MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 20 - Waktu yang Berjalan



Hari demi hari terlewati begitu saja. Alba sudah kembali ke perusahaan dan Louis ke toko bukunya. Nichol yang sebagai sekretaris Alba pun sudah kembali pada rutinitasnya.


Tugas menjaga Aishia sudah diambil alih oleh Rio karena dia satu - satunya pengangguran di mansion. Arsene sendiri enggan meninggalkan mansion lagi setelah insiden.


Dan seperti yang sudah diduga, Elvan mengatur ulang jadwal yang sudah ada hingga membuat managernya kewalahan. Itu karena keinginan Elvan yang ingin mengawasi Kei sampai dia pulih.


"Popularitasnya takkan meredup begitu saja."


Kei menatap Arsene bingung. Sebab tiba - tiba kakaknya mengatakan hal absurd. Yah, untung Kei langsung paham arah pembicaraan Arsene.


"Aku tidak mengkhawatirkan karirnya. Dia itu sedang naik daun di kalangan penggemar pop."


Kei segera mengalihkan pandangannya dari Arsene. Lalu melirik Elvan yang sibuk memotong sayuran untuk makan malam ini. Jujur saja, meski menunya monoton, tetapi Kei lebih suka jika Arsene yang memasak. Rasa masakan Elvan itu benar - benar hambar.


Dari belakang, Arsene hanya memandang datar adik bungsunya itu.


Bukan kali pertama Kei berbohong tentang apa yang dia rasakan sebenarnya. Anak itu memiliki gengsi sebesar gajah, makanya Kei jarang mendapat apa yang dia inginkan. Dia saja tak pernah mengatakan apa yang diinginkannya.


"Ingatlah, minggu depan kau sudah mulai masuk."


Setelah mengatakan itu, Arsene pergi dari dapur. Biasanya dia akan bermalas - malasan di ruang tamu sambil menonton berita gosip terkini.


Mendadak Kei ingat kalau hanya tinggal dua hari lagi sebelum masa skorsing nya habis. Dan ia akan memulai kembali rutinitas yang sebelumnya sempat menghilang, yaitu sekolah.


Entah kenapa, dia merasa malas untuk sekolah.


Andaikan saja Nichol tidak ada di rumah dan merusuh di kamarnya setiap pagi, bisa dipastikan kalau Kei akan membolos lagi.


Selama Kei menjalani hukuman skorsing, ia juga melakukan terapi demi kesehatan mentalnya. Namun yah, dia tidak bisa kembali pada awal. Seluruh saudaranya menyadari perbedaan itu.


Meski Kei tetaplah sosok dengan gengsi dan ego yang setinggi burj khalifa, dia menjadi sedikit pendiam. Dengan kata - kata seadanya dan sering kosong pikirannya. Sepertinya dia sedang mengingat memori 'hitam' waktu itu.


Di hari - hari pertamanya bahkan lebih parah. Setiap malam Kei selalu menangis tersedu - sedu sampai berteriak ketakutan memanggil nama ibunya. Itu menyakitkan, apalagi untuk Alba.


Beruntung, semua itu semakin hari berangsur menghilang. Bahkan keajaiban dunia lainnya, Kei menjadi sosok yang perhatian pada seseorang selain Elvan.


Contohnya mungkin... Aishia?


"Kenapa hanya berdiri di belakangku? Tidak mau duduk?" Arsene menawarkan Kei duduk di samping dirinya yang tengah menonton.


Ia sadar kalau Kei mengikutinya ke sini barusan dan terus menatapnya tak karuan. Sebenarnya, Arsene tahu tujuan utama Kei bertindak begitu. Ia hanya sedang memancing anak itu untuk lebih jujur.


"Aku tidak ingin menonton."


"Ya sudah." Arsene kembali fokus menonton.


"Tapi, aku ingin kita bicara empat mata."


"Apa kau sedang meniru Nichol dalam mode sekretarisnya?" Sindir Arsene.


Kei mendelik, ia mulai sadar kalau Arsene tengah mempermainkannya. Kakaknya terlalu pintar untuk sekedar basa - basi kecil ini. Dia dengan mudah langsung menebak tujuan utamanya.


"Kita di sini hanya berdua, bicara terus terang saja." Usul Arsene.


Ini termasuk langka karena biasanya Arsene tak menerima gosip dalam mode apa pun. Tapi yang satu ini adalah pengecualian, agar adiknya bisa sedikit lebih jujur mengenai perasaannya.


"Aku sadar jika kau sudah tahu apa tujuanku."


Arsene tidak bergeming, terus melanjutkan siarannya.


"Aku bicara padamu, Kak Arsene."


"Katakan apa tujuanmu mengusikku, itu tidak sulit."


"Kau adalah kakak yang menyebalkan, bukan?"


"Jika terus memendam, apa yang kau dapatkan?"


Kei diam membisu. Entahlah, kalimat Arsene sangat mengena di hatinya. Bagaimanapun, Arsene adalah pengamat yang lebih baik dari siapa pun di rumah ini. Bahkan CCTV pun kalah.


Kini, Arsene menengok pada Kei.


"Katakan saja, aku takkan menertawakanmu."


"Iya, kau akan menertawakanku dalam hati."


Karena gugup, Kei memegang tengkuknya dan menolak menatap Arsene. Arsene pun geli sendiri karena adegan ini mengingatkannya pada cutscene romantis tentang pernyataan cinta sang pria pada wanitanya.


"Tumben kau menanyakannya, biasanya tidak peduli."


"Kan! Kakak memang mempermainkanku sejak tadi!" Kei mendengus kesal.


Baru saja ingin kembali ke kamarnya, Arsene yang menyebalkan itu malah menjawabnya.


"Dia sudah siuman, hanya saja sedang masa pemulihan."


Kei terdiam, posisi mereka saat ini sedang saling membelakangi satu sama lain. Kemudian, Kei berjalan cepat menuju kamarnya. Meninggalkan Arsene yang kini sudah berspekulasi mengenai jawaban yang diberikannya.


Arsene bertaruh, jika Kei akan menjenguk Aishia entah kapan.


"Kekanak - kanakkan sekali."


...****...


"Tebak apa kata dokter, Aishia. Hari ini kau sudah diperbolehkan pulang bersyarat!"


Aishia yang tengah duduk di kursi roda melihat ke arah Rio dengan senyum bahagianya. Ketika Aishia bangun, memang badannya kaku semua. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah berkedip dan bernapas.


"Benarkah?!"


Rio mengangguk. Dia menggerakkan kursi roda Aishia untuk ke ruang rawat inapnya lagi, untuk beres - beres sebelum pulang.


"Aku sudah bosan dengan rasa masakan di sini."


Sontak saja hal itu membuat Rio ingin tertawa keras. Rasa masakan di rumah sakit sama saja dengan masakannya Elvan, hambar tanpa penyedap rasa apa pun.


"Tapi itu yang tersehat."


"Aku tahu, tapi itu tidak ada rasa secuil pun. Beruntung saja aku tidak memuntahkannya lagi," Aishia cemberut mendengar kalimat Rio.


Kini Rio sekedar tersenyum.


Mungkin setelah ini, dia takkan bertemu Aishia lagi. Gadis itu sudah mendapat kemalangan yang paling parah. Biasanya, penjaga Elvan akan mengundurkan diri di hari terakhir tesnya.


Hanya saja, bukankah Aishia terluka karena ulah para preman yang menculik Kei? Semoga saja, gadis yang satu ini masih mempunyai harapan.


"Rio."


"Iya?"


"Bisakah aku bertemu dengan Alba ketika dia ada waktu luang?"


"Hm? Sore ini dia agak kosong jadwalnya..."


"Bagus. Bolehkah Rio mempertemukanku dengan Alba?"


"Tentu... untuk apa?"


Aishia tersenyum simpul, "Rahasia."


...****...


"Tentu, aku bisa. Sore ini aku memang tidak sibuk."


Alba menggenggam smartphone miliknya, sedang menelepon dengan seseorang. Tiba - tiba Rio mengatakan kalau Aishia setelah ke luar dari rumah sakit ingin langsung bertemu dengannya.


"Ya? Kenapa, Rio?"


Alba terdiam mendengar ucapan Rio tentang kekhawatirannya pada Aishia. Alba mengambil dokumen kecil dari Nichol, dan melihat - lihat.


"Jikapun itu benar, aku tidak bisa mengubah keputusannya."


Tak lama, sambungan telepon terputus. Ia akan pergi ke sebuah taman kota di mana Alba pernah bertemu dengan Aishia sebelumnya di sana. Itulah tempat pertemuan mereka.


Itu memang tempat yang indah untuk bersantai. Makanya Alba sering kesana sendirian demi menghirup udara asri yang tidak didapatkannya di kantor.


Tetapi pada saat itu, ada Aishia yang menemani dirinya. Juga insiden kecil menimpa mereka, karena mantan pacarnya yang mendadak lewat. Alba dan Aishia berakhir dalam suasana romantis walaupun tidak bisa dikatakan begitu juga.


Dan setelah lama berbincang dengan Aishia. Gadis itu berusaha lebih keras dari siapa pun agar bisa memenuhi standar Kei. Tidak dengan menjadi sosok Paman Mo, tapi dirinya sendiri.


"Kuharap dugaan Rio salah."


TBC