MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 11 - Skorsing



"Sekalipun itu benar, bəjingan sepertimu sama sekali tidak punya hak mengatakannya!"


"Kau memanggilku apa?!"


Alba langsung menghampiri Kei yang tampak memiliki lebam kebiruan di dekat matanya. Bahkan kerahnya sudah tidak terbentuk karena ditarik. Napasnya memburu sebab amarah yang telah membuncah.


Orang di depannya tidak lebih baik. Lebam di wajahnya nyaris rata dari sudut ke sudut. Kancing bajunya beberapa sudah terlepas dan yang paling parah, hidungnya meneteskan darah.


Segera Alba menarik Kei mundur, menjauh dari predator yang mengincar adiknya. Sementara Aishia langsung menghampiri orang yang bertengkar dengan Kei dan menahan dengan kuncian tangannya.


Sebagai seorang karateka, menghentikan anak bau bawang begini adalah hal sepele.


Masalahnya adalah, anak ini tidak berhenti memberontak yang membuat rasa mual Aishia kembali lagi. Juga, barusan ia belum sempat memuntahkan sarapannya karena kejadian ini, dia refleks berlari menuju ruang konseling.


Sial, aku ingin sekali muntah di sini... tahanlah perutku! Sebentar lagi!


"Ada apa dengan semua keributan ini?!"


Suara menggelegar memenuhi ruangan. Baru saja Kei ingin melayangkan pukulannya yang lain, tapi kehadiran dari sang wali kelas dan guru konseling membuatnya urung.


"Lagi - lagi kamu, Kei." Ucap konselor dengan tajam.


"Kenapa kalian bertengkar?" Wali kelas bertanya sambil meneliti anak yang menjadi lawan Kei, "Saya ingat wajahmu. Kamu adalah adik kelas yang menjadi korban pemukulan Kei?"


Konselor memperbaiki kacamatanya, "Benar sekali. Kenapa malah sekolah? Kamu diberi jatah libur untuk pemulihan, bukan?"


Murid yang pergerakannya dikunci oleh Aishia itu kini diam membisu. Aishia bisa lebih tenang, dengan begini isi perutnya tidak terkoyak seperti barusan.


"Kenapa kalian bertengkar? Jawab!"


"Apa di sini tidak ada saksi?" Alba menoleh sekitar dan hanya menemukan mereka berenam. Artinya, tidak ada saksi.


"Sepertinya anak ini yang pertama memprovokasi Kei dengan menyebutnya 'anak haram' atau 'anak adopsi'."


Semua menatap Aishia ketika gadis itu angkat suara. Sejujurnya, Aishia sempat mengintip mereka karena ingin tahu bagaimana cara Kei berinteraksi dengan anak sebayanya.


Sangat disayangkan itu tidak berakhir dengan baik sebab murid itu malah mencemoohnya dan mengejek Kei dengan keterlaluan. Memang Kei secara fisik sama sekali tidak mirip dengan Alba, tapi seharusnya murid ini tahu batasan bercanda.


"Itu benar, Arya?!" Tanya konselor dengan nada tinggi.


Arya nampak gugup dan ucapannya pun terbata - bata sehingga apa yang dia katakan sama sekali tidak dipahami oleh Aishia dan yang lain. Hanya saja, mereka bisa menangkap bahwa apa yang dikatakan Aishia adalah benar.


Sang konselor kembali memperbaiki letak kacamatanya.


"Saya paham. Sepertinya ini alasan nak Kei memukulmu kemarin, kan?"


Arya terperanjat, jantungnya berdetak kencang. Lalu ia mengangguk samar.


Wali kelas menggelengkan kepalanya, "Anak zaman sekarang benar - benar..."


Aishia melepaskan tangannya dari Arya karena melihat anak itu yang sudah lebih tenang. Berbeda dari Kei yang masih ditahan Alba sebab emosinya masih belum stabil. Memangnya orang mana yang tidak kesal diejek seperti itu?


Arya tidak tahu apapun tentang Shceneider.


"Arya, sepertinya masa 'istirahat'mu perlu diperpanjang menjadi tiga hari dan juga tugas tambahan dari wali kelasmu. Dan kamu Kei, seminggu dan lima hari untukmu. Arya dilarang dekat dengan Kei melebihi jarak satu meter. Dan untuk Kei, setelah kamu masuk kembali ke sekolah, kamu masih berada dalam lingkaran pengawasan. Jika hal ini terulang lagi, maka ada tindakan tegas yang perlu pihak sekolah lakukan. Mengerti?!"


Hanya Arya yang menjawab karena Kei begitu acuh dan masih terlarut dalam emosi butanya. Dia menghempaskan tangan Alba dan kembali ke kelasnya begitu pula dengan Arya. Mereka perlu mengambil tas dulu sebelum hukuman skorsing dimulai.


...****...


Baru saja menginjakkan kaki di mansion, Kei langsung ke kamarnya dengan langkah ribut. Hari ini suasana hatinya benar - benar buruk.


Tadi saja Kei masuk ke mobil Aishia karena terlalu enggan menemui wajah Alba setelah konfrontasi kemarin. Alba memaklumi. Dia terlalu lelah dengan adik bungsunya yang gemar membuat masalah. Walaupun kali ini bukan sepenuhnya salah Kei.


"Di mana Arsene?"


Alba menatap sekeliling ruang tamu demi menemukan Arsene. Sebab biasanya adik tersantainya itu akan berleha - leha di depan televisi dengan keripik kentangnya.


"Mungkin di kamarnya." Jawab Aishia.


"Dia bukan Kei yang memendam diri di dalam kamar. Arsene bilang terlalu pengap di dalam sana. Apa dia keluar mansion, ya?" Alba menggelengkan kepalanya dengan cepat, itu mustahil.


"Dia pasti masih di mansion ini."


Apa sejarang itu Arsene keluar mansion?


"Hmph...!"


Aishia menutup mulutnya, rasa mual yang barusan hilang sekarang malah kembali lagi. Rasanya ada yang memberontak keluar dari dalam perutnya.


"Kau belum muntah saat di sekolah, Aishia?" Tanya Alba dengan raut khawatir.


Aishia menggeleng pelan.


"Aku terlalu sibuk mengintip Kei yang adu jotos dengan Arya daripada memuntahkan sarapan serta makan malamku..." Ucap Aishia sekuat tenaga untuk menelan kembali yang sudah mencapai kerongkongan.


Alba menatap kepergian Aishia dengan cemas. Dia jadi diingatkan kembali bahwa konselor dan wali kelas Kei menganggap mereka suami istri dan Aishia tengah hamil muda.


Wajah Alba bersemu merah.


"Apa - apaan itu..."


"Alba, sudah pulang?"


Alba terkejut, menatap sosok Arsene yang tanpa ekspresi. Alba berkedut kesal, dia benar - benar kesal karena kedatangan anak ini yang mendadak. Apa dia belajar untuk menjadi penyusup dengan kedatangan yang tidak sadari orang lain itu?


"Kau tidak perlu mengagetkanku. Setidaknya, biarkan aku melihatmu sebelum mendengarmu!" Ucap Alba geram.


"Oke." Arsene mendongak ke lantai dua dan tepat di dekat tangga ada pintu kamar Kei, "Dia sudah pulang. Skorsing?"


Alba melirik Arsene tajam, "Aku sadar kau tahu lebih banyak dari yang kutahu."


Arsene berpura - pura bodoh, memiringkan kepalanya.


"Bukankah ada istilah yang mengatakan 'sedikit yang kau tahu itu lebih baik?' Nah, jadi kau lebih baik dariku." Kata Arsene.


"Pernyataanmu sangat sesat. Bukan begitu maksudnya." Alba mendengus kesal.


Arsene tersenyum sangat tipis, dia berjalan menuju sofa kesayangannya di mana ia akan bermalas - malasan dan menghabiskan waktu hanya dengan menonton siaran bodoh seperti biasanya.


"Tapi itu paling mendekati. Benar tidak, Alba?"


Alba mengernyit.


Meski sudah terbiasa, namun dia masih tidak paham mengapa panggilan Arsene kepadanya akan berubah ketika mereka hanya berdua dan ketika orang lain berada di dekat mereka.


Arsene akan memanggilnya dengan sebutan kakak saat ada orang lain di dekat mereka. Dan menyebut nama tanpa embel - embel kakak saat mereka hanya berdua. Itulah yang Alba tidak pahami dari Arsene.


Bahkan saat masih kecil pun, Arsene adalah saudara yang tidak sebegitu akrab dengan Alba yang notabene kakak tertua. Dia mandiri terlalu cepat saat itu.


...****...


Di dalam kamarnya, Kei meringkuk di balik selimut dengan rasa masam. Hari ini sangat menyebalkan karena ucapan Arya serta dia bertemu dengan Alba padahal mereka masih perang dingin sejak hari kemarin.


Juga, dia harus membuang rasa gengsinya dengan pulang bersama Aishia daripada harus semobil dengan Alba karenanya.


Kei membuka selimut tebal yang menutupinya, terduduk masih dengan perasaan kesal. Dia melirik ke kirinya, jendela kamar yang sudah terbuka sepenuhnya. Kalau bukan kerjaan para pelayan rumah, pasti adalah Aishia.


Kei berdiri dari kasurnya dan berdiri di dekat bingkai jendela.


Dari sini bisa dilihatnya berbagai macam kegiatan orang - orang di kompleknya. Kei terlalu sibuk mengurung diri di dalam kamar sampai dia tidak sadar betapa cerahnya dunia luar itu.


"Dua belas hari selalu di mansion. Apa yang bisa kulakukan sampai dua belas hari itu selesai?"


Kei mendengus. Mengeluarkan rasa masam yang membabi buta dalam hatinya. Ia kesal pada Alba, benci pada Arya dan merasa tidak adil dengan keputusan yang dikeluarkan pihak konseling serta wali kelasnya.


"Apa aku kabur saja, ya?"


Kei menengok ke pintu kamarnya. Kemudian melihat ke bawah dimana jarak antara lantai dua dengan tanah lumayan berisiko kalau Kei niat melompat.


Kei berjalan menuju lemari besarnya dan mengeluarkan segala macam pakaian yang ia punya dari atasan hingga bawahan. Dia mengikat semua kain hingga membentuk tali panjang.


Setelah mengambil semua uang tabungan miliknya, Kei merasa sudah siap. Ia melemparkan tali yang dibuatnya ke bawah.


Meski kurang sedikit lagi untuk mencapai tanah, Kei tidak berniat menambah kain lagi dan segera turun ke bawah. Dalam hati berharap tidak ada seorang pun yang melihat kejadiannya.


Dengan hati - hati, Kei memegang tali dengan erat dan sesekali memeriksa apakah kakinya sudab berpijak di tanah atau belum.


Kei berhasil mencapai halaman di samping mansion dan segera berlari ke pintu belakang untuk kabur. Dia tidak bisa melewati tembok karena terlalu licin dan tinggi.


"Apa itu yang disebutnya sebagai kabur?"


Seorang pria dengan iris amethyst ternyata sejak tadi mengawasi samping mansion. Di mana dia merasa aneh dengan tali dari kain yang menjulur yang asalnya dari kamar adik bungsunya.


Ingin sekali dia hanya diam dan menunggu sampai Kei menyerah dan pulang sendiri. Tapi ia ingat betapa keras kepalanya Kei serta tingginya harga diri bocah itu membuatnya tidak bisa tenang.


Dia takkan pulang jika tidak dicari.


Pria itu mengambil ponsel yang tergeletak di meja ruang tamu dan mulai mengetikkan sesuatu disana, dia mencari kontak nomor seseorang dan melakukan panggilan dengannya.


"Oh? Hei, bisakah kau mengikuti ke mana Kei pergi? Hng? Aku tidak mau. Itu terlalu capek mengikutinya ke sana ke mari seperti penguntit. Lakukan saja, oke? Aku mau tidur siang."


Panggilan diputus secara sepihak oleh pria itu. Dia bersandar pada sofa dan menikmati siaran bodoh yang dengan bodohnya ia tonton.


"Ini lebih baik daripada menjadi penguntit."


TBC