
"Aku minta maaf untuk yang tadi!"
Aishia hanya memandang Alba yang sedang menunduk dalam kepadanya. Seperti yang Aishia pikirkan. Ada penyebab lain kenapa Alba mendadak bertingkah seperti barusan meski ia terlihat seperti pria baik yang tidak menggoda lawan jenisnya.
"Um... tidak masalah. Alba pasti punya alasan sendiri kenapa berkelakuan begitu 'kan?" Kata Aishia.
Lagipula, perkara suap menyuap ini bukanlah masalah besar baginya. Aishia pernah membaca berita yang lebih parah tentang seorang playboy yang melakukan threesome dengan paksa.
Alba mendengus pelan.
"Aku melihat mantan pacarku berjalan dengan selingkuhannya. Mereka bahkan tidak malu pamer kemesraan di khalayak ramai. Karena aku kesal, aku akhirnya berbuat begitu."
Intinya Alba cemburu, bukan? Dia masih mencintai mantannya. Tetapi, dia masih punya logika untuk meninggalkan wanita yang telah bermain di belakangnya.
Aishia mengangguk paham.
Sejujurnya, dia pernah berada di posisi Alba juga. Di mana orang yang dia sukai malah mencintai orang lain. Lebih parahnya, Aishia harus menerima kenyataan jika pria itu akan menikahinya. Sampai saat ini, Aishia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada pria itu lagi.
"Alba tidak perlu khawatir. Nanti juga akan terbiasa hidup tanpanya. Tidak mungkin bagi seseorang mempertahankan hubungan rusak terus berlanjut." Ucap Aishia dengan tenang.
Alba beranjak bangkit dari bangku taman. Dia sudah terlalu lama mengambil istirahat. Alba menoleh pada Aishia yang masih berkemas untuk pulang ke mansion.
"Aishia."
"Hm?"
"Kalau dipikir - pikir, ada banyak pertanyaan yang belum kau jawab. Aku juga belum menanyakan hal itu kepadamu." Ujar Alba.
"Ya? Apa yang ingin Alba tanyakan?"
"Kau tinggal di mana sebelumnya?"
"Aku tinggal di dojo. Dan sebelum itu, aku tinggal di luar kota. Di tempatku, kami tidak memakai banyak alat modern. Makanya saat pertama kali aku ke mari, aku cukup kaget. Tapi aku sudah pindah ke sini sekitar tiga tahun lalu, jadi aku sudah terbiasa." Jelas Aishia.
"Oh ya? Jadi, apa alasan utamamu pindah ke sini? Harusnya ini bersifat pribadi, tapi aku harus mengulik sedalam mungkin latar belakang pekerjaku."
Aishia terdiam cukup lama. Alasannya datang ke sini memang bukan tanpa alasan. Dia datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan yang punya gaji besar demi menghidupi orang tuanya. Dan itu adalah alasannya yang dulu.
"Tidak ada alasan khusus. Aku ke sini karena ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dengan upah yang layak pula. Ini semua demi hidupku. Aku bekerja untuk hari esok." Jawab Aishia, kali ini suaranya lebih pelan.
"Aku mengerti."
Setelah mengatakannya, Alba melangkah pergi untuk kembali ke kantor. Melihat Aishia yang murung, membuatnya berpikir lebih untuk mewawancarai gadis itu lebih dalam. Ia tidak setega Nichol untuk memaksanya terus bicara.
Masih ada lain hari.
...****...
"Aku pulang-"
Aishia terhenti untuk melanjutkan ucapannya. Gadis itu lupa kalau sekarang dia berada di tempat orang lain dan berada di sini karena pekerjaan. Rasanya aneh baginya mengatakan kalimat tersebut sementara di rumah tidak ada yang membalasnya.
Ah, aku rindu rumah.
"Selamat datang kembali."
Aishia tersentak saat mendengar seseorang membalasnya. Dia melongok ke arah sofa ruang tamu di mana ada Arsene yang sedang memakan camilan pagi hanya seorang diri.
Tanpa sadar Aishia tersenyum simpul.
"Dimana Rio dan Nichol?" Aishia bertanya basa - basi. Ia tahu jika Arsene bukan tipe yang memulai percakapan lebih dulu.
"Rio di toko buku Louis. Nichol ke kantor." Jawabnya sesingkat mungkin.
"Kantor? Nichol?" Aishia tampak bingung.
"Dia sekretaris Alba." Arsene menjawab tanpa mengalihkan fokusnya pada mangkuk besar berisi salad buah dengan yogurt dan susu.
Eh?! Tidak bisa dipercaya. Orang seperti Nichol bekerja sebagai seorang sekretaris.
"Bagaimana dengan Elvan?"
"Hari ini jadwalnya perform."
He, jadi Arsene selalu sendiri di rumah besar ini tanpa merasa kesepian.
Aishia berjalan sambil menenteng kantung belanja pesanan Arsene. Gadis itu langsung melangkah menuju dapur. Tak lupa untuknya membersihkan kotak bekalnya.
"Apa Kei tidak mau?"
Aishia yang terkejut hampir menendang Arsene yang berdiri tepat di belakangnya. Mereka nyaris tidak memiliki jarak karena Arsene terlalu dekat dengannya.
"Oh, um. Yah, dia sangat benci padaku. Paman Mo tetaplah nomor satu di hatinya dan tak ada yang bisa menggantikannya." Ucap Aishia tanpa menengok ke belakangnya. Alasannya adalah karena gugup, sebab Arsene belum beranjak menjauh darinya.
Arsene mendengus samar, "Ini salahku juga."
"Tidak apa - apa."
...****...
"Sudah jam tiga, sebentar lagi Kei akan pulang."
Aishia melihat jam di tangannya sambil bersandar pada badan mobil. Sekarang ia sedang berada di parkiran, menunggu kelas Kei selesai. Aishia tidak mau di hari pertamanya, dia malah membuat Kei menunggu.
Letak masalah terbesarnya sendiri adalah Kei yang enggan menerima kedatangan orang baru yang posisinya menggantikan orang paling disayanginya, Paman Mo.
Namun Alba melakukan ini bukan tanpa alasan.
Kei sering sekali membuat masalah yang menyebabkan murid lain terluka dan berakhir masuk rumah sakit. Tentu saja itu pelanggaran keras, bahkan Kei pernah melakukannya sebanyak dua kali.
Tapi balik lagi. Yang memiliki uang dialah yang berkuasa. Makanya sampai saat ini, pihak sekolah tidak ada yang berani mengeluarkannya sebar - bar apa pun Kei.
Sekarang Kei sedang dalam masa pengawasan. Di mana selama sebulan ke depan dia dilarang melakukan pelanggaran apapun. Jika dilanggar, mungkin kali ini sekolah akan bertindak lebih keras karena kelakuan Kei akan mengancam murid lainnya.
Tindakan pihak sekolah juga atas permintaan Alba sendiri yang tidak ingin keberadaan Kei diistimewakan.
"Oh? Kei!"
Aishia setengah melambai saat melihat sosok Kei yang berjalan menuju gerbang membuat beberapa murid memperhatikannya. Ketika Kei menemukan Aishia, dia tampak berekspresi jelek dan menghampiri Aishia dengan enggan.
"Berhenti berteriak, kau kekanakan. Jangan membuatku malu."
Kei berjalan melewati Aishia dan langsung masuk kedalam mobil.
Aishia hanya tersenyum kecil mendengarnya.
...****...
Di mansion. Kei berdiri bersidekap sambil memandang Aishia. Tinggi mereka tidak berbeda jauh meski Kei menang tipis lima centi.
"Dengarkan aku! Ada beberapa hal yang harus kau perhatikan." Kei menelisik tajam.
"Ya?"
"Dengarkan aku!"
Aishia mengangguk.
"Pertama, jangan bersikap seolah kita kenal di luar mansion. Aku tak mau merasa malu seperti barusan. Jangan lakukan meski dengan suara kecil sekali pun, paham!"
"Paham."
"Dan untuk peraturan lainnya, aku akan pikirkan dan memberitahumu lain waktu saja." Ucap Kei masih dengan nada ketus.
Masih menggendong tas di punggungnya, Kei masuk ke dalam mansion lebih dulu. Sedangkan Aishia mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.
Seperti yang bisa ditebak, hanya ada Arsene di mansion. Pria itu dengan santainya menonton televisi sambil memakan keripik kentang. Tidak peduli pada kedatangan adik bungsunya.
Aishia juga dengan santai duduk tak jauh dari tempat Arsene berbaring. Arsene melirik Aishia yang pandangannya terfokus pada layar tipis televisi.
"Apa Kei berulah?"
Aishia menggeleng.
"Dia hanya benci padaku."
"Nah, dia benci pada semua orang. Saat aku menjemputnya di sekolah, dia sewot kepadaku tanpa alasan. Dasar remaja."
Tak ada percakapan lain di antara mereka setelahnya, sampai pintu mansion kembali terbuka dan memperlihatkan Rio bersama seorang lainnya yang belum Aishia lihat di mansion ini.
Refleks perhatian Aishia dan Arsene tertuju pada Rio dan pria itu. Dia tampak sedikit lebih dewasa dari Rio dan Arsene.
Saat Aishia mampu melihat sosoknya lebih jelas, pandangannya melebar. Aishia mendadak diam membeku.
Sementara di sisi pria itu, dia juga mempunyai reaksi yang sama dengan Aishia. Yang akhirnya membuat ruang menonton nampak sunyi sekali.
Hanya Arsene yang menyadarinya karena Rio yang langsung memperkenalkan Aishia dan pria itu pada mereka masing - masing dengan wajah ramahnya.
"Aishia, perkenalkan ini kakak kedua kami, Kak Louis. Dan Kak Louis, dia Aishia, penjaga Kei yang baru."
Aishia langsung berdiri dan setengah membungkuk pada Louis. Louis yang tersadar akhirnya membalas sapaan Aishia.
"Kak Louis, kau bilang masih ada urusan. Tidak mau kembali ke toko buku lagi?" Tanya Rio.
"O-oh iya! Aku harus mengambil kunci gudang."
Louis bergegas menaiki tangga menuju kamarnya disusul oleh Rio. Aishia hanya bisa menghela napas pelan, seakan kejadian barusan cukup berefek pada suasana hatinya. Arsene sendiri menatap semua kejadian itu tanpa mengucap sepatah kata pun.
TBC