MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 15 - Pertarungan



"Ya, ini aku."


Tanpa menunggu lebih lama, Arsene menarik pergelangan tangan Aishia dan berjalan menuju wisata pendakian. Hal ini membuat Aishia janggal. Pasalnya, Arsene sendiri selalu berkata segala sesuatu hal yang bersangkutan dengan tidak boleh keluar dari mansion.


Namun sekarang?


Jarak tempat ini dari mansion bahkan lebih jauh daripada supermarket. Apa Arsene melanggar kode etiknya sendiri?


"Kenapa kau bisa keluar dari mansion? Bukankah kau yang mengatakan sendiri kalau ke luar dari gerbang masuk mansion adalah dilarang?" Kedua alis Aishia menyatu.


Arsene melirik tanpa menoleh, "Itu benar."


"Lalu sekarang apa?"


"Aku ini lebih manusiawi daripada yang kalian semua pikirkan. Kei diculik dan aku hanya ngemil sambil nonton tv? Aku tidak separah itu."


Aku ragu. Karena sebelumnya Arsene begitu acuh dengan masalah ini. Dan selalu berkata kalau Kei akan baik - baik saja.


Aishia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Di situasi genting ini, membicarakan persoalan lain bukanlah hal benar. Dan lagi dia harus memperbaiki kesalahan fatalnya atas lalai dalam pekerjaan mengawasi Kei.


Baru saja ingin menyelesaikannya sendirian. Namun sosok Arsene, saudara keempat Shceneider yang paling tenang ini ada bersamanya. Aishia merasa semakin berhutang.


"Harusnya aku sendirian yang menyelesaikan masalah ini." Aishia bergumam, sayangnya Arsene mendengar itu.


"Tidak ada yang salah. Semua karena Kei sendiri yang kabur. Jadi, jangan menyalahkan dirimu."


Entah kenapa, ucapan Arsene malah semakin membuatnya merasa bersalah. Tidak tahu kenapa. Hanya saja, Arsene yang tidak menyalahkan dirinya atas hilangnya Kei membuat Aishia terenyuh. Hampir saja Aishia menangis.


Setelah ini, mungkin aku akan dipecat.


Aishia yang menunduk kini menatap yakin ke posisi dimana seharusnya Kei berada. Mereka ada di pondok kecil yang letaknya tak jauh dari wisata pendakian.


Tidak masalah. Aku harus menyelamatkan Kei dahulu. Urusan aku dipecat atau tidak itu nanti.


Setelah beberapa menit berjalan, dia baru sadar kalau Arsene sejak tadi menggenggam pergelangan tangannya. Wajah Aishia mendadak panas dingin setelah melihatnya.


Sialan, kenapa baru sadar sekarang?


"Um, Arsene."


"Hm?" Arsene menoleh.


"Bisakah kau melepaskan tanganku?" Tanya Aishia setengah gugup.


"Oh, oke."


Dengan ekspresi datar Arsene melepaskan genggamannya. Barusan dia hanya refleks karena dataran ini mempunyai bentuk yang menukik tajam keatas. Dia hanya tidak mau Aishia jatuh atau terpeleset ketika naik.


"Kau baru menyadarinya, huh." Ujar Arsene.


"Mau bagaimana lagi, aku terlalu fokus pada pencarian kita." Aishia beralasan dan melanjutkan perjalanan.


Setelah berjalan menanjak selama dua puluh menitan, akhirnya mereka sampai. Aishia yang memang adalah atlet terlatih tampak baik - baik saja ketika sudah naik keatas. Arsene sendiri meski kelelahan, dia tidak tampak kehilangan napasnya.


"Kupikir kau hanya anak rumahan. Ternyata kau mampu mendaki sejauh ini tanpa kelelahan." Celetuk Aishia.


"Ini tidak sesulit itu."


Aishia kembali acuh, segera dia mencari sebuah pondok yang terletak di dekat sini. Dewi Fortuna memberkati mereka. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada pondok yang hanya digantungi oleh satu lampu pijar yang cahayanya temaram.


"Arsene, lihat di sana."


"Aku melihatnya, ayo ke sana."


Aishia mengangguk.


Meski kakinya sedikit lelah setelah menanjak, tapi Aishia akan menganggapnya sebagai pemanasan sebelum latihan. Baru selangkah, dan Aishia menghentikan langkahnya membuat Arsene bertanya - tanya.


"Pasti mereka punya senjata tajam, kita dalam bahaya jika mereka mempunyainya."


"Soal itu ya..."


Iris Aishia melebar melihat benda yang dibawa Arsene dari dalam pakaiannya. Itu adalah pisau buah dan sayur. Tidak terlalu tajam tapi lumayan daripada tak ada sama sekali.


"Bagaimana kau bisa berpikir untuk membawa benda ini kemari?"


"Tidak tahu, hanya instingku."


Aishia mengernyit.


"Lebih baik lewat belakang saja." Tunjuk Arsene pada belakang pondok yang terdapat celah kecil untuk masuk.


Aishia mengangguk. Mereka kemudian berjalan menuju celah kecil tersebut. Pondok kayu ini terlalu rapuh untuk ditempati. Kei yang terbiasa tinggal di mansion mewah pasti terus meludahi tempat mengerikan ini. Ditendang dengan sedikit tenaga saja pasti sudah roboh.


Bruk!


Dengan tatapan rumit Aishia memandang robohnya dinding kayu yang membuat celah semakin besar. Arsene melewatinya tanpa merasa bersalah. Padahal suara roboh barusan bisa memancing para penculik Kei keluar.


"Bagaimana kalau mereka mendengarnya?" Tanya Aishia sedikit khawatir.


"Itu niatanku."


"Jika mereka mendengarnya, pasti mereka sedang bersiaga di sekitar Kei agar kita tidak dapat menyelematkannya."


"Lalu, apa yang bagus tentang itu?" Aishia menaikkan sebelah alisnya.


Arsene mengedikkan bahunya.


Sungguh, cara berpikir Arsene lebih diluar nalar daripada Kei, Elvan ataupun Rio. Pria ini seolah dapat menerawang apa yang terjadi di masa depan seperti para dukun dan peramal recehan di luar sana.


Dan benar saja, di ruangan yang kosong dan luas. Tampak Kei terbaring dengan menyedihkan dengan kedua tangan dan kaki terikat oleh tali. Kaki seseorang berpijak dengan gagahnya di atas kepalanya.


Seketika Aishia merasa geram. Dia mengepalkan tangan kanannya, bersiap memberikan pukulan. Namun baru saja mau melangkah, sebilah pisau melewati dirinya dengan cepat.


Stab!


"Huh?"


Tatapan Aishia berubah mati.


Ia berharap pisau yang dilempar Arsene mengenai orang yang berani menginjakkan kakinya di kepala Kei. Namun pisau tersebut malah meleset dan tertancap di dinding rapuh dekat sosok menjengkelkan itu.


"Kenapa malah meleset?!" Kesal Aishia.


"Tanganku mendadak pegal." Jawab Arsene sambil memegangi pundaknya yang mungkin tercekik uratnya.


"Oy!"


Rembulan malam menerangi ke dalam pondok. Kini Aishia bisa melihat jelas siapa orang berani tersebut. Kedua bola mata Aishia melebar. Dia adalah salah satu dari orang yang mengancam Alba pada pertemuan pertama mereka.


"Kau..."


Pria gempal itu tersenyum miring.


"Ternyata kau, gadis muda. Meski beladirimu lumayan, tapi aku berhasil melukaimu. Dan saat ini juga..."


Pria itu mengambil pisau buah Arsene yang tertancap di dinding dan memutarnya sambil tersenyum menjengkelkan. Membuat darah Aishia semakin mendidih. Luka di uluh hatinya juga mendadak terasa sakit.


Sekarang dia hanya sendirian, mudah bagiku melumpuhkannya.


Pria itu semakin menekan pijakannya pada kepala Kei.


"Jadi, kau ingin dengan heroiknya menyelamatkan Shceneider lain seperti saat kau melindungi Alba Shceneider, huh?"


"Bəjingan!" Aishia menjadi semakin geram.


"Ledakan."


"Huh?"


Bip! Bip! Bip!


Pisau buah yang dipegang pria gempal itu mendadak berbunyi nyaring dan mulai mengeluarkan asap tebal. Ketika pria itu lengah, Arsene berlari cepat ke arahnya dan memberikannya tendangan di sekitar leher dengan lututnya.


Di saat bersamaan, pisau tersebut meledakkan kepulan asap yang lebih tebal. Ke luar dari kepulan asap tersebut, Arsene menyeret Kei bersamanya.


"Kau tidak perlu menyeretnya, Arsene!" Kesal Aishia.


Arsene menyerahkan Kei pada Aishia. Anehnya, Kei terus menunduk dengan ekspresi kesakitan dan takut. Wajahnya dipenuhi keringat dingin.


"Ada apa dengannya? Apa para preman itu melukainya?"


"Tidak. Tak ada luka fisik di tubuhnya. Tapi mentalnya cukup rusak. Sepertinya mereka mengancamnya dengan sesuatu sampai menimbulkan trauma."


Kejam sekali.


Aishia menggendong Kei di punggungnya. Kei punya berat badan melebihi dirinya, tapi Aishia masih mampu untuk membawanya. Aishia melangkah ke luar pondok segera sebelum asapnya menipis.


Sementara di dalam, Arsene terus berusaha menyerang sang preman tanpa membunuhnya. Tidak mungkin dia melawan kriminal dengan menjadi kriminal pula.


Arsene melirik Aishia yang sedang membawa Kei di punggungnya. Gadis itu dengan bersusah payah ke luar dari pondok sambil mengangkut beban.


Setelah memastikan Aishia ke luar dari pondok ini. Arsene mengambil kembali pisau buah yang sempat meledak barusan. Ia mengintip pada gagang pisau yang berisi semacam peluru. Peluru inilah yang mengeluarkan asap barusan.


Arsene mengulurkan tangannya dan mengarahkan pisau pada preman bertubuh gempal itu. Preman itu terlihat kesal karena berhasil dikelabui dan kehilangan Kei di tangannya.


"Kau bisa keluar dari penjara. Siapa yang membantumu?" Tanya Arsene.


Senyum di wajah preman itu menghilang ketika mereka berdua mencium bau pembakaran. Bukan asap dari pisau milik Arsene. Tetapi, ada pemicu lainnya.


"Pondok ini dibakar...?" Gumam Arsene.


Segera dia melangkah mundur dan berlari keluar lewat celah di mana dia masuk. Sementara preman itu tertahan oleh atap kayu yang jatuh di depannya, itu sudah terbakar. Tidak ada jalan lain untuknya ke luar.


Bahkan ketika matanya dengan liar menengok ke sana ke mari untuk mencari jalan ke luar, hal itu adalah nihil. Semua akses ke luar telah ditutup oleh api. Anehnya, dia tidak menyadari aroma asap sampai ada api yang merambat ke sini.


Matanya membelalak merah, ia geram karena telah terjebak dengan bodohnya dalam skenario penculikan ini.


"SIALAN KAU, SCOUR SHCENEIDER!"


TBC