MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 24 - Development



Hari berganti hari. Sekarang sudah akhir pekan. Kini Elvan telah kembali pada jadwal performanya yang mana sudah begitu padat karena terlalu lama mengambil cuti.


Di mansion sekarang hanya tinggal Rio, Kei dan Arsene.


Rio sedang memainkan ponselnya sementara duduk di sampingnya, Kei yang menonton film horor dengan volume tinggi. Arsene datang lalu menghampiri Rio dan berbisik padanya.


Wajah Rio nampak terkejut dengan apa yang Arsene bisikkan kepadanya. Kemudian ia mengangguk saja karena pasrah. Arsene selalu tidak bisa ditebak.


"Hei, Kei. Apa kau mau ikut denganku ke kafe langganan di dekat taman kota?"


"Aku malas ke mana - mana."


"Ayolah, aku tak mau sendiri ke sana."


Kei mendengus. Untung saja Rio yang memintanya, mungkin kalau Nichol dia akan langsung menolaknya dengan mentah - mentah sebelum Nichol menyelesaikan kalimatnya.


"Baiklah."


Rio tersenyum senang. Ia menatap Arsene lalu mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Arsene tidak terlalu yakin dengan apa yang Rio rencanakan. Tapi, semoga saja berujung baik.


...****...


"Tempat macam apa ini?" Kei mengernyit.


"Taman bunga." Jawab Rio singkat.


Kei bertambah heran. Untuk apa Rio mengajak dirinya ke mari padahal sebelumnya Rio bilang akan ke kafe.


"Bukannya kita akan ke kafe?"


Rio menunjuk ke ujung dari jalan setapak yang mereka lewati dengan berbagai jenis bunga tertanam di sampingnya. Perpaduan warna yang begitu indah membuat suasana damai.


"Di ujung sana, ada sebuah kafe."


"Jadi ini kafe langgananmu."


Kei memerhatikan sekitar di mana sejauh mata memandang hanya ada hamparan bunga yang begitu luas. Sebagai batas, tempat ini tertutupi oleh kaca. Dari luar sekilas akan terlihat seperti rumah kaca.


Dalam waktu 11 menit, akhirnya mereka sampai di kafe langganan Rio. Meski ada banyak pengunjung, namun Kei tidak merasa sesak dengan keramaian di sini.


"Eh? Bukannya itu..."


"...."


Kei terdiam. Saat Rio menunjuk dengan terkejut ke arah dua orang wanita yang sedang makan bersama. Kei mengenali salah satunya. Refleks ia menyembunyikan dirinya di belakang Rio.


"Kenapa kakak tidak bilang kalau ada Aishia di sini?!" Geram Kei sambil berbisik.


Meski ingin meminta maaf dan berharap Aishia kembali bekerja di mansion. Tapi sejujurnya, hati Kei belum siap sama sekali jika dia harus bertemu langsung dengan Aishia.


"Kak Rio sengaja, ya!"


Rio pura - pura tidak tahu atas hadirnya Aishia. Namun, ia juga takkan membiarkan Kei merusak rencananya dengan kabur begitu saja. Dengan gerakan cepat Rio menarik Kei menuju kafe.


"Kak Rio!"


"Ikut saja. Sudah lama aku tidak ke sini."


Ia mengutuk Rio dalam hatinya, ia merasa terkhianati. Pasti kakaknya ini sudah merencakan hal ini terlebih dahulu. Mungkin semenjak pesan hortensia miliknya yang Rio kirimkan untuk Aishia.


Kalau tahu akhirnya begini, lebih baik tidak megikuti saran Kak Arsene.


Terus saja dalam hatinya Kei memaki Rio, namun langkahnya sama sekali tidak berhenti dan dirinya semakin dekat dengan sosok Aishia yang terduduk di kursi roda.


Setelah melihat keadaan Aishia saat ini, Kei tercekat. Perasaan bersalahnya semakin menyeruak. Aishia bisa berakhir seperti ini, semua karena dirinya.


Menurut artikel yang dibacanya, tembakan di kepala termasuk sangat fatal. Hanya 10% yang dapat bertahan hidup dan kurang dari 5% mereka yang dapat pulih.


Beruntung Aishia termasuk dalam 5% itu. Kalau tidak, mungkin rasa bersalah dalam hatinya lebih besar dari ini.


Dengan wajah yang kaku dan tegang. Kei mendudukkan dirinya tepat di depan Aishia dan Hana yang memang duduk berdampingan. Juga Rio yang duduk di sebelahnya.


Kei yang menunduk memberanikan diri menatap Aishia. Gadis itu tengah tersenyum kepadanya dengan lembut dan hangat.


Kei tertegun. Aura hangat yang dipancarkan oleh Aishia benar - benar membuatnya terdiam kaku. Rasanya, Aishia sangat cocok menjadi sosok ibu ketika dia berekspresi seperti ini. Jangan lupakan kesabarannya dalam menyikapi Kei selama dia masih bekerja.


"Ah, tentang bunga itu, aku..." Suara Kei tertahan, gengsi gajahnya selalu muncul di saat yang tidak tepat.


"Aku tahu. Kei ingin meminta maaf padaku 'kan?"


Kei merunduk dalam, ternyata Aishia berhasil mendapatkan pesannya. Ia mulai memainkan jari - jari tangannya karena terlalu gugup.


Rio tersenyum tipis melihatnya.


"Sepertinya aku harus menelepon Arsene dulu. Tahu saja dia mau menitip dibawakan makanan dari sini." Ujar Rio sambil berjalan menjauhi gazebo sembari mengambil ponsel dari saku celananya.


Hana sedikit paham alasan mengapa Rio bertindak seperti itu. Dia tersenyum penuh makna tanpa Aishia sadari.


"Aku mau ke toilet sebentar, oke?" Izin Hana.


Aishia mengangguk saja.


Gadis itu memandang kepergian mereka dengan heran. Padahal baru beberapa menit yang lalu Hana izin ke toilet. Dan sekarang dia sudah ke sana lagi.


Apa dia terkena diare?


"Itu... err... Ai nee-san."


"Hm?"


"Ak-aku minta... minta..."


Wajah Kei memerah karena malu. Ternyata satu kata yang hanya memiliki empat huruf itu sangat sulit ketika diucapkan di situasi yang tepat. Ditambah, ia mengganti nama panggilannya pada Aishia agar lebih sopan.


Di sisi Aishia sendiri, dia dengan sabar menunggu Kei menyelesaikan kalimatnya. Karena meskipun belum sebulan Aishia bekerja di Mansion Shceneider, ia tahu betul tabiat Kei yang paling benci dipotong ucapannya.


Memang benar Aishia sudah tahu makna bunga hortensia kiriman Kei, semuanya berkat Arsene dan Hana yang memberinya keterangan.


Rio memintanya datang ke mari demi bisa mendengarkan permintaan maaf Kei secara langsung. Kei harus dipaksa atau dia takkan melakukannya.


Tidak kusangka rencana Rio akan sejauh ini.


Kei hanya perlu tahu bahwa Aishia tidak mempermasalahkan tindakannya selama ini.


"Maaf Ai nee-san..." Bisik Kei.


Ketika kata itu keluar langsung dari bibir Kei. Maka semua pembatas antara dirinya dan Kei akan semakin menipis. Sebuah perkembangan baik bagi Kei.


Aishia menyunggingkan senyum manisnya.


Dari jauh, Hana dan Rio bersembunyi di balik gazebo. Rio sambil tertawa kecil memotret momen langka ini dan mengirimkannya kepada Arsene. Itu karena hanya Arsene seorang yang ia beritahu rencana ini.


"Kiriman bunganya jadi terlihat sia - sia."


...****...


Sebuah pesan masuk ke nomor Arsene. Pria pemalas itu yang biasanya sedang selonjoran di ruang menonton. Anehnya sekarang malah mematut diri di cermin, kegiatan yang sama sekali jarang atau tidak pernah Arsene lakukan sebelumnya.


Arsene memungut ponselnya yang tergeletak sembarangan dan membuka pesan. Rio mengirimkan gambar. Di sana terdapat Aishia dan Kei di kafe. Ekspresi mereka berdua nampak begitu santai.


"Ah, jadi rencananya berhasil."


Tidak lama ia kembali melempar ponselnya sembarangan, seolah benda itu adalah kerikil yang tidak berharga.


Ia memandang lagi pantulan dirinya di cermin. Surai putih tulang dengan iris amethyst begitu menjadikan fisiknya memukau. Wajahnya ini mencetak rupa ibunya secara sempurna, nyaris tidak ada celah.


Sorot pandangan Arsene berubah tajam.


"Kau pasti sudah melihatnya, bukan?"


Arsene tersenyum sinis.


"Keputusanmu sepuluh tahun lalu adalah kesalahan fatal."


TBC