
Matahari telah terbenam dengan indahnya. Kini, hanya ada langit gelap dengan jutaan bintang bertaburan menghiasi. Suara hewan malam cukup bising menyelimuti kegelapan.
Di ruang tamu, Aishia masih sibuk menunggu pesan atau pemberitahuan apapun dari rekan dojonya. Namun hingga waktu menunjukkan pukul tujuh, tidak ada pesan yang masuk.
Aishia semakin cemas - cemas harap. Dia cemas pada Kei dan juga dirinya sendiri. Aishia telah gagal menjalani tugasnya dan membahayakan orang lain. Bagaimana jika Kei sedang dirundung masalah sekarang ini?
Bruk!
Aishia terkejut. Pintu mansion dibanting keras dari arah luar, di sana ada Nichol yang tampak kehabisan napas. Keringat memenuhi setiap sudut serta kemeja putihnya yang terlihat kumal.
"Nichol...?"
Nichol begitu panik, dia menghampiri Aishia karena gadis itu adalah satu - satunya orang yang dia lihat di sini. Nichol memegang kedua pundak Aishia dengan erat.
"Apa Kei masih belum ditemukan?!"
Aishia tersentak, kemudian menunduk dalam. Nichol bisa tahu jika gadis itu menggeleng sangat pelan. Jawabannya adalah tidak. Keberadaan Kei belum diketahui sampai saat ini.
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Aku dan Rio mencarinya. Tapi saat senja, Alba meminta kami pulang saja ke mansion. Saat ini hanya Alba dan Louis yang masih diluar mencari Kei." Jelas Aishia.
Tepat setelah Louis kembali dari toko bukunya. Alba segera menarik adiknya itu untuk mencari si bungsu. Alba juga meminta Aishia dan Rio tetap di mansion bersama Arsene.
"Ada apa dengan Kak Al? Dia menghentikan pencarian kalian, begitu?" Nichol menaikkan sebelah alisnya heran.
Aishia mengangguk.
Nichol mendengus, dia membuka jasnya dan melempar benda itu ke sembarang tempat yang membuat Aishia harus memungutnya agar bisa ditaruh di mesin cuci.
Dengan kasar Nichol membanting dirinya ke sofa. Sementara Aishia ke kamar mandi utama untuk menaruh jas Nichol di mesin cuci.
Ting!
Nichol melirik meja. Di atas sana ada ponsel yang tergeletak. Dari modelnya, itu bukan milik Arsene. Kalau begitu, pasti milik Aishia.
Nichol mengintip layar kunci dan mendapati surel yang masuk.
"Oh? Dari 'Mia'...?"
Sebelum layar kunci kembali mati, Nichol mengambil ponsel Aishia dan membaca pesan Mia yang ditujukan pada Aishia. Nichol menautkan alisnya ketika membaca pesan tersebut.
[Mia W. : Kami menemukannya, Ai! Orang yang kau cari ternyata disekap oleh sekumpulan preman di dekat wisata pendakian. Sepertinya mereka adalah para preman yang kabur dari penjara karena kasus dengan kepala keluarga Shceneider.]
Iris merah Nichol membulat.
"Kei diculik...?"
...****...
Alba dan Louis bersama - sama mencari Kei. Kini Louis yang mengendarainya mobilnya, mereka melakukannya bergantian. Tapi hingga keluar komplek pun mereka tak dapat menemukan Kei. Bahkan prediksi Arsene yang mengatakan jika Kei ada di supermarket.
"Sekarang, ke mana lagi kita harus mencari?" Tanya Louis kepada kakak tertuanya itu.
"Aku tidak tahu!"
Louis menengok, mendapati kondisi Alba yang begitu kacau. Dia akan separah ini kalau sesuatu terjadi kepada adik - adiknya. Kondisinya sekarang lebih parah ketika mantan pacarnya mengkhianati dirinya.
"Kak, tenanglah sedikit. Kita pasti menemukan Kei. Mainnya tidak pernah jauh - jauh, kok." Louis menenangkan.
Pasalnya, kalau Alba kacau begini dia tidak akan menyelesaikan apa pun. Dan dengan kondisi ini, mereka takkan mencari Kei dengan mulusnya. Saat mereka tenang pun Kei sulit ditemukan, apalagi tidak.
"Dia akan baik - baik saja." Ucap Louis.
"Kau mengatakan itu setiap sepuluh menit sekali. Aku sampai ingat." Alba mendelik tajam.
"Soalnya Kak Al sendiri yang tidak mau tenang. Aku juga khawatir, Kak. Tapi cemas takkan menyelesaikan apa - apa."
Alba mendengus.
"Hari ini kau dan Arsene sama saja. Mengguruiku terus sepanjang hari, sampai aku merasa bosan."
Louis terdiam, dia menatap keluar jendela mobilnya. Seperti yang ia katakan pada Alba, Louis pun merasa cemas dan takut. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada Kei. Makanya sejak tadi ia ingin sekali mengunjungi kuil dan melempar jutaan koin ke dalam kotak hanya untuk keselamatan adiknya.
Drrt!
Ponsel Louis bergetar, ada notifikasi masuk dan itu berasal dari Nichol. Dia mengirimkan gambar kepadanya. Baru saja gambarnya dimuat, ia tahu kalau itu adalah tampilan media chating.
"Huh?" Mata Louis membulat setelah membaca dari ujung ke ujung, "Ini tidak benar..."
"Ada apa?"
Alba mencondongkan tubuhnya pada Louis yang masih shock melihat pesan dari Nichol. Begitu juga dengan Alba yang ikut nimbrung.
Padahal Alba berharap hal ini takkan terjadi.
Dia telah menjadi kakak terburuk.
TBC