
"Kami pulang duluan, Nichol. Kalau ada kabar Aishia siuman, kirimkan surel padaku." Ujar Rio sambil memapah Arsene yang nyaris ke pulau kapuk.
Nichol mengangguk saja. Keadaan Arsene setelah baku hantam memang tidak memungkinkannya untuk tetap menetap dan menunggu hingga Aishia siuman.
Pria itu cukup mudah merasa lelah karena terlalu sering rebahan di rumah, akhirnya Rio mengantarnya pulang. Sedangkan Nichol akan menunggu kabar lanjutan kondisi Aishia dari pihak rumah sakit.
Masalahnya, semenjak enam jam lalu Aishia masuk UGD. Belum ada satupun dokter atau suster yang keluar dari sana. Dan karena saat ini sudah tengah malam, mata Arsene sudah terlalu berat untuk terbuka.
"Iya, hati - hati di jalan."
Karena mobil yang mereka bawa digunakan Alba dan Louis ke psikiater. Sehingga Rio serta Arsene terpaksa pulang naik kereta bawah tanah.
"Tunggu dulu, bagaimana cara Arsene sampai ke sana dengan cepat? Dia tidak mengendarai apa pun 'kan?"
Nichol berkubang dalam pikirannya sendiri. Dia menggaruk kepalanya dengan frustrasi ketika menemukan otaknya buntu. Nichol penasaran cara Arsene bisa sampai kesana.
Perhatian Nichol tertuju pada pintu UGD yang kini terbuka lebar, memperlihatkan dokter yang barusan masuk bersama beberapa suster. Namun, sekarang dokter tersebut hanya keluar seorang diri. Sepertinya para suster masih berada di dalam.
"Dokter, bagaimana keadaannya?"
Nichol langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri sang dokter yang lengkap dengan pakaian serba putih, masker serta kacamatanya.
"Oh, apakah anda adalah kerabatnya?"
Nichol mengangguk.
"Peluru yang bersarang di kepala pasien sudah diambil. Ada beberapa kondisi khusus karena peluru yang nyaris menembus otaknya. Kenyataan kalau dia bisa pulih sepenuhnya juga adalah hal luar biasa dari dirinya, ini sangat jarang."
Dengan seksama Nichol mendengarkan kalimat sang dokter. Ekspresi terkejut bisa terlihat dari raut wajahnya sebab tidak menyangka jika tadi pihak medis telah melakukan operasi pada Aishia. Sepertinya Arsene pelaku utamanya.
Dari informasi yang dia dapat saja, Nichol tahu kalau Aishia takkan siuman dalam waktu dekat. Waktu yang dibutuhkannya untuk pulih pasti akan sangat lama.
Nichol mengambil ponselnya dan berjalan menjauh dari ruangan tersebut, sedangkan dokter barusan telah kembali ke ruangannya.
Sebelum langkahnya semakin jauh, Nichol menoleh pada ruang UGD. Di mana di baliknya ada Aishia yang berjuang untuk terus bernapas.
"Perjuanganmu... apakah Kei akan menghargainya?"
...****...
Ketika Arsene dan Rio sudah kembali ke mansion, ternyata Alba, Louis serta Kei juga sudah kembali. Itu pasti, sebab sudah enam jam waktu berlalu di rumah sakit.
"Di mana Kei?" Tanya Rio pada Louis.
"Dia ada di kamarnya ditemani Alba. Setelah pemeriksaan, diduga Kei mengalami PTSD." Jelas Louis.
Pada awalnya, Alba dan Louis pun terkejut dengan kabar ini. Mereka tak menyangka kalau para penculik itu bisa sekejam ini memberikan ancaman entah apa sampai Kei trauma.
Arsene yang setengah tertidur menggelengkan kepalanya, "Salah satu dari mereka sudah dilahap api. Orang itu tidak bisa menyelamatkan diri dan berakhir menjadi abu."
"Apakah dia pemimpinnya?" Louis bertanya lagi.
"Kupikir iya, kupikir juga tidak."
Jawaban penuh ambiguitas dari Arsene membuat Louis kesal. Anak ini memang pandai dalam permainan kata yang terkadang membuat Louis tidak mengerti maksud ucapannya.
"Apa yang coba kau katakan?" Kali ini Rio bertanya.
"Kau tahu, dia memang pemimpin orang - orang yang pihak polisi tangkap. Tetapi, dia tampak bodoh untuk ukuran seorang pemimpin." Arsene menjelaskan sedetail mungkin.
"Yang ingin kau katakan adalah ada keterlibatan dari orang yang tidak kita ketahui eksistensinya?"
Arsene hanya mengangguk.
Louis meringis.
"Ulah siapa ini sebenarnya?"
...****...
Nichol baru saja kembali dari bagian administrasi setelah membayarkan seluruh biaya yang dihabiskan Aishia. Nichol kini duduk dengan nyamannya di ruang rawat inap.
Di depannya, ada Aishia yang masih tenang berbaring dengan segala alat bantu yang tidak Nichol ketahui satu persatu nama alat serta kegunaannya. Yang ia ketahui hanyalah semua itu dibutuhkan sebagai penunjang hidup.
"Kapan dia akan sadar? Apa menyenangkan terus tertidur seperti itu?" Nichol menyangga dagunya sambil memandang mata Aishia yang tertutup rapat.
Akhir - akhir ini ada banyak hal kurang mengenakkan yang menimpa keluarga Shceneider. Pertama adalah Alba yang diserang oleh para preman berjas hitam, dan sekarang preman itu kembali lalu menculik Kei. Mereka melakukan sesuatu yang membuat adik bungsunya trauma berat.
Nichol yakin, hingga detik ini mungkin Kei masih bungkam dan syok atas kejadian yang menimpa dirinya. Jika saja Kei mau bercerita, ini akan lebih mudah. Sayangnya, Kei adalah Kei. Anak itu terlalu sering memendam sesuatu sampai semuanya menumpuk dan meledak.
Entahlah, kapan anak itu akan meledak.
"Dia seharusnya berhenti menjadi bisu. Hanya karena Paman Mo pergi dari mansion dan dia berubah 180°. Dia memang masih anak - anak."
Nichol meraih kantung plastik berisi buah - buahan yang sempat dibelinya setelah membayar administrasi. Ia mengambil sebuah jeruk lalu mengupas kulit hingga serat - seratnya. Saking rajinnya, ia bahkan memisahkan biji dari daging buah.
Sesekali Nichol melirik Aishia. Memastikan apakah gadis itu telah membuka matanya atau belum. Tapi nihil, gadis itu selalu berada dalam posisi sama.
Hanya saja, Nichol masih bisa melihat udara yang terperangkap dalam alat yang membantu Aishia bernapas.
"Dia masih hidup. Aku jadi kepikiran, bagaimana nasibnya setelah kembali ke mansion. Apa dia akan dipecat atau tidak setelah kejadian ini..."
TBC