MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 28 - Story from Alba



"Bagaimana ramalan hari ini?" Tanyaku pada Arsene yang sibuk merebahkan dirinya di depan televisi. Astaga, kapan dia akan berhenti dari menjadi seorang pemalas?


"Sepertinya kau akan mengalami kemalangan dalam hubungan cinta yang kau miliki." Ujar Arsene asal.


Aku mendelik kesal. Mengapa baru memulai hari saja pria ini dengan mudahnya membuatku naik darah? Dia pasti punya kemampuan memancing emosi lawan yang tinggi.


"Bukan ramalan seperti itu! Tapi ramalan cuaca!" Ucapku kesal.


Arsene mendadak mengubah posisinya yang terlentang menjadi duduk dan menghadapku. Dia mengambil ponselnya dengan terburu - buru.


"Harusnya Kak Al mengatakan prakiraan cuaca, bukan ramalan. Aku jadi salah paham 'kan." Celetuk Arsene.


Meski begitu, darimana dia mendapatkan hasil ramalan itu? Apa dia melihatnya dari ponsel melalui zodiak atau tanggal lahir seperti halnya para astrologi? Apapun itu, aku tak berharap ada kemalangan dalam hubunganku dengan Anya.


"Di mana Louis?"


"Dia ke toko buku, tentu saja. Dia bukan pengangguran sepertiku yang kerjanya hanya makan, nonton dan tidur seharian."


"Kau menyindir dirimu sendiri."


"Itu kenyataan, bukan? Untung aku bisa masak makanya tidak ditendang dari mansion."


"Maksudmu segala macam jenis pasta itu?"


Apa itu disebut bisa memasak jika dia hanya mampu memasak pasta? Penggila pasta yang satu ini memaksa orang lain menjadi seperti dirinya. Aku heran kenapa dia tidak mencoba memasak sesuatu selain pasta.


"Hei, bersyukurlah. Dari pada kalian makan makanan restoran cepat saji, pasta buatanku masih jauh lebih baik dari segi apa pun."


Aku mengabaikan ucapannya yang mulai ngawur. Walaupun terkadang aku merasa otaknya memiliki kepintaran di luar nalar. Tapi, di waktu - waktu tertentu aku rasa dia hanya bicara asal saja. Tidak ada makna apa pun di balik ucapannya.


"Apa kau tidak berniat ke luar dari mansion?"


"Kau mengusirku?"


"Maksudku untuk sekedar jalan - jalan. Soalnya kau selalu berada di dalam rumah seperti siput. Kau akan berlumut jika tidak terkena sinar matahari."


Aku lagi - lagi menceramahinya. Padahal sudah tahu bahwa tak akan ada satu pun ucapanku yang akan didengarnya kalau itu soal ke luar rumah. Entah ada apa dengannya, tapi Arsene seakan alergi untuk sekedar mengunjungi taman belakang mansion.


Sebuah pesan masuk dalam ponselku. Aku memeriksanya dan tersenyum kecil saat melihat siapa yang mengirimkan pesan.


Bisa kurasakan kalau Arsene sedang menatapku dengan tatapan muak karena terlalu terlihat seperti orang sakit cinta. Kupikir, adikku yang satu ini agak jijik dengan hal berbau percintaan.


"Jangan menatapku begitu." Ujarku memperingatkan.


"Tapi wajahmu saat bahagia itu menyebalkan. Jangan sampai cinta memengaruhi otakmu dan membiarkan hatimu mengambil alih kendali."


Ucapan Arsene membuatku terdiam. Memang dia ini adalah saudara yang paling suka menasihati dengan seluruh kata mutiara miliknya. Pikirannya berjalan terlalu logis tanpa membiarkan hati ikut campur dalam membuat keputusan.


Hatinya sangat dingin.


Otaknya malah mendukung hatinya untuk tetap dingin, tak ada kehangatan dalam dirinya.


"Mungkin kau harus merasakan jatuh cinta lebih dulu. Berkata tidak semudah bertindak."


"Aku tahu kalau aku tidak berpengalaman. Tapi di sini aku hanya mengingatkanmu. Hati itu terlalu rapuh dan sangat mudah terluka. Terlebih lagi kau tipe manusia perasa, berbanding terbalik denganku."


Ya, itu benar. Hatimu sangat dingin. Pernahkah kau berpikir dunia yang indah ketika kau sedang jatuh cinta? Atau, aku yang sudah jatuh terlalu dalam perasaanku sendiri? Ini tidak bagus sama sekali.


"Apa yang akan kau lakukan semisal Anya menusukmu dari belakang?"


Aku mengernyit. Merasa tak senang dengan pertanyaannya.


"Yang ingin kau katakan adalah Anya selingkuh dariku?"


"Ini hanya contoh. Yang kutanyakan adalah reaksimu terhadap pengkhianat hubungan."


Tatapanku menajam.


"Jika itu terjadi, aku akan putus dengannya. Tidak peduli apa pun karena sekali bermain di belakang, kemungkinan untuk terjadi lagi jauh lebih besar dari pada yang sebelumnya."


Tentu saja aku masih memiliki logika untuk tidak mempertahankan hubungan dengan wanita yang sudah selingkuh dariku. Aku tidak begitu bodoh sampai bertahan dengan hubungan toxic semacam itu.


Ketika aku sibuk melihat pesan dari Anya, ada pesan lain yang masuk. Seseorang dengan nomor tak dikenal mengirim sebuah foto.


"Eh?"


Tubuhku membeku tak berdaya melihat foto yang dikirimkan. Otakku berusaha menjelaskan maksud dari foto ini. Sedangkan hatiku terus menyangkal apa yang ada di sana.


Ini tidak mungkin terjadi!


"Oh? Mereka ada di ComZ. Kafe yang populer di kalangan remaja."


Aku terkejut saat menyadari kalau Arsene sedang mengintip isi ponselku di belakangku. Apa karena aku terlalu fokus pada foto ini sampai tak sadar kalau Arsene sudah berada di belakangku?


Apapun itu, foto ini jauh lebih penting dari pada segalanya. Aku harus memastikannya!


"Mau memeriksanya?"


"Tentu. Foto ini membuatku merasa tidak nyaman. Di mana tadi kau bilang? ComZ?"


"Yap. Cari saja lewat map di ponselmu."


"Terserah."


Aku segera melangkah ke luar mansion. Walau sebenarnya aku merasa heran karena Arsene mengetahui hal - hal seperti ini sementara di sisi lain dia adalah manusia yang tak pernah ke luar mansion dan enggan mencari tahu.


Tapi aku tak perduli. Yang perlu kulakukan saat ini adalah memastikan apa yang ada di dalam foto itu benar atau tidak. Mungkinkah si pengirim hanya sedang iseng saja? Keisengan ini sama sekali tidak lucu.


Sesuai petunjuk Arsene mengenai kafe bernama ComZ ini. Aku segera menuju lokasi yang disebutkan. Kuharap ini semua hanya ulah orang iseng.


Namun, semua harapanku sirna saat melihat melalui jendela kafe yang transparan. Seorang pria dan wanita tengah duduk di paling pojok kafe sambil bersenda gurau.


Kekasihku, Anya duduk di sebelah seorang pria yang tidak kukenali. Mereka tertawa bersama dan terkena Anya bergelayut mesra di tangan pria asing itu.


Tanganku mengepal erat.


Aku menarik napas dalam - dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


Setelah mengumpulkan keberanianku, kulangkahkan kakiku memasuki kafe dengan ekspresi wajah yang dibuat senormal mungkin.


Sangat berbeda dari kebanyakan pengunjung yang memperhatikanku ketika aku masuk, Anya dan pria itu nampak tidak teralihkan. Aku semakin berusaha menekan amarah dalam dadaku.


Heh, ternyata aku sudah buta.


Jelas sekali kalau aku telah dibodohi oleh wanita ini. Aku tak tahu apakah pria itu tahu atau tidak, tapi aku akan dengan cepat menyelesaikan semua basa - basi ini.


"Halo, Anya." Aku memaksa bibirku untuk tersenyum.


"E-eh? Al-Alba-"


Refleks Anya melepaskan pelukannya pada tangan pria itu. Wajahnya jelas sekali kalau dia sedang cemas. Astaga, kenapa aku tak pernah sadar dengan kebohongannya ini?


Aku tahu bahwa pria ini bukan kerabatnya.


Sebenarnya, meski ini terdengar tidak etis. Tapi aku sudah tahu semua anggota keluarganya termasuk paman, bibi dan sepupunya. Serta beberapa relatif dekat yang masih berhubungan dengan Anya.


Bukan karena aku sengaja mencarinya, tetapi Nichol yang mengumpulkan informasi tentang Anya sedetail mungkin lalu melaporkannya kepadaku. Dia bilang untuk menghindari kesalahpahaman.


Namun pria ini, tidak ada data tentangnya sama sekali dalam informasi yang dikumpulkan Nichol. Nichol tidak pernah salah dan selalu akurat serta rinci dalam mengumpulkan informasi.


Itu berarti pria ini adalah asing.


Dan Anya sedang berbohong kepadaku.


Miris sekali.


Aku merogoh saku di jasku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisikan cincin berlian. Tadinya aku ingin memberikannya untuk menikahinya. Sayang sekali perselingkuhannya terkuak lebih dulu olehku.


"Tidak ada gunanya juga untukku menyimpan ini. Awalnya aku mau melamarmu, sayang sekali yah..." Kataku dengan getir.


Usahaku untuk menahan emosi nyaris bobol. Dinding yang kubuat dengan susah payah mungkin sebentar lagi akan jebol. Aku sangat kesal karena kesetiaanku dibalas oleh pengkhianatannya.


"Alba, dengarkan penjelasanku dulu!"


"Bullsh*t, apa tidak ada kata - kata lain?"


Sementara aku bangun, pria yang menjadi orang ketiga dalam hubungan kami ini tetap diam tak bergeming seakan menunggu momen ini untuk datang.


Cih.


Mengingatnya saja membuatku sakit.


Aku berjalan dengan perasaan kesal hampir saja meledak di kafe ini. Padahal pertengkaran kami saja sudah cukup untuk menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Aku mengabaikannya saja dan berlalu pergi.


Sadar aku diikuti oleh Anya dari belakang, aku mempercepat langkahku dan memasuki mobil. Sejujurnya sangat berbahaya mengendarai mobil ketika emosi meluap - luap, tapi aku tak memiliki pilihan lain.


Berhentilah mengikutiku, pengkhianat.


"Alba! Alba, tolong dengarkan aku dulu! Aku tidak bermaksud."


Kalimat yang sama dari sinetron yang ditonton Arsene. Sungguh, mendengarnya saja membuatku sangat muak. Ini kalimat legendaris atau apa?!


Fu*k off!


...****...


Dalam kafe yang sama, pria itu memandangi Anya yang terus mengejar sosok Alba. Dia merasa sedikit kecewa karena setelah hubungan backstreet mereka diketahui Alba, Anya masih berusaha mempertahankan kekasihnya itu.


Tak jauh darinya, Nichol juga melihat semua momen putusnya hubungan kakak pertamanya itu dari awal hingga akhir. Ia menyerahkan ponsel yang sedari tadi ia pegang pada pengunjung wanita di sebelahnya.


"Terima kasih sudah mengizinkanku menggunakannya, nona manis." Ucap Nichol sambil tersenyum lebar.


Wajah pengunjung wanita itu bersemu, "Tidak masalah. Kau bisa meminjamnya kapan pun kau mau!"


"Eh... itu agak berlebihan."


Nichol menyesap kopinya, lalu menutup komputer portabel miliknya. Ia membawanya dan berjalan mendekat pada pria itu sambil menyodorkan sebuah cek.


"Bukankah hal ini yang kau inginkan?" Tanya Nichol, senyumannya semakin melebar.


Pria itu terkejut karena orang asing di depannya ini mendadak menyodorkan cek untuknya. Saat ia lihat, nominal pada cek itu tidak main - main. Sangat mencukupi untuk hidup selama setahun.


"Apa kau serius memberikanku ini?"


"Tentu. Asalkan kau dan kekasih gelapmu itu berhenti mempermainkan hati pria lain demi bisa mendapatkan uang."


Pria itu terlihat jengkel, disindir oleh orang asing ini membuat tekanan darahnya naik. Sudah cukup dirinya menjadi pusat perhatian karena pertengkaran itu dan sekarang malah disindir habis - habisan oleh manusia kaya yang satu ini.


Nichol melenggang pergi meninggalkannya dalam keadaan kesal.


"Kalian ini pengangguran level terendah. Ingin hidup enak dengan gratis, tapi caranya miris."


...****...


"Hoam...!"


Arsene baru saja hendak mengistirahatkan tubuhnya yang terlalu sering digunakan untuk begadang. Namun kedatangan seseorang membuat istirahatnya harus tertunda lagi.


BRUK!


"What the-!"


Arsene menatap kesal Alba yang datang - datang langsung membanting pintu. Padahal pintunya tidak salah apa - apa.


Baru saja dia mau protes keras terhadap perilaku kasar kakaknya yang senantiasa lembut ini. Tapi niatnya sirna dalam sekejap saat melihat penampilan mengerikan Alba yang sudah tak bisa dideskripsikan lagi.


Jadi ini yang akan terjadi jika orang setia terkhianati? Mengerikan, ah.


"Arsene."


"Ya?"


Alba mengernyitkan dahinya.


"Ramalanmu sangat buruk."


Arsene hanya diam saja. Tidak baik menganggu orang yang sedang patah hati. Atau nanti dia akan terkena karma dan takkan pernah mendapat cinta sejati.


Itu bukan ramalan, sebenarnya.


TBC