
Di sekolah, Kei sedang ada ujian dadakan untuk mata pelajaran fisika. Pelajaran yang tidak begitu ia sukai karena harus menghitung. Itu artinya dia harus membuat otaknya bekerja dua kali lebih keras daripada biasanya.
Ketika semua murid sudah mendapatkan lembar soal, sang guru mata pelajaran memulai ujian dadakan.
Dengan hati masam Kei membaca setiap soal dengan detail. Sayangnya, dari 35 soal yang diberikan, ia hanya mengerti 20 soal saja dan itu pun dia tidak tahu jawabannya benar atau tidak.
Karena tidak ada sistem pengurangan poin jika salah, sebisa mungkin Kei mengisi semua soal meskipun lebih banyak menebak. Menggunakan sistem eliminasi pun masih tetap tidak membuatnya menemukan jawaban final.
Dua jam berlalu dengan sangat cepat. Kei berhasil mengisi semua soal meski dari semua jawaban, ia tidak yakin akan benar seluruhnya.
Kei menyandarkan tubuhnya ke badan kursi. Kedua matanya terpejam erat.
"Jangan lihat, atau kau akan menyesalinya."
Entah kenapa, kalimat Arsene sebelum dia maju untuk menyerang para pria berjas hitam itu, selalu terngiang di pikiran Kei hingga detik ini.
Ucapannya begitu lembut, namun terkesan dalam dan bengkok. Yang lebih menyeramkan dari itu adalah suara - suara teriakan setelahnya. Teriakan kesakitan dan penuh sengsara memenuhi pendengarannya.
Tapi ketika Kei membuka matanya, tidak ada adegan berdarah sama sekali seperti yang otaknya imajinasikan. Para pria berjas hitam itu tampak bersih, namun tergeletak dengan sangat mengenaskan.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?"
Karena pikiran - pikiran inilah, Kei sulit untuk fokus pada ujian hariannya.
Seperti kata psikiater yang memeriksanya, Kei tidak akan bisa kembali seperti semula. Rasa takut dan intimadasi hari itu akan tertanam kuat dalam pikirannya. Selama Kei mengingatnya, hidupnya takkan terasa tenang.
"Andai saja aku bisa menghilangkan ingatanku hari itu. Mungkin saja, aku akan merasa damai."
Kei bangkit dari kursinya, mengambil kotak bekal dalam tasnya dan berjalan menuju taman seperti biasa. Murid - murid di kelas dan lorong sekolahnya hanya memperhatikannya dengan tatapan heran.
Bahkan ketika pemandangan di depan matanya begitu indah, pikirannya benar - benar tidak bisa beranjak dari insiden besar itu. Tatapannya yang semula normal berubah kosong.
Kei menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir semua pikiran buruk dalam pikirannya.
Ketika sampai di taman sekolah, Kei cukup kesal karena tempatnya yang biasa sekarang malah ditempati oleh beberapa orang. Kelompok itu nampak bersenang - senang sambil bermain permainan papan.
Karena enggan menambah beban dalam pikirannya, Kei melangkah kembali ke gedung sekolah. Rencananya ia akan ke rooftop gedung dua. Tidak banyak murid yang mau ke sana karena tempatnya yang memiliki keamanan kurang, sekat pembatas belum dibangun sebab gedung dua masih terbilang baru.
Kei memasang earphone di telinganya yang tersambung dengan ponselnya. Demi menghindari kontak dengan orang lain -meski dia memang dihindari para murid- selagi dia berjalan menuju rooftop.
Lagu di telinganya terdengar mengayun dengan lembut, seakan menggambarkan suasana pantai biru di depan mata. Penambahan audio ombak menjadikan otaknya sedikit tenang.
Kei sampai di rooftop. Dia menatap ngeri ke bawah gedung, yang mana semua orang tampak kecil dari atas sini. Itu semua karena gedung dua dibangun dengan enam lantai, berbeda dengan gedung satu yang hanya memiliki empat lantai.
Kei duduk di dekat pintu, membuka kotak bekalnya yang sudah tidak hangat lagi. Di dalamnya ada onigiri berbalut rumput laut didampingi dengan lobak dan wortel.
Kei menatap bekalnya tidak percaya.
"Apa ini benar - benar masakannya Kak Arsene? Di mana segala macam pasta yang selalu dia paksa untuk kami makan?"
Tidak peduli dengan perubahan masakan Arsene yang mengarah ke jalur lebih baik, Kei melahap isi bekalnya dengan lahap. Dia sudah menahan lapar sejak tengah hari.
Saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Kei berhenti memakan bekalnya. Dia menatap ke arah pintu dengan tajam. Seseorang dengan seragam sama dengannya berdiri di sana.
Tatapan Kei semakin menghunus.
"Kenapa kau ada di sini..."
Senyum orang itu nampak mengerikan.
"ARYA!"
...****...
"Kau jangan bercanda! Aku takkan pernah membiarkanmu melakukan itu! Jikapun kau mencoba, aku akan menggagalkannya." Ujar Aishia dengan nada dingin.
Zero tertegun. Hubungan antara Aishia dengan Shceneider bersaudara sejujurnya tidak sedekat dan sedalam itu. Tapi gadis ini, mungkin tanpa ia sadari, ia lupa telah lepas dari ikatan kontraknya sebagai penjaga Kei.
Zero tersenyum, kali ini tampak palsu.
"Kau sudah bukan bagian dari Shceneider lagi. Dari dulu, hingga kapan pun di nanti."
"Memangnya kau bisa meramalkan masa depan?" Aishia membalasnya tajam.
Entah kenapa, setiap ucapan Zero selalu berhasil membuat emosinya terpantik. Mungkin Zero memang punya kemampuan khusus yang mampu membuatnya mudah untuk mengendalikan emosi orang lain.
Suasana hati Aishia sudah rusak. Rasa simpatinya pada Zero pun telah menghilang bagaikan debu yang diterbangkan oleh angin.
"Pembicaraan telah selesai, aku pamit." Ucap Aishia dengan sisa rasa sopan dalam dirinya.
"Tidak perlu diantar, aku masih ingat jalan." Kata Aishia ketus.
"Benarkah? Kalau begitu aku hanya ingin berjalan - jalan ke luar sebentar. Jangan pedulikan aku." Jawab Zero dengan santainya.
Dia dengan mudahnya mengabaikan ucapan Aishia, meski Zero sadar bahwa gadis itu tidak nyaman berada di dekatnya. Zero tidak peduli pada pandangan Aishia terhadapnya. Yang terpenting sekarang adalah Aishia tahu persis kondisi Anya.
"Apa kau akan memberitahu kebenarannya pada Alba?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam hal ini. Ruang antara Alba dan Anya, hanya perlu diisi oleh mereka. Harusnya kau mengerti ucapanku. Itu artinya, kau pun dilarang mengintervensi."
Lagi - lagi Zero hanya tersenyum untuk menanggapi.
Jika Alba tahu kebenarannya, apa dia akan kembali pada Anya?
Ponsel Aishia berdering, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Siapa?
Baru saja Aishia ingin menjawabnya. Tapi penelepon berhenti menelepon. Karena itu dari nomor tidak dikenal, Aishia mengabaikannya saja.
Tapi, sedetik kemudian nomor itu kembali mencoba menghubunginya. Kali ini lewat pesan, dia mengirimkan Aishia sebuah video.
"Apa - apaan...?"
Aishia semakin heran. Ditambah video ini diambil dari tempat yang pernah Aishia lihat. Atau bahkan Aishia pernah mengunjunginya.
Video itu diputar secara otomatis ketika Aishia mengetuk notifikasi pesan yang masuk. Kedua bola matanya melebar setelah melihat keseluruhan video.
Kei?!
...****...
Terdengar senandung bergema di tangga. Seseorang yang menjadi sumber suara tersebut menaiki tangga dengan santainya. Langkahnya terdengar nyaring di tempat yang kosong.
"Tidak akan ada yang menghalangiku di sini."
Langkahnya tertuju pada sebuah lorong panjang yang hanya menuju ke satu tempat saja. Ada pintu di ujung lorong. Ia membuka pintu tersebut setelah memasukkan serangkaian angka dan sidik jarinya pada sistem keamanan.
Pintu terbuka dengan sendirinya. Suara derit yang begitu menyeramkan terdengar pekat di telinga. Tapi sekali lagi, orang itu sama sekali tidak terganggu dengan suasana mencekam di sekitarnya.
Di dalam pintu itu ada sepuluh pintu lainnya. Semua pintu terlihat sama jika pintu yang menjadi tempatnya masuk juga ditutup. Jika dia lupa, maka ia akan tersesat dalam teka - teki ruangan ini.
Orang itu dengan santainya membuka salah satu pintu setelah memasukkan serangkaian angka yang berbeda dari pintu berbeda.
Dalam pintu itu, ada sebuah ruangan yang begitu luas, tetapi sangat lembab. Tidak ada jendela sama sekali atau ventilasi, sehingga cahaya dan udara sangat minim. Satu - satunya ventilasi yang tersedia adalah celah kecil pada pintu.
Ada banyak sekali benda - benda tidak normal di dalamnya. Termasuk dengan alat - alat penyiksaan dari zaman dulu hingga sekarang. Ada kursi listrik, coffin torture, Judas cradle, thumb screws dan masih banyak lagi.
Di ujung ruangan, ada seorang wanita yang duduk di atas ranjang. Ranjang itu terlihat sangat bersih dan lembut, dengan tambahan bantal dan selimut. Sangat kontras dengan penghuni lainnya di ruangan ini.
Wanita itu tampak tua, tapi masih terlihat kecantikannya. Aura lembut terpancar darinya. Senyuman yang selalu tercetak di wajah cantiknya sudah menghilang sejak memasuki ruangan ini.
Matanya seperti ikan mati, bahkan wajahnya pucat pasi. Wanita itu sudah sangat muak bertahan di ruangan yang seperti neraka dunia ini. Dia terus diam bagaikan mayat sampai seseorang mendatanginya.
"Kau..." Bisik wanita itu dengan nada tajam.
"Merindukanku?"
"Dalam mimpimu!"
Orang itu terkekeh.
"Anakmu sedang berjuang untuk mengeluarkanmu dari sini, jadi bersabarlah."
"Kau mencuci otaknya?! Bəjingan!"
Ia mendekat perlahan - lahan. Meski enggan, wanita itu tak bisa bergerak sedikit pun dari tempatnya saat ini.
Ia berdiri tepat di depan wanita itu.
"Permainan ini baru akan dimulai. Siapa yang akan tetap bertahan di situasi krisis? Aku menantikannya."
"Dasar psikopat!"
TBC