
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Kei?"
Dan akhirnya, pertanyaan itu dilemparkan juga oleh Elvan. Karena merasa bingung dengan Kei yang mendadak berteriak tidak jelas serta Arsene yang menghilang entah kemana. Alba yang terlihat down juga membuatnya semakin dibuat bingung.
"Aku telah menjadi kakak yang gagal bagi Kei." Bisik Alba di sebelahnya.
Elvan menyatukan keningnya heran. Otaknya yang maunya simpel sama sekali tidak memahami kata - kata dengan multimakna itu.
"Apa sih itu maksudnya?!"
"Kita akan membicarakannya setelah Kei sedikit tenang," Ujar Louis.
Elvan mengangguk meski agak ragu.
...****...
Kini di ruang tamu, Kei dan Louis sedang duduk saling berhadapan. Sementara Alba berada di samping Louis. Rio sendiri memutuskan untuk menjaga Kei apabila hal barusan terulang.
"Jadi, tadi sore hingga tengah malam ini Kei diculik."
"Ap-!"
"Dengarkan aku bicara dulu, El."
Sejujurnya, Elvan kesal karena dirinya tidak diberitahu perihal ini. Ia merasa dibohongi. Sebab ia sibuk menghibur penonton sedangkan Kei malah tertimpa insiden.
Namun, dia dengan seksama mendengarkan penjelasan Louis. Tidak begitu detail, tetapi bagi orang simpel sepertinya, Elvan sudah mendapat garis besarnya.
Matanya menajam begitu cerita Louis selesai.
"Jadi intinya, sekarang Kei menderita PTSD dan Ai-nee koma di rumah sakit, begitu?" Tanya Elvan, dia mengepalkan tangannya erat.
Louis mengangguk, sedang di sisi Alba, dia menunduk dalam. Rasanya dia ingin memukuli orang - orang yang telah dihajar sampai babak belur oleh Arsene karena berani menyentuh Kei.
Elvan juga, meski dia naik pitam. Dia tahu kalau sekarang bukan saat yang tepat untuk itu semua. Alba sedang mental breakdown dan saudaranya yang ada di sini nampak kacau.
"Kalian sudah mengantar Kei ke psikiater. Apa katanya?"
Louis menghindari tatapan mata Elvan. Karena bagaimanapun Elvan adalah sosok yang paling sering memiliki waktu luang untuk Kei.
"Dia bisa pulih, tapi semua itu membutuhkan waktu... hanya saja itu takkan sama lagi."
"Apanya?"
Louis kini menatap lurus Elvan.
"Kei yang kita kenali tidak akan kembali sepenuhnya, mungkin dia akan menjadi sosok yang berbeda."
Bola mata Elvan membulat.
Tuhan, berita besar macam apa yang menimpa dirinya?!
...****...
"Kak...?"
Rio yang sedang berusaha mengirim pesan pada Nichol untuk menanyakan kondisi Aishia teralih perhatiannya. Kei yang kini sudah lebih tenang bertanya dengan suara seraknya, dia terlalu banyak berteriak barusan.
"Ada apa?"
"Apakah Aishia akan kembali ke sini...?"
Rio terkejut. Pertanyaan sakral yang seharusnya takkan Kei tanyakan karena dia tak begitu suka pada Aishia yang ingin menggantikan posisi Paman Mo. Bahkan sorot matanya terlihat pilu saat bertanya.
Rio mengelus kepala adiknya pelan.
"Kakak juga masih menunggu pesan dari Nichol."
Kei mengernyit, "Memangnya dia kenapa? Bukankah Nichol baik - baik saja?"
"Oh..."
Kei melihat pada langit - langit kamarnya. Mendadak semua ingatan mengenai kejadian mengerikan itu kembali lagi. Ketika mereka menculiknya, mengancamnya dan menembak Aishia karena berusaha melindunginya.
Kei menutup kedua matanya dengan lengan kirinya, dia sangat benci suasana melankolis.
"Kenapa Aishia masih mau melindungiku? Apa dia takut kalau gajinya akan dipotong?" Kei bertanya - tanya, bahkan gadis itu sampai rela terkena tembakan di kepala.
"Hm? Tidak ada yang bisa mengukur ketulusan seseorang. Mungkin, dia hanya ingin menjadi sosok Paman Mo yang ideal bagimu."
Rio mengambil buah apel di atas nakas yang masih dibungkus oleh plastik. Ia dengan cekatan mulai memotong apel berbentuk kelinci. Dia tidak sehebat Louis ataupun Nichol yang mampu membuatnya menjadi lebih beragam bentuknya.
"Tapi kenapa?"
Kenapa, adalah pertanyaan yang terus bergulir dalam pikiran Kei. Aishia adalah orang terbodoh menurutnya jika gadis itu menyelamatkannya hanya agar gajinya tetap utuh di awal bulan.
"Mungkin, dia hanya merasa bersalah karena lalai menjagamu." Rio menggumam.
Kei mengangkat lengan yang menutupi kedua matanya dan menatap Rio dengan tatapan tanya. Namun, Rio menggelengkan kepalanya dengan lembut.
Konservasi tanpa konflik, inilah yang sulit dari Kei. Biasanya anak yang punya temperamen buruk ini selalu mengajak ribut kalau diajak berbicara baik - baik. Maka dari itu, Rio tidak mau kehilangan momen ini.
Rio bersyukur dia mempunyai diskusi normal dengan Kei, meski dia pun tahu kalau situasinya sama sekali tidak normal sebab mereka masih dalam kondisi pasca guncangan.
"Di mana dia sekarang?" Kei bertanya berbisik.
"Siapa?"
"Kak Arsene..."
"Kakak tidak tahu, dia mendadak menghilang beberapa menit lalu."
"Begitu..."
Kei kembali memandangi langit kamarnya, tidak ada yang menarik di sana. Hanya saja, ingatan buruknya terus berdatangan. Apalagi ketika Arsene yang datang setelah melihat Aishia tergeletak tak sadarkan diri.
"Jangan lihat, atau kau akan menyesalinya."
Kei tidak melihat apa - apa setelah Arsene datang dan mengatakan kalimat itu. Namun, dia tetap bisa mendengar setiap teriakan pilu yang membuat ia semakin ketakutan.
Sosok Arsene memang akan selamanya menjadi misterius di mata Kei.
...****...
Di lorong rumah sakit, Arsene berjalan melewati kamar - kamar. Padahal dia pulang untuk tidur, tetapi Kei malah berteriak dan membuatnya kedua matanya terbuka lebar. Akhirnya, Arsene memutuskan menjenguk Aishia.
Bau obat menyeruak dalam hidungnya, dia selalu suka dengan rumah sakit. Entahlah, hanya membangkitkan perasaan nostalgia dalam dirinya.
"Ini kamarnya."
Arsene memasuki salah satu kamar dan membuka pintunya perlahan - lahan. Karena ini masih fajar, pastinya yang menjaga Aishia pun sedang tidur lelap.
Benar saja, pemandangan menarik tersaji di hadapan Arsene.
Kepala Nichol yang bersandar di perut Aishia, mungkin pria itu membutuhkan sesuatu yang lembut sebagai bantalnya daripada tangannya.
Dan juga, anehnya tangan Aishia malah berada di atas kepala Nichol. Pasti Nichol yang telah memindahkannya agar dia bisa dengan mudah bersandar di perut Aishia.
"Dasar..."
Dengan perlahan, Arsene menutup kembali pintu kamar. Ia duduk di kursi tunggu yang biasanya ada di dekat pintu kamar pasien. Arsene akhirnya duduk disana dan menunggu mimpinya kembali datang.
Selamat malam.
TBC