MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 25 - Green Tea



"Kei, kau pasti lapar. Mau pesan makanan?" Tanya Aishia ramah.


Kei mengangguk pelan.


"Kak Rio yang akan membayar seluruh tagihannya."


Rio terkejut, namun dia mengiyakan saja saat mendapat lirikan tajam adik bungsunya. Rupanya Kei masih dendam karena diajak secara tiba - tiba untuk menemui Aishia.


Aishia terkekeh. Ia memandang kedua adik kakak itu dengan sorot lembut. Entah kenapa, Aishia jadi teringat akan sosok kakaknya ketika melihat mereka bersama. Seolah sedang bercermin.


"Rio, apa yang dikatakan Arsene?" Tanya Aishia.


"Huh?" Rio nampak bingung.


Kei mendelik.


"Bukankah Kak Rio barusan meneleponnya untuk menanyakan pesanan Kak Arsene? Masa langsung lupa. Aneh."


Rio mendadak gelagapan sementara di sisi Hana dia tertawa cekikikan melihat Rio yang panik. Padahal itu hanya alasan mereka berdua untuk memberi ruang pada Aishia dan Kei. Tidak disangka alasan itu dianggap serius oleh mereka.


"Sepertinya aku lupa, akan kutanyakan lagi."


Rio beranjak dari kursinya dan menekan tombol panggil di kontak Arsene.


"Ada apa meneleponku?"


"Aku hanya ingin tahu pesananmu, kau mau menitip atau tidak?"


"Di mana?"


"Kafe langgananku."


"Kafe? Bukan restoran?"


"Hei, aku sudah menawarkanmu. Jangan minta jantung. Sekarang mau pesan atau tidak."


"Aku mau pasta, terserah yang mana karena aku bisa makan semuanya. Lalu cupcake cokelat dua. Kau yang bayar, oke?"


"Iya," Rio menutup panggilan. "Dasar penggila pasta."


Rio kembali ke tempat duduknya dan memesan menu sederhana saja. Agak bertolak belakang dengan kebiasaan banyak orang yang akan makan makanan berkalori dan berlemak di siang hari.


"Kei, kau mau minumannya juga?"


Kei mengangguk, "Green tea."


Aishia tampak sedikit terkejut. Pasalnya, menurut informasi dari Arsene, Kei itu mengecualikan green tea untuk minumannya. Namun sekarang, ini berkebalikan dari pesan Arsene.


Menyadari tatapan aneh dari Aishia, Kei bertanya. "Apa ada yang aneh?"


"Hng? Oh, iya. Kupikir Kei tidak suka makanan atau minuman rasa green tea."


Dahi Kei mengernyit, "Itu tidak benar. Aku malah menyukainya. Memang siapa yang memberitahu Ai-nee kalau aku tidak suka green tea?"


"Arsene tidak mengatakannya secara langsung. Tapi, saat aku membeli kue dan bertanya rasa apa yang harus kubeli untukmu padanya. Dia mengatakan apa saja asalkan jangan green tea. Dari sana aku berpikir bahwa kau tidak menyukainya." Jelas Aishia.


"Jadi Kak Arsene yah..." Gumam Kei.


Rio melirik kecil adik bungsunya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini berada. Rio cukup terkesan pada Arsene yang mampu mengingat hal kecil yang bahkan tidak terpikirkan oleh Kei. Mungkin Arsene memang saudara paling perhatian diantara keenamnya.


Ketika pesanan datang. Semuanya menikmati hidangan sambil diselingi oleh percakapan kecil. Tawa bahagia pun menghiasi wajah mereka.


...****...


"Sampai jumpa lagi, Aishia." Ujar Rio.


Aishia mengangguk. Hana membantu Aishia mendorong kursi rodanya. Saat tatapan Aishia bertemu dengan Kei, gadis itu melebarkan senyumannya.


"Sampai jumpa, Kei."


"...."


Bahkan setelah Aishia dan Hana tidak terlihat lagi di kafe. Kei masih diam membeku di tempat semula dan Rio belum berkeinginan menyadarkannya.


"Sudah melamunnya? Kudengar melamun di siang bolong bisa memperpendek umurmu." Celetuk Rio.


Kei tersadar lalu menatap kesal Rio yang terkekeh. Karena suasana hatinya terlanjur memburuk, Kei langsung melangkah menuju tempat parkir.


"Kau semakin akrab dengan Aishia." Rio makin gencar menggoda adiknya.


"Aku tidak akan berterima kasih kepadamu."


Mendengar ucapan ketus Kei, membuat hari Rio semakin lebih menyenangkan. Memang terasa menyebalkan kalau Kei tidak mau jujur, namun entah kenapa yang sekarang sensasinya sangat berbeda.


Kei kembali mengalihkan pandangannya membelakangi Rio. Kini kedua telinganya yang sempat memerah telah menjadi normal lagi.


"Bukankah dia sangat hebat? Masih ingat rincian kecil seperti itu, sementara aku tidak. Padahal yang setiap hari bersama Paman Mo itu adalah aku." Bisik Kei.


Rio diam mendengarkan.


"Kenapa aku malah melupakan rasa favorit Paman Mo?"


"Itu sebuah kebetulan."


"Benarkah?"


Memori Kei mengenai hari - hari emasnya bersama Paman Mo bergulir dalam kepalanya. Setiap hari sangat luar biasa. Dia menjadi murid teladan dan selalu tersenyum untuk Paman Mo.


Kenapa?


Kenapa ia bisa melupakan hal itu?


"Aku ini yang terburuk."


...****...


"Kak Al mau kemana?"


Nichol memandang penasaran kakaknya yang mendadak keluar dari kantor sambil berpakaian santai. Dia hanya memakai kaus hitam lengan panjang dan celana bahan.


"Tidak lihat penampilanku? Aku mau bersantai." Alba berkacak pinggang.


"Di jam tidur siang?" Nichol semakin penasaran.


"Iya."


"Perasaan Kak Arsene tidak masak macam - macam pagi ini." Gumam Nichol.


"Aku bisa mendengarmu."


"Hehe..."


Alba mendengus. Sementara Nichol malah terkekeh tidak jelas. Karena malas meladeni adiknya lebih jauh, Alba pergi ke luar kantor dan tetap pada tujuan utamanya. Bersantai.


Alba berencana untuk pergi ke pantai yang jaraknya tidak begitu jauh. Mungkin hanya akan menempuh waktu dua jam jika jalanan lancar. Sebab ia ingat kalau seminggu lalu masih ada perbaikan jalan di kilometer 40.


"Semoga saja lancar. Aku mau bersantai, bukan bersabar atas kemacetan."


Seakan enggan mengabulkan harapan Alba. Kemacetan melanda di km 38 yang membuatnya harus bersabar dengan jalanan yang merayap sangat lambat.


"Sepertinya Dewi Fortuna tidak suka aku buang - buang waktu."


Dengan kesabaran yang amat sangat tipis, mobil Alba terus merayap di tengah kemacetan. Dan sialnya, pergerakan benar - benar berhenti di tempat perbaikan jalan karena alat berat yang menghalangi.


Sambil menyangga dagunya, Alba menunggu mobil di depannya bergerak maju. Ia iseng melirik ke mobil di sampingnya yang dalam sekejap membuatnya kesal dan menyesal.


Di mobil sebelah, ada sepasang kekasih yang tampak sambil bersandar dan berpegangan tangan dengan mesranya. Bahkan mereka tidak malu berciuman di tengah keramaian.


Jantung Alba seolah berhenti berdetak selama beberapa detik karena dia mendadak lupa untuk bernapas. Setelah sadar, ia dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain supaya tidak melihat pemandangan yang menyakitkan matanya.


Kenapa mereka semakin mesra sedangkan aku makin nelangsa?


Alba memegang kemudinya dengan kuat. Ini adalah cara terbaiknya meminimalisir perasaan marah. Alba menarik napas lalu menghembuskannya, begitu terus hingga hatinya sedikit lega.


Tatapan matanya berubah pilu. Ia memasang headset, kemudian membiarkan pikirannya tenggelam dalam lirik lagu.


Alba membuka ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Nichol. Dia ingin agar adiknya itu mengurus semua hal yang belum selesai, sebab Alba akan langsung pulang setelah ini. Perasaannya yang memburuk membuatnya enggan untuk ke pantai.


[Nichol: Apa?! Semuanya?! Kak Al berhenti bercanda dan segera kembali ke kantor. Aku benci lembur!]


Dengan tega Alba menyimak saja pesan Nichol dan tak berniat memberikan balasan.


Sebenarnya mentalnya untuk seorang pemimpin masih terbilang cacat karena mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Arsene akan menyindirnya habis - habisan jika tahu.


"Aku tak bisa terus begini."


TBC