MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 16 - Bantuan



Ke luar dari dalam pondok, Aishia terkejut karena ternyata dia sudah dikepung oleh kawanan preman barusan. Dan sesuai ingatan Aishia, mereka bukanlah anak buah preman gempal itu.


Siapa mereka?


"Jangan berani - beraninya kau menyentuh Tuan Kei." Ujar salah satu dari mereka.


Aishia mendelik, "Justru kalian lah yang tidak boleh menyentuhnya!"


Langkah Aishia terhenti ketika dirinya mencium aroma bakar - bakaran di dekat sini. Ia menoleh pada pondok yang mengeluarkan asap hitam nan lebat.


"Arsene!"


Bugh!


Seseorang menendang lutut Aishia sengan keras hingga menyebabkan lebam kebiruan. Aishia tak kuasa terus menopang dirinya untuk berdiri. Kini ia hanya bisa berlutut sambil meringis. Aishia yang tak ingin Kei terluka, menurunkannya dari punggungnya.


Aishia berusaha berdiri, ia merentangkan tangan kananya di depan Kei. Dia harus bertarung melawan mereka sambil melindungi Kei di belakangnya.


Satu persatu dari mereka menyerang Aishia. Gadis itu menghindar dan membalas pukulan serta tendangan mereka. Tatapan Aishia meliar, terus melirik pada mereka dan juga Kei.


Karena fokusnya yang terbagi, tak jarang Aishia mendapatkan pukulan telak di beberapa bagian tubuhnya. Ia berusaha untuk tidak tumbang, atau semua latihannya saat di dojo akan sia - sia.


Tak peduli mereka pasukan terlatih atau bukan. Yang Aishia perlu lakukan adalah melindungi Kei saat ini. Dia khawatir kala Arsene mengatakan kalau Kei mengalami trauma berat.


Bugh!


Tubuh Aishia terlempar dengan kerasnya ke batang pohon. Menggores punggungnya secara memanjang pada batang pohon yang kasar. Ia meringis menahan rasa sakit.


Kei yang sedikit tersadar, terkejut dengan luka penuh darah di punggung Aishia. Meski memiliki luka mengerikan semacam itu, Aishia tak gentar terus menyerang belasan pria misterius berkemeja hitam.


Sesekali Aishia melirik pondok yang telah terbakar setengahnya. Berharap Arsene ke luar dari sana dalam keadaan selamat. Aishia sampai tak sadar akan kehadiran seseorang di belakang dirinya.


Bola mata Kei membulat sempurna.


"Bodoh! Di belakangmu!"


Sontak Aishia menengok ke belakangnya di mana pandangannya bertemu dengan sebuah benda hitam yang langsung menempel di kepalanya. Orang itu menarik pelatuk, hingga di detik berikutnya, Aishia tak bisa mengingat apa - apa lagi.


Dor!


"AISHIA!"


Siapa yang memanggil namaku? Kei? Itu yang pertama untuknya.


...****...


Terdengar suara sirine ambulans yang sangat kencang memenuhi jalan raya besar. Di depan dan belakang ambulans terdapat empat mobil polisi. Tepat di belakang ambulans, mobil van hitam mengekor.


"Aku tak menyangka Arsene ada di sana dan datang sebelum kita." Gumam Alba.


Ketika mereka berempat datang ke lokasi. Mereka menemukan sosok Arsene yang menginjak tubuh lemas pria berbaju hitam. Beberapa pria lainnya juga ditemukan tergeletak lemas di sekitar.


Sedangkan Kei malah terduduk di dekat pohon sambil memeluk kedua lututnya erat. Matanya tidak lepas dari Aishia yang terbujur kaku dengan lubang di dahinya.


Tentu Alba, Louis dan Rio bersigap menyelamatkan Kei serta Aishia. Sedangkan Nichol menghampiri Arsene yang sepertinya baru saja baku hantam dengan para penculik.


Belum lagi pemandangan mengerikan dari pondok yang telah terbakar sepenuhnya. Mungkin pemandangan tersebut takkan pernah terlupakan bagi mereka.


Louis bukannya asal menebak. Dia tahu bahwa Arsene bukanlah orang sembarang yang akan melakukan sesuatu di luar kendalinya seperti Nichol, Elvan maupun Kei.


Dan lagi, Louis juga sadar kalau Arsene selalu menekan dirinya sendiri ketika melakukan sesuatu. Membatasi diri hanya agar sosoknya yang asli tidak diketahui.


Nichol mengabaikan percakapan antara Alba dan Louis. Ia lebih fokus pada Kei yang berada di jok belakang bersama Rio. Anak itu terus menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar.


Nichol mengernyitkan dahinya.


Ini tidak benar.


Di mobil ambulans. Arsene rupanya menemani Aishia dan juga seorang perawat yang tengah melakukan pertolongan pertama. Sejak selesai membereskan gerombolan penculik itu, Arsene merasa mata kanannya berdenyut kencang.


Saking menyakitkannya, dia tidak bisa melihat apapun selain warna merah pada setiap visual. Saat Arsene menatap Aishia pun sama saja, tak ada perubahan berarti.


Tapi meskipun terasa sakit, Arsene mengabaikannya. Fokusnya tertuju pada Aishia yang terbaring menyedihkan dengan luka tembak tepat di keningnya.


"Apa dia bisa selamat?" Tanya Arsene pada sang perawat.


Perawat tersebut dengan tenang menjawabnya.


"Semua itu tergantung kehendak Yang Maha Kuasa. Tapi, kami para medis juga akan berusaha semampu kami untuk menyelematkan pasien."


Arsene mengumpat dalam hati. Tentu akan seperti ini jawabannya apabila dia bertanya pada pihak medis.


Mereka akan menjawab dengan wajah tenang bahwa mereka sudah berusaha maksimal walau hasil sudah di depan mata, mereka gagal menyelamatkan nyawa pasien.


Dalam hati Arsene berharap jika mereka segera sampai ke rumah sakit terdekat. Selain kondisi kritis Aishia, ada satu hal lain yang perlu Arsene perhatikan juga.


Ialah kondisi mental Kei.


...****...


Setelah sampai di rumah sakit, Aishia segera dibawa menuju UGD. Para perawat dan dokter memasuki ruangan sementara Shceneider bersaudara menunggu di luar.


"Di mana Alba, Louis dan Kei?" Tanya Arsene pada ketiga saudaranya.


"Mereka membawa Kei ke psikiater." Jawab Rio.


Arsene mengangguk. Syukurlan kalau begitu. Keadaan barusan sangatlah gawat, entah Aishia yang tertembak ataupun mental Kei yang terguncang. Entah apa yang dilakukan para penculik itu sampai membuat Kei trauma.


"Sebenarnya aku juga ingin mengantarkan Kei ke sana. Tapi aku ingat kalau hanya kalian berdua yang akan menunggu Aishia nanti. Jadi, kuputuskan saja ikut Nichol." Rio menghela napasnya.


Elvan akan pulang dari syuting nya malam ini. Jika kepulangannya tidak ditunda, Elvan akan tahu yang sebenarnya. Sebagai kakak yang paling memanjakan Kei, dia pasti takkan melakukan apa pun hingga kondisi Kei membaik.


"Aku bertaruh Elvan akan mogok kerja jika tahu insiden besar ini." Nichol bersiul tak jelas.


"Tentu saja! Orang sinting mana yang tetap beraktivitas seperti biasa di saat keluarganya terkena musibah?" Rio mendelik kesal pada Nichol yang seolah tidak memiliki empati.


Tanpa sadar Nichol melirik Arsene yang masih berdiri di depan pintu UGD. Namun yang ditatap malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Nichol menghembuskan napasnya kasar.


"Benar - benar, deh."


TBC