
"Untuk ulang tahun perusahaan, bagaimana dengan dekorasinya?" Tanya Nichol.
"Hng? Soal itu, yang sederhana saja. Mungkin dihias oleh sedikit bunga dan balon." Jawab Alba tanpa menengok pada adiknya itu.
"Kakak tahu jasa yang bagus, tidak?"
"Jasa apa?"
"Tentu saja jasa dekor ruangan! Masa pijat refleksi."
Alba jadi ingat kalau teman Aishia yang bernama Hana itu memiliki sebuah toko bunga. Kalau Hana bisa merangkai bunga dan menghias ruangan ini sedemikian rupa, mungkin saja Alba akan menggunakan jasa miliknya saja.
"Sebentar, aku mau menelepon Aishia dulu." Ujar Alba.
"Huh? Untuk apa?"
Alba mengabaikan saja pertanyaan adiknya itu. Untung saja Aishia langsung mengangkat panggilan darinya.
"Halo? Ada apa, Alba?"
"Apa Hana ada bersamamu?"
"Iya. Dia ada di sampingku sekarang. Apakah Alba membutuhkan sesuatu?"
"Ya, aku hanya ingin tahu apakah dia bisa mendekor ruangan."
"Sebentar, aku akan berikan ponselnya pada Hana."
Sedetik kemudian, Alba bisa mendengar suara Hana di ponselnya.
"Ada apa mencariku- eh saya?"
"Tidak perlu formal begitu, anggap saja aku sebagai kenalan Aishia." Koreksi Alba.
"Te-tentu! Jadi, ada apa Alba?"
"Begini, apa tokomu menerima jasa dekorasi?"
"Tentu saja! Kam- kau membutuhkannya?"
"Itu benar. Lusa adalah hari ulang tahun perusahaan kami. Jadi aku dan Nichol ingin merayakannya bersama dengan para karyawan. Bisa kau datang hari ini?"
"Siap! Hana akan segera sampai di tempat dalam setengah jam. Alba tunggu saja di sana dengan tenang dan kita akan berdiskusi mengenai dekor ruangannya. Sampai jumpa di sana."
"Oke, aku akan menunggu."
Alba menutup panggilan telepon, kemudian menatap Nichol yang sepertinya sejak tadi memperhatikan aktivitasnya. Nichol mengangkat sebelah alisnya, secara tidak langsung bertanya.
"Aku sudah menelepon Hana, dia akan kemari dalam setengah jam."
"Hana?" Nichol mengernyit heran.
"Ya, nama pemilik dari jasa dekor yang kita gunakan adalah Hana."
...****...
Hana menatap gedung perusahaan yang menjulang tinggi. Jujur, ini adalah pengalaman pertamanya memasuki sebuah kantor. Sebab Hana tidak memiliki pengalaman sebagai pekerja kantoran.
Ia memasuki gedung itu dengan perasaan gugup. Hana langsung menghampiri meja resepsionis dan menanyakan tentang Alba. Tentu saja jawaban dari resepsionis itu adalah apakah Hana sudah membuat janji bertemu dengan Alba.
"Saya belum buat janji. Tapi jika anda meneleponnya dan mengatakan nama saya, pasti dia tahu." Ujar Hana meyakinkan.
"Baiklah, akan saya coba." Resepsionis itu menyetujuinya.
Namun setelah beberapa saat ia mencoba melakukan panggilan, Alba tidak menjawab. Hana sedikit kecewa karena itu berarti akan semakin sulit baginya untuk menemui Alba. Dia menyesal karena tidak membuat janji terlebih dahulu. Hana lupa kalau hal seperti ini pasti akan terjadi.
"Maaf, tapi Pak CEO tidak dapat dihubungi saat ini."
Jadi aku harus bagaimana ini?! Aku sama sekali tidak tahu apa - apa mengenai tempat ini. Astaga-
"Heh? Kamu Hana, bukan?"
Hana menengok ke belakangnya. Seorang pria dengan wajah yang sangat familiar baginya. Bagaimana tidak, pria ini adalah sosok yang hampir setiap hari ia harapkan padahal pertemuan mereka hanya terjadi setahun sekali saja. Hana tak tahu kenapa otaknya terus berpikir tentangnya.
"Ah, anda..."
Hana berusaha untuk mengingatnya. Meski pria ini selalu datang setiap tahunnya, itu hanya sebentar. Terlebih lagi, mereka tidak berbicara banyak makanya tidak mengenal satu sama lain. Jadi Hana tak tahu siapa namanya. Pria ini saja tahu nama Hana lewat nametag yang ia pakai.
"Aku Louis. Haha... aku baru ingat jika aku tak pernah menyebutkan namaku."
Itu benar, dia tak pernah menyebutkan namanya.
"Untuk apa datang ke sini? Mau melamar kerja?"
Hana agak penasaran saat melihat Louis yang menyapa akrab sang resepsionis sambil bertanya kepadanya. Seakan pria ini bukanlah orang asing di perusahaan ini.
"Bukan. Tapi aku mau bertemu dengan Alba Shceneider."
"Eh? Kenapa kau ingin bertemu dengannya?" Louis bertanya dengan heran.
"Itu karena aku diminta olehnya mendekor untuk hari ulang tahun perusahaan." Jelas Hana.
Kalau masalah selera desain. Alba punya selera yang sama dengan si pemalas Arsene. Mereka akan memilih tema ruangan yang sederhana namun mewah. Tidak terkesan ramai dan elegan. Cukup berbanding terbalik dari Nichol ataupun Elvan yang akan membuatnya lebih meriah dengan banyaknya warna.
"Kalau begitu aku bisa mengantarkanmu langsung padanya. Ayo!"
Walaupun Hana masih merasa penasaran, tapi karena Louis ini tidak terlihat seperti pria penipu maka Hana ikut saja. Mereka melangkah meninggalkan meja resepsionis.
Ternyata untuk sampai ke tempat yang mereka tuju dimana Alba berada. Louis dan Hana harus menaiki lift dari lantai dasar sampai lantai 15. Di dalam lift, tidak ada percakapan apa - apa karena Hana tegang sendiri. Ia tak tahu kenapa mendadak merasa tegang.
"Apa kau baik - baik saja? Kau berkeringat dingin..." Ucap Louis dengan nada cemas.
Pasalnya, Hana memang terlihat memprihatinkan saat ini dengan keringat yang bercucuran serta seluruh tubuhnya gemetar. Louis mengira Hana terserang flu atau demam melihat dari gejalanya.
"Hm? Ya, aku baik - baik saja." Jawab Hana sambil tersenyum dan mengangguk meyakinkan supaya Louis tidak curiga.
Sampai di tempat yang Louis maksud, mereka memasuki sebuah ruangan. Hana tidak terkejut dengan ruangan besar tersebut, mungkin bisa disebut juga sebagai aula karena ukurannya.
Dari jauh Hana bisa melihat Alba yang sedang berada di tengah - tengah aula bersama dengan seorang pria lainnya yang tidak Hana ketahui. Mereka nampak membicarakan tema apa yang cocok untuk ulang tahun perusahaan ini.
"Oh, Louis? Kau sudah datang? Hana juga sudah di sini rupanya." Alba menyapa mereka dengan senyum hangatnya.
"Aku baru saja datang. Bagaimana persiapannya Kak Al? Sudah sejauh mana?" Tanya Louis.
Langkah Hana seketika terhenti, ia lagi - lagi dikejutkan dengan fakta dadakan lainnya. Pikiran Hana seolah melayang ke luar dari kepalanya, sehingga tatapannya terlihat kosong. Hanya ada satu yang ia pikirkan saat ini.
"Kakak...?" Hana bergumam tak percaya.
"Dia adikku, Hana." Ujar Alba menunjuk Louis. "Kalian saling kenal rupanya." Sambungnya, menatap antara Hana dan adik pertamanya.
"Huh? Kakak? Adik?"
Hana semakin dibuat bingung.
Serius, kebetulan macam apa ini?!
...****...
Di pekarangan dojo, Aishia yang duduk di kursi rodanya tampak tenang. Tanaman hijau yang ditumbuhi oleh bunga berwarna - warni itu mampu membuat suasana hati Aishia menjadi damai.
Aishia melihat kedatangan seseorang dari gerbang masuk. Itu adalah Hana. Gadis itu berjalan sedikit loyo. Aishia jadi penasaran mengapa sahabatnya yang berangkat dengan semangat pagi ini nampak berubah drastis.
"Ada apa denganmu, Hana? Wajahmu pucat."
Hana tiba - tiba bersimpuh di depan Aishia dan menempelkan wajahnya pada pangkuan gadis itu. Hana bahkan menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya.
"Aishia... aku putus asa sekarang."
"Huh? Kenapa? Apa yang terjadi tadi? Apa Alba-"
"Ini bukan tentang Alba. Tapi pria yang aku sukai. Aku pernah menceritakannya padamu, bukan?"
"Iya. Pria itu yang datang ke tokomu setahun sekali untuk membeli anggrek. Lelaki yang belum move on sampai saat ini pada kekasihnya yang sudah meninggal."
Hana mengangguk dalam.
"Aku bertemu dengannya di perusahaan Alba."
"Benarkah? Bukankah ini takdir? Kalian mungkin ditakdirkan untuk bersama." Ujar Aishia dengan senang.
Karena Aishia bisa merasakan perasaan hangat dan bahagia mengalir kepadanya saat Hana bercerita tentang pria yang ia sukai itu. Hana selalu terlihat senang dan gembira padahal pria itu belum dikenalnya dengan dekat.
"Itu tidak benar." Hana mencengkeram pakaian Aishia. "Aku baru tahu identitasnya."
"Memangnya siapa dia?"
"Dia adalah adik dari Alba!" Teriak Hana histeris.
Aishia tak bergeming, pikirannya melalang buana.
"Si-siapa yang kau maksud? Adiknya Alba itu 'kan ada enam." Tanya Aishia.
"Louis! Namanya adalah Louis Shceneider!"
Deg!
Aishia bungkam, mulutnya tak mampu berkata apapun lagi.
Jadi pria yang Hana sukai adalah... Louis?
Aishia memandang jauh, namun tatapannya sangat kosong. Ia menautkan kedua alisnya. Otaknya masih berusaha keras mencerna semua ucapan Hana pelan - pelan.
Jika itu Louis, yang setiap tahunnya membeli bunga anggrek ke Garden Colors alias toko bunga Hana. Hanya ada satu alasannya kenapa dia melakukannya. Bisa ia tebak kemana perginya bunga yang dibeli Louis setiap tahunnya itu.
Tanggal 18 April.
Pandangan Aishia berubah miris.
Sampai saat ini kau tidak bisa menerima kematian Aishira, huh? Dasar payah.
TBC