
Irene mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum dia turun untuk tidur bersama Stella.
Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya, dia berjalan mendekati pintu dan membukanya, Stella berdiri didepan pintu dengan membawa selimut didepan dadanya.
"aku akan segera turun Stella, kau tunggu sebentar lagi" ingin berbicara lembut.
"tidak kak, kakak tidak perlu turun" balas Stella, Irene menatap Stella mencari jawaban
"aku akan tidur disini saja" lanjutnya, tanpa persetujuan irene dia segera masuk dan duduk diatas tempat tidur, Irene menutup pintu dan berjalan mendekati Stella.
"kakakku kemana kak?" tanya Stella
"ah ..... dia berada diruang baca" jelas Irene
"baguslah, sini kak kita tidur" Stella menepuk tempat tidur kosong disampingnya dia sudah membaringkan badannya dibagian sebelah
Irene segera mendekatinya dan membaringkan tubuhnya disebelah bagian uang kosong.
"kak, sejak kapan kakak mengenal kak Daniel?" tanya Stella tanpa menatap Irene, matanya memandang lurus kedepan menatap atap kamar yang berwarna putih bersih.
"aku belum lama mengenalnya" jawab irene jujur, Stella diam mendengar jawaban tersebut.
"apa kakak mencintai kak Daniel?" tanya Stella lagi, tapi tidak mendapat jawaban dari orang yang tidur disampingnya
"sepertinya kakak belum mencintai kak Daniel" Stella mengambil kesimpulan, Irene masih diam tidak menjawab pernyataan tersebut, dia sendiri masih bingung dengan perasaannya.
"*apakah aku mencintainya"
"apakah aku menyayanginya"
"apakah aku hanya memanfaatkannya*"
Berbagai pertanyaan muncul dibenak Irene, selama ini dia merasa tenang jika berada disamping Daniel, tapi Irene juga belum menyakinkan perasaannya.
"sepertinya kak Daniel belum menceritakan semua tentang keluarga kami" kata Stella setelah melihat perubahan raut wajah Irene
"apa yang terjadi pada keluargamu?" tanya Irene penasaran.
"keluarga kami selama ini tidak sebaik yang terlihat" ucap Stella, Irene masih diam menanti perkataan stella.
"apa kakak sudah bertemu dengan ayah dan ibu?"
"mereka pernah datang makan malam di rumahku, tetapi ketika hari pernikahan mereka tidak datang" jelas Irene
"wanita itu bukan ibuku, ibu meninggal kami ketika kak Daniel berusia lima belas tahun dan aku tujuh tahun, dia meninggalkan kami demi wanita lain" jelas Stella, diam sesaat.
"setelah kepergian ibu, ayah menikah kembali dengan seorang wanita dan membawa pulang seorang anak yang seusia kak Daniel, dan ternyata anak itu juga anak kandung ayah dengan wanita itu, jadi sebelum ibu meninggal kita ayah sudah memiliki hubungan gelap dengan seorang wanita" lanjut Stella, Irene cukup terkejut mendengar hal tersebut.
"semenjak kejadian itu kak Daniel tidak percaya lagi akan sebuah hubungan, dia mungkin terlihat baik dan dekat kepada para wanita yang mendekatinya hingga membuat mereka salah mengartikan kebaikannya, tapi sebetulnya kak Daniel susah mempercayai wanita, bahkan selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan wanita lain kecuali kak Irene" jelas Stella
Setelah mendengar penjelasan Stella tersebut Irene mengetahui apa alasan Daniel tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan.
"aku harap kak Irene tidak menjadi seperti ibuku" lanjut Stella, menatap irene penuh harap.
"aku bukan wanita itu" jawab Irene.
setelah menceritakan semua hal tentang keluarga xi, akhirnya Stella tertidur dengan posisi memeluk irene.
"kenapa kakak dan adik ini suka sekali memeluk ku" batin Irene
Berusaha melepas pelukan Stella, dia berjalan keluar menuju ruang baca untuk melihat prianya.
Ketika membuka pintu dia melihat sang pria tertidur diatas kursi masih memegang beberapa dokumen dalam tangannya, Irene mendekatinya dan berjongkok mengamati wajah tidur Daniel yang terlihat tenang tanpa ekspresi apapun.
"aku tidak tahu kau memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan" ucapnya pelan, sambil mengusap lembut kedua pipi Daniel dengan kedua tangannya.