki tersebut.
"kak.... akhirnya kau kembali aku sudah sangat merindukanmu" air mata masih mengalir dari kedua matanya sang kakak yang melihat keadaan adiknya tersebut menatap adiknya dengan perasaan yang aneh.
"apa yang terjadi padamu! aku hanya meninggalkanmu seminggu saja biasanya kamu tidak secengeng ini" sang kakak menatap kedalam kedua mata adiknya.
"tidak kak..... aku tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu"
"aku........ " belum selesai iren mengucapkan perkataannya, tiba-tiba seseorang muncul didepan pintu rumah yang mengagetkan kedua pasangan kakak adik tersebut.
"maaf apa aku mengganggu kalian berdua" tanya seorang pria tampan lain, dia tidak datang sendiri melainkan ada sesosok pasangan paruh baya yang berdiri di belakangnya.
"Daniel xi..... "tanya sang kakak tanpa memperhatikan keterkejutan adiknya.
"Alex Chen....." ketua laki-laki tersebut langsung memeluk satu sama lain.
"apa yang kau lakukan disini Daniel"
"seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan di rumah seorang wanita lajang" jawab Daniel sambil memicingkan kedua matanya.
"wanita lajang yang kau maksud ini adalah adikku" Alex langsung merangkul bahu adiknya, Irene memelototi kakaknya seakan-akan bertanya.
"bagaimana kau bisa mengenal pria brengsek ini"
" jadi ini adikmu yang akan kau kenalkan kepadaku waktu itu"
"betul sekali, dia ini adalah adik kecil yang ingin kutawarkan kepadamu" dengan senyum bangga Alex mengenalkan adiknya.
"kak aku bukan barang kenapa kau menawarkan ku kepada teman-temanmu" ucap Irene dengan mengerucutkan kedua bibirnya, membuatnya terlihat lebih sangat menggemaskan.
"aku tidak menawarkan mu kepada siapa saja, aku hanya menawarkan mu kepada orang yang aku percayai bisa merawatmu dengan lebih baik daripada pacarmu laki-laki brengsek yang tidak bisa apa-apa itu"
"tapi kak..... "
"baguslah kalau dia ini adalah adikmu" potong Daniel sebelum Irene menyelesaikan kata-katanya, dengan senyum kecil dikedua bibirnya.