
Saat ini, di mansion hanya ada Arsene dan Elvan. Sedangkan Alba dan Nichol sudah ke kantor. Kei sendiri sudah sekolah. Dan Louis, pria itu selalu lembur di toko bukunya sampai tidak pulang pagi ini.
"Kak Arsene."
"Hm?"
Arsene mengambil pizza di atas meja dan memakannya, dalam beberapa detik potongan pizza sudah masuk semua ke dalam mulutnya. Arsene memang terbiasa makan cepat meski dia ini adalah orang yang suka bermalas - malasan.
"Menurutmu, apa alasan Kei memberi Rio bunga?"
"Oh, tentang yang tadi pagi?"
Elvan mengangguk.
"Apa kau tahu makna dari hortensia biru?"
Arsene yang malah balik bertanya membuat Elvan sedikit kesal. Namun, mendadak dia ingat lagi pelajaran bahasa bunga ketika di sekolah dasar.
"Bukankah itu artinya permintaan maaf, hati yang dingin dan penyesalan?"
"Yup."
Dalam sedetik, Elvan tampaknya menyadari sesuatu. Ia memperbaiki posisi duduknya dan kini badannya menghadap Arsene yang matanya tak lepas dari layar televisi.
"Jangan - jangan, ini seperti yang kupikirkan? Kei meminta maaf pada Rio?!"
"Buka-"
"Bukan, tapi pada Aishia."
Ada suara lain yang ikut percakapan mereka. Rupanya itu Rio, dia sudah kembali setelah pergi entah kemana pagi ini. Hanya dia dan Kei yang tahu, mungkin juga Arsene.
"Hah?! Serius?"
Rio mengangguk mengiyakan.
Wajah Elvan terlihat semakin rumit. Kei, yang gengsinya sebesar gajah dan setinggi menara eiffel mau meminta maaf pada Aishia, meskipun harus bunga yang berbicara untuknya. Itu juga kalau Aishia paham maksud bunga pemberiannya.
"Dari sejak pagi dia sudah aneh. Kei kesambet apa tadi malam?" Tanya Elvan dengan nada khawatir.
Maksudnya, ini adalah sebuah fenomena alam.
Arsene yang merasa terpanggil sama sekali tidak merespon. Tentu saja ini ulahnya karena berinisiatif lebih dulu memberi Aishia hortensia biru. Sebab apa yang Kei lakukan dahulu pasti membuatnya menyesal. Arsene ingin perasaan Kei membaik setelah ini.
Sementara Rio yang juga tidak tahu hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan bingung. Bahkan saat Aishia koma, anak itu tak pernah datang mengunjunginya. Dan sekarang dia ingin meminta maaf. Yah, ini terasa sangat mendadak.
"Selama dia memulihkan diri dari traumanya, dia sudah memikirkan banyak hal."
Rio dan Elvan menatap Arsene secara bersamaan. Lalu berpikir bahwa apa yang dikatakan Arsene ada benarnya juga. Kei telah didewasakan oleh keadaan gila tempo hari. Mungkin dia sedikit sadar atas semua perlakuannya.
"Bagaimana dengan semua penjaga sebelum Aishia?"
"Kupikir dia sudah melupakan yang 47 itu." Rio tersenyum kaku.
"Ah, benar juga." Elvan mengangguk - angguk.
"Jika Kei meminta maaf, apa itu artinya dia ingin hubungan mereka kembali seperti di awal? Di mana Aishia pertama kali menginjakkan kakinya di mansion." Rio bertanya - tanya.
Orang seperti Kei akan sangat susah diajak berdamai dengan diri sendiri apalagi keadaan. Apabila Kei tidak menginginkan semuanya kembali seperti semula, itu kedengarannya agak mustahil.
"Tapi, Aishia mengatakan padaku kalau Kei tidak perlu khawatir akan lukanya. Dia akan pulih seiring waktu."
"Yah, itu semua membutuhkan waktu."
Suasana berubah sunyi.
Itu benar. Semuanya membutuhkan waktu. Memulihkan luka dan hubungan yang telah retak.
Sejak awal Aishia tidak pernah mempermasalahkan sikap Kei kepadanya yang sangat kasar. Dan Kei sendiri tidak perduli kalau tindakannya itu menyakiti Aishia. Tapi sekarang keadaannya telah berubah, dan Kei menginginkan Aishia mengetahui bahwa ia menyesal.
Rio enggan berkomentar apa pun. Ketepatan Arsene dalam berbicara selalu menyakitkan. Padahal yang mulutnya paling pedas di rumah ini adalah Nichol. Mungkin karena jarak lahir mereka berdekatan makanya Arsene bisa tertular.
"Jika Kei mendengarnya, dia akan kehilangan rasa optimis."
...****...
"Kak Al, apa yang kau pikirkan?"
Nichol penasaran karena dari tadi kakaknya hanya diam termenung dan belum menyentuh makan siangnya. Padahal waktu istirahat sebentar lagi habis. Menjadi bos memang menyenangkan, waktunya begitu fleksibel di kantor.
"Pagi ini, Kei memberi bunga pada Rio."
"Oh, itu. Kenapa memangnya?"
"Itu hortensia biru." Tatapan Alba sedikit menajam.
"Dan...?"
"Dan apa kau lupa makna bunga itu?"
"Tidak sama sekali. Aku ingat betul. Soalnya aku suka bunga, makanya aku mati - matian memahami makna dan bahasa mereka." Ujar Nichol.
Sejak tadi pagi, Nichol juga sudah sadar dan tahu persis tindakan Kei selama di taman. Baginya, Kei terlihat seperti sedang meminta maaf kepada Rio. Tetapi letak masalahnya adalah, karena apa?
"Ini mengejutkan karena Kei punya gengsi tinggi."
"Yah, kau pun menyadarinya."
"Mungkin kita bisa tanya Rio langsung tentang itu. Alasan Kei meminta maaf padanya." Usul Nichol.
Alba hanya mengangguk.
Semua ini semakin membingungkan. Ditambah Arsene tidak mengatakan apa pun kepadanya atas tindakan aneh Kei. Seakan Arsene sudah memprediksi ini sebelumnya.
Dari awal kedatangannya di mansion. Alba merasa semua hal yang dilakukan Arsene terlalu misterius dan menimbulkan banyak pertanyaan. Hanya saja, saudara - saudaranya tidak pernah mempermasalahkan dan menganggap semua itu normal.
Selama ini juga, dia hanya berdiskusi dengan Louis tentang Arsene. Mungkin, Louis juga berpikiran sama sepertinya. Jikalau Arsene menjadi semakin tidak tertebak dari hari ke hari.
Serta mata kanannya yang membuatnya janggal.
Aku seperti berada dalam cerita yang skenarionya telah dia buat.
"Kak Al, ayo kembali. Pekerjaan kita tidak sesedikit itu." Ucap Nichol membuyarkan lamunan Alba.
"Oke."
Tindakan Kei pagi ini, pasti ada campur tangannya.
...****...
Di lingkungan sekolah, Kei memakan bekalnya sendirian di bangku taman. Bekal ini spesial buatan Arsene untuknya. Beruntung kemampuan Arsene berkembang dan tidak hanya berhenti di berbagai macam pasta. Sekarang dia sudah bisa membuat isi bekal lebih bervariasi.
Kei mengunyah telur gulungnya. Dia benar - benar kepikiran dengan jawaban Aishia atas pemberiannya. Kei takut jika ini semua berjalan tidak sesuai harapannya. Padahal Arsene sudah memberikan ide yang cukup bagus.
Namun di tengah lamunannya, Kei menyadari sesuatu. Benar, ini tentang pengetahuan Aishia mengenai bunga. Gadis itu sudah lulus dari sekolah dasar sejak lama. Mungkin saja ingatan Aishia sudah remang - remang mengenai pelajaran makna dan bahasa bunga.
"Kenapa aku tidak kepikiran ini? Apa Kak Arsene salah perhitungan? Tapi, jika Kak Arsene mengatakan begitu pasti Aishia tahu... kan?"
Mendadak Kei menjadi dilema lagi. Padahal dia sudah berkali - kali meyakinkan dirinya kalau Aishia akan paham maksudnya. Karena Arsene sendiri yang mencetuskan ide ini, maka Aishia pasti akan paham. Dan persentase keberhasilannya lumayan tinggi.
"Perhitungan Kak Arsene takkan salah!"
Kei menyumpit nasinya dan menempelkan dori dengan asal di sana lalu menyuapnya dalam gigitan besar. Tak lupa juga ia memasukkan sosis goreng ke dalam mulutnya. Memang bekalnya sederhana, tapi yang penting jangan pasta lagi.
Saat mendengar bel masuk berbunyi, Kei segera menutup kotak bekal dan berjalan kembali ke kelasnya.
Ketika ia berjalan, murid - murid disana agak keheranan karena Kei yang mendadak berubah menjadi pendiam setelah mendapat hukuman dari konseling. Temperamennya yang buruk nampaknya juga sedikit membaik.
Yang ada, malahan Kei menjadi cuek dan tidak perduli pada keadaan sekitar. Anak ini pasti sudah bertapa di kamar selama 12 hari tanpa jeda hingga bisa mencapai tahap mustahil ini.
Sedangkan jauh memperhatikan Kei, Arya memandangnya dengan rasa benci. Rupanya dia baik - baik saja setelah semua yang ia lakukan. Bahkan Kei masih bisa berdiri tegak padahal berita kalau dia kena skorsing sudah menyebar ke seantero sekolah.
"Awas saja kau Kei. Aku akan menggali tentang keluargamu lebih dalam. Sampai kau merasa malu dan keluar dari sekolah ini!"
TBC