MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 08 - The Truth



Di kamarnya, Aishia memandangi sebuah bingkai foto keluarga besarnya. Yah, meski kedua kakek dan satu neneknya sudah tiada makanya foto keluarga ini tidak bisa dikatakan sempurna.


Aishia menghela napas kasar.


Hari ini bukanlah hari baik untuknya. Karena kedatangan Louis serta fakta bahwa Louis adalah bagian dari Shceneider bersaudara, membuat Aishia merasa tidak karuan.


Tatapan Aishia tertuju pada foto. Di mana di sana dia berdiri di sebelah anak perempuan yang wajahnya nyaris serupa dengannya. Senyumnya dan anak perempuan itu sangat lebar di foto tersebut.


Dengan kasar Aishia melempar dirinya ke atas kasur. Dia mengangkat foto tersebut tinggi - tinggi. Pandangannya berubah sayu. Aishia selalu berandai, bahwa waktu bisa diulang.


Gadis itu tersenyum pilu.


"Mana mungkin hal itu terjadi. Sangat mustahil."


...****...


Pagi harinya, seperti biasa Aishia akan mengantar Kei ke sekolahnya dengan selamat sambil memperhatikan apakah anak itu berjalan ke kelasnya atau tidak.


Aishia selalu sudah siap untuk berangkat padahal waktu belum menunjukkan pukul tujuh. Dia mulai membiasakan diri untuk membantu Arsene menyiapkan makanan setiap harinya. Meski sepertinya Kei enggan memakan buatan Aishia.


"Hari ini kita masak apa, Arsene?" Tanya Aishia.


"Menu favorit Kei."


Hum? Menu favorit Kei? Apa ini semacam sogokan?


Tanpa banyak bertanya, tangan Aishia bergerak lincah membantu Arsene menyiapkan hampir segalanya. Bahkan masalah takaran bumbu, Arsene sama sekali tidak ikut andil. Pada dasarnya, 80% makanan yang tersaji di meja pagi ini adalah buatan Aishia.


"Aku kebablasan... bagaimana kalau Kei tidak mau sarapan?"


Aishia menatap sesal pada masakan buatannya yang terlihat menggoda. Meski begitu, Aishia baru sadar kalau Kei pasti takkan menyentuhnya. Itu akan menjadi sia - sia.


"Sudahlah. Jika kau ingin mengendalikan hatinya, kau harus mengendalikan perutnya terlebih dahulu." Arsene dengan cuek melepas celemeknya.


"Hei, kau mengubah isi kutipannya." Protes Aishia.


"Intinya sama saja 'kan?"


Aishia tidak bisa protes lebih jauh. Dia pun lekas melepas celemek dan menggerai kembali rambutnya yang barusan diikat. Kalau tidak diikat, helai rambut pasti akan jatuh ke makanan.


"Uh, sepertinya aku harus ke kamar mandi dulu."


Setengah berlari Aishia menuju ke kamarnya. Tidak sadar bahwa lembar foto telah terjatuh dari sakunya. Arsene yang melihatnya kemudian memungutnya.


Bola mata Arsene membulat, ia sudah menemukan sesuatu yang luar biasa hanya dengan selembar foto.


Di sana ada sosok Aishia kecil yang bersanding bersama anak perempuan lainnya yang sangat mirip dengan Aishia. Meski mereka begitu mirip dan hampir tidak dapat ditemukan perbedaannya. Tetapi Arsene bisa langsung mengetahui yang mana Aishia.


Menyadari ada langkah kaki yang menuruni tangga, Arsene menyelipkan lembar foto itu ke dalam saku celananya. Dia mengambil piring lalu meletakkan lauk pauk di sana.


Alba dan Kei turun dari lantai dua dan berjalan menuju ruang makan. Hanya ada Arsene sendiri sedang sarapan. Ini cukup aneh, karena biasanya Aishia akan ada disana bersamanya setelah gadis itu tinggal juga di Mansion Shceneider.


Kei menarik kursi dan memandangi setiap lauk sarapan.


"Apa ini semua buatanmu, Kak?"


"Hm."


"Skill memasakmu nampaknya meningkat."


Arsene melirik Kei sinis.


Alba yang mendengarnya hanya tersenyum kaku. Ternyata keahlian Arsene tidak mentok di menu pasta saja, walau pasta sendiri ada banyak macamnya. Setidaknya, menu buatan Arsene sudah bertambah sekarang.


Tanpa menunggu kehadiran saudara lainnya, Kei mengambil semua lauk yang tersedia dan mulai melahapnya, melupakan segala tata krama di meja makan. Berbeda dengan Alba yang sedikit lebih elegan dalam memakan sarapannya.


TRENG


Semua perhatian tertuju pada Kei ketika remaja itu menjatuhkan garpu dan sendoknya. Alba mendadak terkejut saat Kei yang sangat suka marah - marah sekarang sedang menatap sarapannya dengan air mata yang terus menetes.


"Kenapa kau menangis, Kei?" Dengan sigap Alba mengambil sapu tangan dan telaten mengusap air mata Kei.


Arsene terhenyak. Dia kembali menatap sarapan yang dibuatnya bersama Aishia kemudian sosok Kei yang belum bisa menghentikan tangisannya.


"Kenapa mendadak begini, Kei?"


"Ugh... uwah...!"


Masih tidak mengerti mengapa Kei menangis, Alba menatap Arsene penuh arti. Namun adik ketiganya itu tidak mengatakan apa pun, dia hanya mengetuk pelan garpu pada piringnya.


Sedikit paham, Alba memakan sarapan yang belum sempat ia cicipi. Setelah mengunyahnya, dia merasa ada sensasi berbeda di mulutnya. Sudah cukup lama Alba tidak merasakannya.


"Arsene, kau..." Alba menatap Arsene tajam.


Sayangnya yang ditatap malah membuang pandangannya ke arah lain. Lagipula, masakan ini hampir seluruhnya adalah buatan Aishia. Ia tidak benar - benar membantunya. Jadi, pada dasarnya ini adalah masakan Aishia.


Kei kembali meraung, tangisan yang memilukan. Membuat Alba mengeratkan pelukannya pada adik bungsunya itu. Sangat menyedihkan untuk mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat. Tapi juga sukar untuk dilupakan.


"Tenang saja Kei, kakak akan selalu ada untukmu." Alba berbisik.


...****...


"Arsene, kenapa Kei tidak menghabiskan sarapannya? Apa dia sadar bahwa itu adalah masakanku?" Dengan cemas Aishia bertanya, ekspresi horor penuh ketakutan tercetak di wajahnya.


Arsene yang sedang bersantai di kursi halaman menoleh pada Aishia, dia tidak mengatakan apa - apa dan kembali menatap kumpulan tanaman yang dirawat Rio dengan sangat baik.


"Tolong jawab aku, Arsene. Yang lain makan dengan normal, tapi aku melihat di piring Kei masih ada sisa makanan dan itu sangat banyak!" Aishia menjadi geram karena Arsene tak kunjung menjawabnya.


"Sudahlah, Aishia. Sekarang sudah setengah sembilan."


Aishia terdiam, dia melihat arloji di tangannya yang menunjukkan waktu sama seperti ucapan Arsene. Ternyata setengah jam lagi untuk sekolah Kei memulai pembelajaran.


Wajah Aishia berubah masam. Tetapi dirinya tetap bergegas menuju bagasi untuk memanaskan mobil, meninggalkan Arsene yang masih terfokus pada tanaman - tanaman hijau.


"Rasa masakannya benar - benar mirip." Arsene bergumam.


Pria itu mengeluarkan selembar foto dari dalam sakunya. Harusnya Arsene mengembalikannya, namun ternyata dia belum ingin memberikan foto ini kembali pada pemiliknya.


"Ini Aishia dan..."


...****...


Sial, aku nyaris saja melupakan pekerjaanku. Bagaimana jika aku dipecat padahal belum seminggu aku berada disini?!


Aishia terus mengumpat dalam hatinya. Apalagi melihat betapa diamnya Kei hari ini. Biasanya, Kei akan terus memarahinya karena membuat remaja itu hampir telat ke sekolah. Tapi sekarang lihatlah? Kei bahkan lebih kalem daripada Arsene dalam mode santai.


Huh... diamnya orang cerewet membuatku ngeri.


Selama di perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Aishia fokus dalam menyetir sementara Kei terus menatap ke luar kaca jendela dengan tatapan kosong.


Dia seperti mumi. Ada apa dengannya? Jangan bilang kalau Arsene menambah bumbu macam - macam ke dalam masakanku. Obat pencahar misalnya.


Bahkan sampai mobil yang dikendarai Aishia berhenti di dekat gerbang sekolah. Kei masih diam dan tak menunjukkan respon apa pun. Dia hanya keluar dari mobil tanpa menoleh pada Aishia, kalau yang ini memang terhitung normal.


Tapi yang selanjutnya sama sekali tidak!


"Jemput aku setelah periode keenam selesai."


Aishia terkejut, ini adalah kali pertama Kei mengajaknya bicara. Dia yang pertama! Aishia jadi salting sendiri karena tidak tahu harus merespon bagaimana. Baru saja mau membalas ucapan Kei, dia sudah berjalan lurus ke gedung kelasnya. Tak lama, bel masuk pun terdengar.


Syukurlah Kei tidak telat, Aishia bisa bernapas lega.


"Fyuh... kenapa dengan Kei hari ini?"


Itu adalah pertanyaan di benaknya semenjak pagi tadi. Dia yang sedang ke kamar mandi dan Kei memakan sedikit sekali dari masakannya. Hal inilah yang menjadi sumber kecemasan Aishia.


"Saat kutanya Arsene, dia malah tidak mau menjawabku! Ada apa dengan semua orang hari ini? Bahkan Alba lebih kalem dari yang awalnya sudah kalem. Mansion jadi terasa aneh." Aishia menggerutu.


"Oh, Louis juga."


Aishia teringat dengan saudara kedua yaitu Louis. Pria yang satu - satunya Aishia kenali sebelum tinggal di mansion. Hanya saja, dia tak mengira bahwa Louis adalah anak orang kaya. Singkatnya, dia orang kaya generasi kedua.


Segera Aishia menjalankan mobilnya kembali pulang. Ia tahu akan satu hal. Melihat Kei yang tidak semangat memarahinya membuat Aishia mengerti kalau hari ini Kei tak memiliki mood untuk membuat onar.


"Sepertinya aku tidak perlu menitip pesan pada wali kelasnya."


TBC