MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 22 - Kalimat Hortensia



Rio kembali ke mansionnya, tentu saja tanpa Aishia. Rio sudah mengantar gadis itu ke dojo. Dan entah bagaimana, orang - orang di sana langsung akrab dengannya bahkan mengajaknya berkeliling dojo.


Sungguh, ini hari yang melelahkan bagi Rio.


"Kemana Ai-nee?"


Sejenak Rio terdiam, kemudian dia mengusap tengkuknya. Tentu saja dia sedang gugup dan canggung dengan pertanyaan Elvan. Meski Elvan tak begitu banyak berinteraksi dengan Aishia, tapi kelihatannya dia menerima kehadiran gadis itu di mansion.


"Dia... sudah tidak bekerja lagi di sini."


Prank!


Perhatian Rio dan Elvan tertuju pada seseorang yang menjatuhkan piring berisi camilannya. Tatapannya yang nanar berubah tampak marah.


Tanpa memedulikan camilannya yang sudah jatuh dan kotor, Kei berjalan cepat ke arah Rio dan menatap kakak ketiganya dengan sangat tajam.


"Katakan kalau itu bohong." Ujarnya tajam.


"Tapi, itu bena-"


"Kubilang katakan itu bohong!"


Elvan terkejut saat mendengar Kei yang berteriak. Dia juga mendadak merasa heran. Mengapa Kei kesal karena Aishia yang berhenti bekerja di sini? Bukankah sejak Aishia dipekerjakan Alba, Kei menolak keberadaannya mentah - mentah?


Jangan lupa juga tentang semua kelakuan buruk Kei terhadap Aishia. Dan yang terakhir, karena dia kabur dari mansion, itu menyebabkan Aishia koma dan sekarang mengalami lumpuh sementara.


"Kenapa denganmu, Kei?" Tanya Elvan cemas.


Saat Elvan mendekat, dia semakin dikejutkan sebab Kei mulai menitikkan air mata dan berjongkok. Kei memang sangatlah emosional, ditambah pengalaman yang membuatnya trauma. Lama - lama dia mungkin akan gila.


"Aku... minta maaf, tolong kembali..." Kei berbisik.


"Kei..."


...****...


Arsene menatap datar ke luar jendela. Di mana di sana terdapat Rio yang duduk sendirian di taman hortensia. Pria itu tampak sedang menyesali sesuatu, atau banyak hal. Semua bisa jadi kemungkinan.


Bahkan saat ini Kei sedang mengunci dirinya di kamar. Berharap saja besok dia mau keluar karena waktu skorsing sudah habis.


Juga Elvan yang hanya menghabiskan waktunya dengan menonton televisi dari sore tadi sampai malam ini. Walaupun matanya melihat ke arah televisi, pikirannya nampak tidak ada di sini.


"Yang benar saja, mereka terlalu rapuh." Dengus Arsene.


Lalu pandangan Arsene tertuju pada hamparan hortensia yang begitu cantik berwarna - warni. Namun perhatiannya hanya pada sebuah bunga hortensia dengan warna biru.


"Jadi begitu."


Arsene melangkah menuju kamar Kei. Tanpa merasa perlu masuk, Arsene hanya mengetuk pintu kamar dan berbicara dari luar. Ia yakin Kei belum tidur dan pasti bisa mendengar ucapannya.


"Bisa dengar suaraku, Kei?"


Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Namun di jam segini, Kei yang memiliki insomnia pasti belum tidur. Anak itu mungkin sedang tiduran, karena Kei tidak punya kebiasaan mendengarkan musik.


"Kau tahu, hortensia biru sudah mekar dengan sangat baik. Apa kau tidak mau memberikannya pada Aishia? Rio atau Kak Al bisa membantumu mengirimkannya."


Masih tak ada suara dari dalam. Namun, Arsene segera kembali ke kamarnya untuk istirahat. Berbeda dari Kei yang menderita insomnia, Arsene bisa tidur di mana saja dan kapan saja.


Semoga saja dia paham maksudku.


...****...


Keesokkan paginya. Entah dapat hidayah dari mana, tapi Kei sudah siap dengan seragam sekolahnya. Bahkan Nichol yang sudah siap menyembur, malah memandangnya heran.


"Dia kesambet apa?" Tanya Nichol pada Arsene.


"Jangan tanya aku." Jawab Arsene.


Setelah sarapan, Kei bergegas menarik Rio keluar tepatnya taman mansion mereka. Karena penasaran, akhirnya Nichol, Elvan dan Alba mengintip dari pintu belakang. Sementara Arsene menatap mereka bertiga dengan malas.


Rupanya Kei memetik salah satu hortensia biru dan menyerahkannya pada Rio. Hal itu sontak menjadi tanda tanya besar di benak mereka. Pasalnya tindakan Kei seperti pernyataan cinta.


"Kak Rio, bisakah kau membantuku memberi ini pada Aishia?" Pinta Kei dengan wajah malu - malu.


Rio sedikit terkejut, tapi akhirnya dia mengerti maksud Kei dan tersenyum.


"Tentu saja, akan kuberikan ini kepadanya."


"Terima kasih." Kei berbisik malu.


Baginya, ini adalah permintaan paling memalukan yang pernah ada. Ini lebih membuatnya malu lagi kalau Rio tahu tujuan Kei yang sebenarnya. Ini semua gara - gara Arsene yang mengungkit tentang mekarnya hortensia biru.


"Kalau begitu, aku langsung berangkat mengantarkannya saja. Sekolah yang rajin, ya."


Kei mengangguk dalam diam. Sudah cukup dia mempermalukan dirinya dengan meminta Rio mengirim hortensia biru pada Aishia. Dia takkan melakukan hal lebih jauh.


Elvan, Nichol dan Alba hanya memperhatikan semua itu dari jauh. Mereka tak bisa mendengar percakapan Rio dengan Kei. Tapi yang dari bisa mereka lihat adalah Kei memberikan Rio bunga hortensia dan sekarang Rio pergi entah kemana.


Arsene yang ada di belakang mereka tiba - tiba teringat sesuatu. Kei memang paham bahasa bunga, tetapi Aishia belum tentu. Kalau Rio paham, mungkin saja dia akan mengatakan maksud Kei.


Tapi bagaimana jika Rio menganggap Aishia paham? Tunggu, sebenarnya Aishia paham atau tidak?


...****...


[Arsene: Dia ingin meminta maaf padamu.]


Aishia memandang pesan dari Arsene dengan kebingungan. Ia tidak tahu kenapa tiba - tiba Arsene mengirimkan pesan semacam ini. Apa mungkin dia salah sambung?


"Kenapa, Aishia?"


Hana yang sedang mengunjunginya di dojo setelah mendengar Aishia sudah keluar dari rumah sakit juga sama melihat pada ponsel Aishia.


Senyum Hana terukir saat melihat nama kontaknya.


"He~ siapa Arsene?"


Aishia menatap Hana, dan gadis itu menaik turunkan kedua alisnya dengan senyuman penuh makna.


"Dia saudara dari orang yang memberiku pekerjaan."


Hana memang mengangguk, tapi ekspresi wajahnya tidak berubah dari yang barusan. Dia tetap mencurigai hubungan sahabatnya ini dengan sosok bernama Arsene.


Baru saja mau menggoda Aishia mengenai Arsene. Salah satu junior Aishia mendatangi mereka dan mengatakan bahwa ada yang mencari Aishia dan sekarang sedang menunggunya di ruang latihan.


Aishia dan Hana saling berpandangan heran.


Hana segera mendorong kursi roda Aishia ke.luar dari kamarnya. Dengan perlahan Hana membawa Aishia menuju ruang latihan. Karena jadwal latihan kosong, makanya ruangan itu sedang tidak dipakai.


Ketika mereka sampai di ruang latihan. Ada pimpinan dojo yang sedang berhadapan dengan seseorang yang wajahnya begitu familiar di mata Aishia.


"Heh?" Aishia terkejut.


Hana mulai menduga - duga kalau pria yang berhadapan dengan pimpinan saat ini ialah Arsene yang baru saja mengirim surel.


"Rio?!"


Hana kaget karena ternyata dia adalah pria lain. Bukan Arsene yang sebelumnya Aishia sudah pernah berkirim pesan dengannya. Ternyata selama bekerja Aishia sudah banyak bermain tanpa Hana ketahui.


Dan lihatlah, Rio datang sambil membawa sekuntum hortensia biru.


Sebagai penjual bunga, Hana sudah khatam semua makna bunga yang ia jual termasuk hortensia. Dan lagi, Rio membawa yang warnanya adalah biru. Padahal jika yang ia bawa berwarna merah muda, mungkin dugaan Hana tidak akan meleset. Tetapi, biru?


Melihat Aishia sudah datang. Pemimpin dojo memutuskan pergi untuk memberi Rio sedikit ruang bersama Aishia. Begitu juga dengan Hana ketika ia dikode oleh pemimpin dojo.


Setelah mereka berdua pergi, Rio melangkah mendekati Aishia dan memberikan hortensia biru kepadanya. Walau bingung, Aishia tetap menerimanya dengan sepenuh hati karena dia menyukai bunga.


"Terima kasih."


"Itu dari Kei."


"Oh? Katakan kepadanya kalau aku suka bunga pemberiannya." Ujar Aishia seraya tersenyum.


"Tentu."


Aishia dan Rio berbincang sebentar hingga Rio kemudian pamit pulang. Rio bercengkerama sekejap dengan pemimpin dojo seperti yang dilakukannya terakhir kali saat mengantar Aishia.


"Sampai jumpa, Aishia. Semoga lekas pulih."


"Bilang pada Kei jangan khawatir tentang lukaku. Suatu saat, aku pasti pulih sepenuhnya."


Rio terdiam sejenak. Lalu dia mengangguk lembut. Bahkan Aishia mengetahui bagaimana perasaan Kei padanya selama ini. Pesan bunga itu mungkin sudah tersampaikan.


Aishia hanya menatap punggung Rio yang menjauh. Dia termenung sampai Hana menyentuhnya.


"Apa kau paham mengapa dia memberimu itu?" Tanya Hana.


"Huh?" Aishia menatap pada bunganya. "Aku baru saja mau bertanya padamu apa artinya."


"Huft... capek deh."


Aishia terkekeh.


"Dia ingin meminta maaf padamu."


Tawa kecil Aishia terhenti. Pandangannya kembali tertuju ke arah hortensia di tangannya, kemudian sosok Hana yang berdiri di sampingnya dengan tatapan tidak percaya.


"Benarkah?!"


"Itu benar."


Kei ingin meminta maaf?


"Dia menyesal, maka dari itu dia meminta maaf. Begitulah makna hortensia biru. Meskipun di sisi lain itu bisa juga berarti hati yang dingin. Tapi, aku yakin bahwa yang ini dimaksudkan untuk penyesalan dan minta maaf. Bukankah Arsene juga mengatakan hal yang sama di surel?"


Aishia kembali ingat dengan surel dari Arsene.


"Jadi, dia menyesal atas apa?"


Aishia menatap rumit bunga indah dengan bentuk bulat sempurna tersebut.


TBC