
"Psikopat?"
Orang itu menunjukkan ekspresi terluka, kemudian mulai tertawa kecil. Tawanya lama - kelamaan semakin keras dan menggelegar, mengisi seluruh ruangan.
Wanita di atas ranjang hanya menyipitkan kedua matanya. Menatap benci. Bagi dirinya, orang di hadapannya ini adalah iblis yang tak berhati. Dia tidak terlahir karena patah hati atau kecewa, namun sejak awal dirinya memang sudah bengkok.
"Berhenti mencuci otak Niki!" Geramnya.
Ia berhenti tertawa saat mendengar teriakan wanita di atas ranjang. Matanya berubah dalam sekejap menjadi kosong, begitu dalam dan gelap seperti lautan tanpa dasar.
Tubuh wanita itu bergidik ngeri. Tatapan inilah yang senantiasa membuat badannya membeku, bahkan menjadikan otaknya kosong.
"Bisa kau berhenti berkicau? Nyawamu dan Niki-mu itu ada di tanganku." Ucapnya dingin.
Seolah dikendalikan oleh ucapannya, wanita itu mengangguk sambil tertunduk.
"Bagus."
Dia menepuk kepala wanita itu lembut dan berjalan pergi ke satu - satunya pintu keluar. Sebelum menutup pintu, dia berbalik. Memandang rendah pada wanita di atas ranjang.
Senyum sinis terbit di wajahnya.
"Sampai jumpa, sayangku. Aku tidak berjanji untuk mengunjungimu besok."
...****...
"Kenapa kau ke sini?" Tanya Kei tajam.
Matanya memandang enggan pada sosok Arya yang datang kepadanya. Bagi Kei, senyum Arya tampak menjijikkan. Adik kelasnya yang satu ini adalah pembuat onar yang sebenarnya.
Kei bukanlah orang gila yang akan mengamuk dan marah tanpa alasan. Semua itu ada sebabnya. Dan sebabnya adalah orang di depannya ini.
"Apa kau tidak rindu pada ruang konseling?"
"Yang benar saja! Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, jadi pergilah!"
"Kau mengusirku?"
"Memangnya kau pikir apa yang sedang aku lakukan padamu? Dasar bodoh."
Kepalan tangan Arya menjadi lebih kuat. Saat Kei mencoba melihat apa yang dicengkeram Arya, dia terkejut. Arya membawa pisau. Ini aneh karena senjata tajam adalah hal tabu yang tidak boleh dibawa ke sekolah. Bahkan di ruang memasak pun, pisau tersimpan dengan baik tanpa pernah dibawa keluar dari raknya.
"Kau membawa pisau, itu pelanggaran berat. Kau bisa dikeluarkan dari sekolah ini!" Geram Kei.
Sejak dia menyadari pisau yang dibawa oleh Arya, Kei berdiri siaga. Sebagai mantan seorang karateka, ia mengambil sikap awas. Meski hanya sampai sabuk hijau, yang penting adalah kegunaannya sekarang.
"Aku tidak ingin menyakitimu, jadi mundurlah!" Teriak Kei.
"Huh? Lucu sekali! Seharusnya aku yang mengatakan itu kepadamu." Ucap Arya dingin.
Arya mengangkat tangannya dan mengarahkan pisau ke arah Kei tanpa basa - basi. Kei keheranan, tatapannya mengelilingi seluruh sudut mencari CCTV.
"Tidak ada kamera pengawas. Gedung ini masih baru, bahkan masih dalam proses pembangunan. Apa yang kau harapkan?" Arya terkikik melihat respons Kei.
Sedangkan Kei semakin terpojok, tanpa sadar ia terus mengambil langkah mundur. Sementara Arya melangkah maju menuju dirinya sambil terus mengangkat pisau.
"Kau ini sebenarnya kenapa?!" Kesal Kei.
Pasalnya, tanpa Kei ketahui sebabnya, Arya selalu membuat masalah dengannya. Dan Kei yang emosional, akhirnya malah terpancing perilakunya. Yang ia bingungkan hingga saat ini adalah, Arya punya dendam kesumat macam apa kepadanya?
"Kenapa?" Bisik Arya. "Kau bertanya kenapa?!" Kali ini ia berteriak.
Arya menancapkan mata pisau pada tangga kayu yang berada di dekatnya. Pisau itu menancap cukup dalam, di sana Kei tahu seberapa kuat Arya dalam segi fisik.
"Karena kakakmu itu, penyakit Kak Anya semakin parah! Sekarang Kak Anya sudah tidak bisa membedakan yang mana yang asli dan yang palsu. Hidupnya hanya dipenuhi oleh khayalan dan imajinasi!"
Kei terus mendengarkan Arya yang mendadak curhat padanya dengan nada lantang. Bisa disadari seberapa besar kebencian Arya pada kakaknya.
Tapi, jika itu tentang Anya. Bukankah semua kebencian Arya saat ini tertuju pada Alba?
"Alba... Alba... dan ALBA! HANYA ITU YANG DIA UCAPKAN SETIAP DETIKNYA!"
Kei menutup kedua telinganya yang berdenging keras saat lengkingan suara Arya menyakiti pendengarannya. Pria itu bahkan bisa mencapai suara yang tinggi seperti normalnya para wanita.
Arya mencabut kembali pisaunya yang tertancap. Langkah kakinya bergerak cepat menuju Kei yang berlari mundur menghindari serangan Arya.
Kei memberikan tinjuan ke pipi Arya hingga meninggalkan bekas merah di sana. Di sisi lain, Arya terus berusaha memberikan serangan berkala menggunakan pisaunya sampai Kei terpojokkan.
Di ujung rooftop, yang mana belum dibuat pembatas karena masih dalam tahap pembangunan, Kei berdiri di sana dengan menahan tangan Arya yang ingin menusukkan pisaunya pada wajah Kei.
Gawat!
Melihat Kei yang terpojokkan, Arya semakin optimis akan menang. Kemudian Arya menambah beban pada kedua tangannya dan mendorong mundur Kei.
Kei sendiri sudah nyaris kehilangan pijakan di kaki kirinya. Jika dia lengah, maka dia akan terjatuh dari lantai enam. Dan itu tidak akan memiliki akhir yang bagus. Dia hanya akan menuju situasi mengenaskan kalau hal itu memang terjadi.
"Haaa!"
Arya menebaskan pisaunya pada leher Kei. Dengan sigap Kei memegang lengan Arya dan mengunci pergerakannya. Karena terlalu banyak gerakan, Kei kehilangan pijakan kaki kirinya.
Refleks Kei menarik lengan Arya ke depan. Arya yang kehilangan keseimbangan tubuhnya, jatuh meluncur ke luar pembatas menuju permukaan tanah.
"Ap-!"
Ketika merasa pasrah tubuhnya terjun bebas dari atas gedung, Arya merasakan tarikan di tangan kanannya. Saat itu pulalah dia tersadar bahwa dirinya terkatung - katung dengan ketinggian mengerikan.
Arya mendongak ke atasnya, menatap Kei yang terus menggenggam tangannya sambil terus bertahan agar tidak jatuh. Tangan Kei yang bebas bertumpu pada jendela kayu. Di antara pegangan mereka, Arya tetap setia memegang pisaunya.
"Kenapa kau tidak membiarkanku terjatuh?" Tanya Arya begitu sinis.
Seharusnya Kei membiarkannya saja untuk terjatuh karena Arya adalah orang pertama yang berniat melukainya. Seharusnya Kei tidak menolongnya, agar Kei tidak lagi harus merasakan ancaman di sekolahnya.
Kei berdecak kesal.
"Aku tidak sudi menjadi seorang kriminal sepertimu! Karena itulah aku tidak akan membiarkanmu jatuh! Aku-"
Bayangan punggung Aishia yang berusaha melindungi Kei di wisata pendakian itu muncul dalam pikirannya.
"Tidak ingin melihat seseorang terluka karenaku!"
Kedua netra Arya membulat sempurna. Matanya menatap tak percaya pada Kei yang ternyata bisa mengatakan kalimat semacam itu.
Bagi Arya, adik dari seseorang yang telah membuat penyakit jiwa kakaknya semakin parah, ia rasa bahwa Kei bukanlah orang yang baik. Sehingga, selama ini Arya selalu diselimuti oleh perasaan dendam pada Kei.
"Padahal aku selalu mengganggu kehidupanmu selama ini." Gumam Arya.
Pegangan Kei terhadap Arya semakin lama semakin melemah. Itu semua karena tenaga Kei tidak cukup untuk menahan dirinya sendiri agar tidak jatuh, lalu ditambah proporsi tubuh Arya yang lebih besar darinya.
"Sudahlah, biarkan aku terjatuh. Aku takkan menyalahkanmu. Setelah ini, hidupmu akan damai." Ujar Arya.
Namun, Kei tetap keras kepala dan egois seperti biasanya. Dia tidak membiarkan dirinya dan Arya terjatuh begitu saja. Sudah cukup dengan Aishia. Kei tidak ingin ada orang lain yang harus terluka di depan matanya.
Karena kenangan itu akan selalu utuh dalam kepalanya.
"KEI!"
Kei tersentak, dia mengenal suara ini. Kei menundukkan pandangannya, tidak peduli setakut apa pun dirinya terhadap ketinggian.
Aishia?
"Kak Zero?!" Pekik Arya.
Di bawah mereka, ternyata sudah ada banyak siswa dan siswi yang berkumpul dengan tatapan ngeri. Mereka khawatir jika Kei tidak mampu bertahan dan akan terjatuh bersama Arya.
Apalagi posisi mereka sudah berada di lantai lima, yang mana sudah tidak bisa diselamatkan lagi jika dari rooftop. Gedung baru ini juga masih dalam pembangunan sehingga lantai dasar hingga lantai enam belum aman jika digunakan. Karena itulah orang - orang merasa segan untuk menjelajahi isi gedung dua.
Suara sirine pemadam kebakaran dan polisi memenuhi pendengaran. Kini Kei dan Arya bisa bernapas lega.
Kei sekali lagi memandang sosok Aishia yang awalnya ingin nekat memasuki gedung. Tatapan Kei mendadak berubah miris.
Bukankah kontrak kerjamu sudah selesai?
TBC