MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 29 - Summertime



"Karena ini sudah akhir musim semi, panas matahari terasa sangat menyengat." Ujar Hana.


Mata Hana menyipit saat melihat ke arah langit di mana matahari nampak begitu terik. Sinarnya bahkan mampu mengalahkan pohon yang rindang di akhir musim semi.


"Waktu yang bagus untuk berlibur!"


"Kau benar." Sahut Aishia.


Gadis itu sudah dalam tahap terakhir di masa pemulihannya. Ini benar - benar sebuah keajaiban karena Aishia dapat selamat dan pulih seperti semula setelah mendapat luka tembak di bagian kepala, yang mana itu menjadi titik vital jika terluka.


Saat ini Aishia sudah bisa berjalan meski masih sangat pelan. Karena itu ia tidak banyak berdiri dan sebagian besar waktunya hanya dihabiskan dengan duduk di depan televisi. Seperti rutinitas seseorang.


Sudah hampir dua bulan sejak insiden besar yang menimpa Aishia dan Shceneider bersaudara. Sudah hampir dua bulan juga Aishia ke luar dari pekerjaannya sebagai penjaga Kei. Aishia mulai merindukan suasana Mansion Shceneider.


Aku penasaran dengan Kei yang sekarang. Kata Arsene dia mengalami sedikit perubahan.


Meski tidak bekerja di Mansion Shceneider lagi, komunikasi antara Aishia dan Arsene tetap terjalin hingga detik ini. Mereka saling bertukar kabar tentang keadaan mansion.


"Aishia, mau jalan - jalan?"


"Boleh. Ke mana?"


"Pantai."


Aishia melengos. Di pantai ada terlalu banyak orang. Dan juga dia masih belum terlalu lancar berjalan. Jika Hana nekat membawanya ke sana, Aishia pasti hanya akan duduk di kafe pinggir pantai sambil memandangi Hana yang main air.


"Apa kau tidak mau, Aishia?"


Aishia menggeleng. Terlalu berbahaya untuknya yang masih berada di masa pemulihan kalau pergi ke sana. Lebih baik baginya jika pergi ke ladang atau taman untuk menyejukkan pikiran.


"Lalu, apa yang mau kau lakukan?"


"Membantumu di toko bunga. Aku suka melihat bunga - bunga yang kau tanam, itu sangat cantik."


Hana termenung. Akhir - akhir ini dia jarang membuka toko bunga miliknya karena sibuk mengurus Aishia. Dia memang membukanya setiap hari, tetapi hanya dari pagi sampai siangĀ  saja.


"Oke." Hana mengangguk.


...****...


"Huwa, aku sangat merindukan wangi bunga - bungaku."


"Ayolah, kemarin kau ke sini, ingat?"


"Hehe..."


Ketika Hana membuka pintu tokonya, bel beringing. Harum semerbak dari berbagai macam bunga menyapa penciuman. Hana membalikkan tanda di depan pintu menjadi 'Buka'.


"Apa setiap hari selalu ramai?"


"Tidak begitu ramai, tapi di setiap harinya selalu ada pembeli. Jadi, aku sangat bersyukur." Ujar Hana.


Sudah dikatakan kalau toko bunganya lumayan terkenal. Bahkan namanya sudah dikenal di luar kota oleh para pecinta bunga. Hanya saja, pembeli favoritnya tetaplah Louis.


Bicara tentang Louis, harapan Hana terhadapnya menjadi semakin kecil sejak ia tahu identitas Louis yang sebenarnya. Ia hanya berkaca pada realita, orang sepertinya sangat sulit jika ingin bersanding dengan Louis.


Tapi jika itu Aishia, nampaknya Alba, Rio, Kei dan Arsene sudah begitu akrab dengan Aishia. Terutama yang namanya Arsene itu. Meski Hana belum pernah melihatnya secara langsung, tapi Hana tahu bahwa Aishia cukup sering berkomunikasi dengan Arsene.


Yang Hana ketahui hanyalah fakta jika Arsene adalah salah satu dari enam adik Alba selain Rio, Louis dan Kei.


Hana berjalan mendekati sebuah buket yang disimpan dengan baik olehnya selama seminggu ini. Rangkaian tulip dan myrtle. Sekali lihat, orang - orang akan langsung tahu jika ini adalah buket yang digunakan oleh para pengantin wanita di hari pernikahannya.


Sebagai pertanda kesucian.


Aishia jadi bertanya - tanya.


"Apakah seseorang memesannya?"


Hana tersenyum tipis.


"Bukan. Aku membuatnya sebagai bentuk penghormatanku."


"Pada siapa?"


"Pada pengantin yang tak bisa membawanya ke altar pernikahan." Ujar Hana dengan suara sangat pelan.


Aishia terdiam. Dia tahu maksud Hana. Itu artinya pengantin yang pernah memesan buket tersebut gagal menikah.


Tapi, kenapa Hana menyebutnya sebagai buket penghormatan?


Tak ingin mengorek lebih dalam, sebab mungkin saja itu akan melukai Hana jika diingat kembali. Aishia akhirnya meninggalkan topik itu. Dengan langkah perlahan, Aishia menghampiri Hana.


Ia melihat bahwa Hana menyimpan buket itu di tempat semula yaitu di samping pintu masuk. Supaya semua orang bisa melihat keindahannya.


"Apa kau butuh bantuan?"


"Tidak juga. Soalnya tidak ada pesanan buket yang sedang kukerjakan."


Aishia mengangguk.


Bel toko berbunyi saat seseorang memasukinya. Seorang pria dengan pakaian yang begitu rapi datang. Dia mengenakan kemeja biru tua yang dibalut jas hitam.


Tapi yang menjadi perhatian Aishia adalah pergelangan tangan pria itu tampak dibalut dengan perban putih. Bukan hanya di pergelengan tangannya saja, lehernya pun tak luput dari gulungan perban.


"Aku ingin memberikan buket bunga pada kekasihku karena ini hari anniversary kami. Menurutmu, bunga apa yang cocok?"


"Bagaimana ciri - ciri pacar anda, kalau saya boleh tahu?"


Dia tampak tertegun. Kemudian menarik sudut bibirnya ke atas.


"Bagiku, dia adalah matahari yang takkan pernah tergantikan."


Aishia semakin tak bisa berkata - kata.


Hana juga dalam posisi tak berbeda jauh dari Aishia. Ia kagum atas cinta yang besar dan tulus dari pria ini yang tertuju pada kekasihnya. Dalam hatinya, Hana merasa iri karena gadis itu dicintai sedemikian rupa oleh kekasihnya.


"Bagaimana dengan bunga daisy?"


Hana memperlihatkan deretan bunga kecil berwarna putih yang diikatnya menjadi buket. Pria itu tertegun melihat kecantikan daisy yang begitu murni.


"Kesetiaan cinta yang akan selalu menyertai kekasihmu." Ujar Hana.


Pria itu mengambil buket bunga daisy dari tangan Hana, kemudian dia mengangguk pelan.


"Aku akan mengambil yang ini."


"Sebentar, aku akan menatanya ulang."


Hana mengambil kembali buket tersebut dan tampak berjalan ke dalam ruang lain di toko ini. Meninggalkan Aishia dan pria itu dalam kesunyian.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Aishia memandang pria itu heran.


"Benarkah? Aku tidak tahu itu."


Pria itu tersenyum miris.


"Tapi aku tahu, bahwa kau adalah gadis yang duduk bersamanya. Kalian memakan pancake bersama dari garpu yang sama."


Bersamanya?


"Alba Shceneider." Ucapnya optimis.


Aishia ingat lagi tentang hari itu. Hari di mana Alba mendadak menjadi aneh karena dia melihat mantannya yang berjalan mesra dengan selingkuhannya.


Apa jangan - jangan dia ini...


"Itu benar. Aku adalah orang yang kalian kira sebagai selingkuhan Anya."


Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri. Apa dia bangga menjadi orang ketiga?


"Kau ingin bertemu dengan Anya?"


"Untuk apa? Aku tidak memiliki urusan apa pun dengannya."


"Tapi kau sedang dekat dengan Alba, bukan?"


Aishia menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Kau salah paham. Saat itu aku bersama dengan Alba karena kami kebetulan bertemu. Dan lagi, aku bekerja di bawah perintahnya. Aku bukan kekasih baru Alba atau sejenisnya." Jelas Aishia.


"Hm..."


Pria itu menjulurkan tangannya, seperti pose jabat tangan. Dengan ragu Aishia membalas jabatan tangannya.


"Namaku Zero, aku adalah seorang dokter spesialis jiwa atau yang sering disebut psikiater."


"Aishia."


Merasa aneh dengan Zero yang mendadak mengajaknya berkenalan membuat Aishia berpikir yang tidak - tidak tentangnya. Satu fakta lagi didapatkan olehnya, Zero adalah seorang psikiater.


"Di mana Anya sekarang?" Tanya Aishia sedikit berani.


Sejujurnya ini sama saja Aishia dengan sembrono ikut campur kehidupan orang lain. Tetapi, Aishia sedikit penasaran dengan hubungan Anya dan Zero saat ini. Tatapan Zero yang terkesan menyedihkan tidak bisa Aishia sebut sebagai tatapan cinta.


"Dia ada di tempatku bekerja." Jawab Zero dengan santai.


Aishia mengernyitkan keningnya.


"Kenapa dia ada di rumah sakit jiwa?"


Senyum Zero semakin tipis.


Inilah yang Aishia bingungkan, hubungan antara mantan Alba dan selingkuhannya ini tidak sesederhana yang Aishia pikirkan. Mereka tidak tampak seperti pasangan yang berbahagia.


Melihat respons Zero sekarang, Aishia tahu sesuatu yang buruk tengah terjadi.


"Karena dia adalah salah satu pasien di sana."


"Eh?"


TBC