My Annoying Husband

My Annoying Husband
3. Keputusan satu pihak



"Irene kenapa kau menyembunyikan hubunganmu dengan Daniel dariku" tanya Alex sambil mengunyah makanannya, menunggu jawaban dari sang adik yang duduk disamping kanannya, sedangkan Daniel duduk disamping kirinya diikuti oleh kedua orang tua Daniel.


"aku dan dia tidak......." belum selesai irene mengucapkan perkataannya sepasang kaki menendang kakinya dari bawah meja.


"Alex sebenarnya aku sudah lama menyukai adikmu, karena itu aku datang ke sini untuk meminta izin kepadamu" balas Daniel yang mendapat tatapan tak percaya dari Irene.


"kak .... kau jangan tertipu oleh kata-katanya"


"baguslah kalau begitu jadi aku tidak akan repot untuk mempersatukan kalian berdua" Alex sama sekali tidak mendengar kan kata-kata adiknya.


"kita juga setuju dengan hubungan nak Irene dengan putra nakalku ini" balas sang ibu dengan tatapan yang berbinar-binar.


"selama ini Daniel tidak pernah dekat dengan wanita manapun sehingga kami mengira bahwa dia gay"balas sang ayah tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah membuka aib sang anak.


"tapi paman bibi hubungan kami tidak seperti yang kalian bayangkan" bantah Irene tidak ingin membuat kesalahpahaman diantara kedua keluarga tersebut.


"apa tidur bersama tidak termasuk sebuah hubungan" balas Daniel dengan muka tanpa bersalah, membuat semua orang tersedak dengan makanan dan menatap Daniel dengan wajah yang terkejut, tanpa terkecuali Irene kini dia berusaha menyembunyikan mukanya yang sudah semerah tomat dengan menundukkan kepalanya.


"jadi hubungan kalian sudah sejauh itu" tanya Alex yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"hm......" hanya mendapat anggukan dari Daniel.


"kalau begitu kita harus segera melakukan resepsi pernikahan, aku tidak ingin cucu dari keluarga XI terlahir tanpa status"


"tapi paman belum tentu aku akan hamil" tolak Irene.


"kalau kau belum hamil maka kita akan membuat lagi" balas Daniel tetap dengan tatapan yang menyebalkan, hingga membuatnya mendapat pukulan dikepala dari ibunya.


"nak Alex maafkan tingkah laku anak nakal ini, bagaimana menurut nak Alex tentang hal ini" lanjut sang ibu.


"aku sangat senang jika Daniel bisa menikahi Irene" jawabnya.


"tapi kak.... aku belum ingin menikah" Irene tetap pada pendiriannya.


"Irene.... tidak selamanya aku bisa menjagamu, jadi kamu butuh seseorang yang akan selalu berada disampingmu dan menjagamu" ucap Alex lembut, Irene tidak menjawab hanya diam menundukan kepalanya.


"jika menurut kakak itu yang terbaik maka aku akan melakukan nya" putus Irene sambil menatap sang kakak, selama ini Irene tidak pernah membantah apa yang dikatakan kakaknya karena dia satu-satunya keluarga yang sangat memperhatikan nya begitu pula dengan sang kakak dia akan menuruti semua yang diinginkan adiknya.


"ini adalah hal yang paling membahagiakan yang pernah aku dengar" Daniel segera berdiri menghampiri Irene dan langsung mendekapnya ke dalam pelukan hingga mendapat lototan mata dari seluruh keluarga yang hadir pada malam tersebut.


"kau..... lepaskan aku...." Irene berusaha melepas tubuhnya dari pelukan Daniel.


"aku menyetujui untuk menikah denganmu tapi bukan berarti aku menyetujuimu untuk menyentuhku semaumu" Daniel segera lepaskan dekapannya.


"baiklah untuk sekarang aku lepas kan, tapi apa kau melupakan bahwa kita sekarang sudah menjadi pasangan suami istri yang resmi, istriku" bisik Daniel, Irene bisa merasakan hembusan nafas di samping telinga kirinya membuatnya merasa sedikit panas.


"baik Alex..... dalam satu bulan aku akan mempersiapkan pesta pernikahan" putus Daniel akhirnya yang disetujui oleh seluruh anggota keluarga kecuali Irene yang menerimanya dengan sedikit terpaksa.


Tanpa diketahui oleh anggota keluarga bahwa mereka berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri, hari ini kedatangan Daniel hanya untuk mendapatkan restu dari pihak keluarga Irene, yang ternyata adalah sahabatnya sendiri.