
"Jadi ini dojo yang Aishia tempati." Gumam Alba.
Karena merasa kesal dengan adegan tidak senonoh yang mengotori matanya. Tanpa sadar Alba mengemudikan mobilnya menuju alamat di mana dojo yang Aishia tempati berada. Bahkan Alba sendiri tidak tahu kenapa otaknya menariknya kemari.
"Permis-"
"Oh? Siapa itu?"
Kalimat Alba terpotong saat seseorang tiba-tiba muncul dari balik pintu geser. Gerakan mengetuk Alba pun terhenti di udara, ia segera menarik tangannya kembali.
Dia adalah seorang gadis yang mungkin seusia atau lebih muda dari Alba sendiri. Mungkin karena penampilannya yang terkesan dewasa, membuat Alba menilainya sebagai wanita dewasa juga.
"Perkenalkan, aku Alba Shceneider. Apa Aishia ada?" Tanya Alba tanpa basa - basi.
Wajah gadis itu berubah menjadi cemerlang, seakan dia baru saja menemukan sesuatu yang besar. Masalahnya, sahabatnya yang sedang dalam masa pemulihan itu, entah kenapa akhir - akhir ini diketahui memiliki banyak kenalan pria tampan tanpa sepengetahuannya.
"Sebentar, aku akan memanggil Aishia. Dia ada di dalam. Tunggu sebentar, oke?"
Gadis itu meninggalkan pintu geser tetap terbuka supaya Alba tidak mendadak pergi dan membuatnya gagal menggoda Aishia. Sekitar sepuluh menit Alba menunggu, barulah gadis itu kembali sambil mendorong Aishia yang duduk di kursi rodanya.
"Alba? Ada apa kemari? Ya ampun, aku merasa kurang sopan karena membiarkanmu berdiri di luar sambil menungguku." Aishia menatap tajam Hana yang tidak membiarkan Alba masuk terlebih dahulu.
Sementara yang ditatap hanya cengengesan karena lupa. Hana terlalu semangat untuk memberitahu Aishia bahwa ada pria tampan lainnya yang mencari sahabatnya ini.
Yang pertama adalah Rio, kemudian Kei. Dan sekarang ada pria tampan lainnya yaitu Alba. Namun yang bisa Hana tangkap adalah Rio dan Alba memiliki nama belakang yang sama. Juga Kei yang diketahui oleh Hana sebagai adik Rio.
Bukankah itu berarti ketiga orang ini adalah saudara?
Hana terus diam sambil memikirkan ikatan diantara ketiga orang yang Aishia kenali ini dan juga fakta jika mereka bersaudara.
"Eh?! Bukankah Alba Shceneider adalah nama kepala keluarga yang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang teknologi?!" Hana tiba - tiba berteriak histeris.
Percakapan Aishia dan Alba terpotong saat Hana berteriak. Hana pun tak sadar melakukannya, ia sadar ketika Aishia memandangnya lelah karena kelakuan Hana.
Alba tersenyum lalu mengangguk, "Itu benar."
"Tunggu, jangan katakan kepadaku..."
Dengan gerakan patah - patah ala film horor, Hana menatap Aishia tidak percaya. Pasalnya ia tak berpikir lebih jauh saat Rio yang mengatakan bahwa dia adalah Shceneider. Tapi saat Alba yang mengatakannya, dia baru sadar tentang pemilik Shceneider Company itu.
"Aishia, kau tidak pernah mengatakan kepadaku kalau kau kenal dengan Alba Shceneider!" Hana terlihat kesal.
"Kau tidak pernah bertanya. Lagipula, aku kenal dengannya karena aku bekerja sebagai penjaga adiknya. Kau sudah bertemu dengannya, dia adalah Kei." Aishia mengangkat sebelah alisnya dengan heran.
"Jadi dia orangnya! Lalu bagaimana dengan Arsene itu? Apa dia adikmu juga?" Hana mengonfirmasi, takutnya Aishia berbohong.
"Iya, dia adikku juga. Kami tujuh bersaudara. Dan aku adalah anak sulung."
"Luar biasa." Hana menepuk tangannya dengan kencang lalu berbisik pada Aishia. "Dia punya adik sebanyak itu dan tampangnya tidak seperti orang stres dan banyak pikiran."
"Kau hanya tidak tahu saja bagaimana dia di rumah." Bisik Aishia balik.
"Jadi Alba, ada apa kemari?"
Aishia mempersilahkan Alba untuk masuk ke dalam dojo, ini mengingatkannya pada kedatangan Rio yang pertama kali. Sementara Hana mengambil air dan camilan, Aishia dan Alba duduk berdua di ruang tamu.
"Bagaimana kabar pemulihanmu? Sudah semakin baik?" Tanya Alba.
Aishia mengangguk semangat.
"Aku sudah semakin baik. Bahkan dokter mengatakan jika proses ini berjalan sangat lancar, maka hanya perlu satu atau dua bulan lagi bagiku untuk benar - benar pulih. Setiap hari juga aku belajar berjalan bersama Hana. Aku jadi agak khawatir padanya..."
"Kenapa?"
"Dia banyak membantuku di sini sedangkan dia punya toko bunga. Padahal dia mendapat semua pendapatannya dari sana. Tetapi, beberapa hari ini dia selalu ke mari dan tidak membuka tokonya. Bagaimana keadaan keuangannya, ya?"
"Dia akan baik - baik saja."
Dalam hati Aishia berharap kalau Alba memang benar. Ia tahu bahwa Hana bukanlah berasal dari keluarga kaya seperti halnya Alba. Aishia juga sama, dia bahkan masih menumpang di dojo. Agak sulit kalau mau membantu Hana.
Tentu saja, uang yang Alba transfer bisa kuberikan sebagian pada Hana.
"Apa Alba kemari hanya untuk menanyakan keadaanku? Alba bisa mengirimkan pesan saja."
"Ah, iya... itu benar."
Alba takkan mengatakan jika dia kepikiran mengunjungi dojonya Aishia setelah melihat adegan yang membuatnya panas hati. Dibandingkan terus kesal di tengah macet atau ke pantai dengan hati tertekan, lebih baik ia ke sini.
Meskipun Aishia sudah mengetahui tentang Anya. Tentunya Alba takkan melibatkan Aishia lebih jauh dengan kehidupan pribadinya yang sebenarnya harus ia tinggalkan karena hubungannya sudah selesai sejak lama.
"Astaga, Alba benar - benar lucu. Kalau itu Arsene, dia pasti akan mengirimkan pesan." Aishia tertawa kecil.
"Aku baru ingat. Apa kau mempunyai kontak kami bertujuh?"
"Tidak. Aku hanya memiliki kontak Alba dan Arsene saja. Kalau yang lain, sama sekali tidak ada. Soalnya aku belum lama di sana jadi..."
"Kau benar."
Hana datang dengan tiga gelas jus jeruk dan kue kering. Ia menyajikannya di depan Alba. Hana mengambil satu gelas dan duduk di samping Aishia sambil meminum jus bagiannya.
"Hei, itu tidak sopan."
"Astaga, aku lupa." Desis Hana.
Alba tak memedulikannya dan sibuk memandangi interior dojo yang nampak sederhana, namun terkesan mewah. Membuat siapa pun yang ada di dalamnya merasa tenang dan damai.
"Apa hari ini Alba mengambil cuti?" Tanya Aishia.
"Tidak. Aku bolos. Aku membuat Nichol mengerjakan bagianku, tidak tahu apakah dia akan pulang seperti biasa atau akan lembur."
"Kalau begitu, aku pamit dulu." Alba beranjak bangun dari kursinya.
"Eh, jus dan camilannya bagaimana? Kau bahkan belum bertemu dengan Aki-sensei." Sergah Hana.
"Aku terburu - buru, harus kembali."
"Ke mansion?"
"Yap, mungkin Kei sudah pulang."
"Begitu. Sampaikan salamku padanya."
"Pasti."
Aishia melambaikan tangannya pada Alba yang diikuti Hana keluar dari dojo. Hana menatap Alba dari atas ke bawah dan berpikir kalau Alba nampak familiar dengan seorang kenalannya.
Hm, tapi siapa?
"Sampai jumpa lagi, nona..."
"Hana, namaku Hana."
Rupanya dia belum tahu namaku, yah.
...****...
"Aku pikir kau lembur, Nichol."
Alba kembali ke mansion dan mendapati Arsene serta Nichol yang entah bagaimana sedang nonton bersama. Biasanya Nichol tidak begitu dekat dengan kakaknya yang pendiam itu.
Nichol menatap kesal Alba.
"Jadi Kak Al ingat jalan pulang."
"Hei, mana mungkin aku lupa letak mansionku."
"Habis dari mana? Kak Al tidak terlihat seperti dari pantai." Nichol menatap selidik kakaknya.
"Itu..."
"Kutebak Kak Al habis dari rumah Aishia, ya?" Kini Nichol tersenyum menyeringai.
"Eh?"
Alba jadi salah tingkah sendiri. Ia melirik Arsene yang sedang santai dan meminta bantuan kepadanya. Tapi Arsene nampak acuh seperti tidak mendengar sama sekali keributan di sekitarnya. Dia memang berada di dunianya sendiri seperti para autisme.
"Meskipun itu benar. Apa kau punya masalah?"
"Tidak kok. Hehe..."
Nichol membalikkan badannya kembali menghadap televisi sambil terkekeh kecil. Otak iblisnya sedang berpikir kalau ada yang tak beres di antara hubungan Alba dan Aishia, begitulah pikirannya berjalan.
Sedangkan Arsene tak begitu penasaran. Dia juga tahu kalau Alba habis dari dojo tempat Aishia tinggal. Itu terlalu jelas untuk diketahui.
"Arsene, aku mau bicara sebentar." Ujar Alba.
"Tentang apa?"
"Paman Mo."
Arsene dan Nichol kompak menoleh ke arah Alba. Mereka tidak percaya kalau Alba berani membawa topik sensitif. Nichol buru - buru memeriksa pintu kamar Kei di lantai dua, takutnya ada sosok Kei mengintai di sana dan mendengar percakapan mereka seperti di drama klise.
"Bisakah kita simpan ini untuk nanti? Kau mendadak sekali."
Alba mengernyitkan keningnya.
"Nanti, akan kutunggu nanti itu."
Nichol menatap kakaknya yang melangkah menjauh. Sedangkan Arsene yang tidak begitu peduli terus menonton sambil memakan.
"Arsene, bisa kau tebak kenapa Kak Al pergi ke dojo?" Tanya Nichol, ia menaik turunkan alisnya.
"Itu karena suasana hatinya yang mungkin mendadak memburuk."
"Kau tahu bukan kenapa?" Nichol semakin memancing.
"Anya."
"Correct answer! Entah kapan dia akan berhasil move on dari wanita itu."
Ponsel Arsene berdering, ada sebuah pesan masuk dari Aishia. Dari layar kunci, Arsene bisa membaca pesan tersebut.
[Aishia: Tadi kakakmu ke sini. Dia bolos dan meninggalkan Nichol dengan setumpuk pekerjaan miliknya. Aku merasa kasihan padanya :(]
Arsene mengetik pesan balasan.
[Anda: Itu tidak benar. Dia tak mengambil lembur dan langsung pulang tanpa menyentuh pekerjaan Kak Al.]
Tak lama Aishia membalas pesannya.
[Aishia: Haha, itu terdengar seperti Nichol.]
Arsene hanya menatap lamat pesan terakhir itu tanpa berniat memperpanjangnya. Ia menyangga dagunya sambil memerhatikan dengan seksama profil kontak Aishia. Gadis itu memang nampak sekali tipe orang yang akan menggunakan foto diri sebagai profilnya.
"Mungkin tak lama lagi, dia bisa melupakannya."
TBC