MNEMONICS

MNEMONICS
Chapter 14 - Sepucuk Surat



"Hei, lihatlah! Ternyata Arsene bisa lupa memeriksa kotak surat."


Rio yang baru keluar untuk membeli makanan cepat saji membawa sepucuk surat yang diambilnya dari kotak surat. Biasanya Arsene yang memeriksa kotak surat setiap harinya. Mungkin karena hilangnya Kei, dia jadi lupa.


"Coba kulihat."


Aishia mengelap tangannya yang basah pada baju baru mengambil surat tersebut dari Rio. Dia membukanya perlahan agar isi dari amplop tidak rusak.


Hanya ada selembar kertas dari robekan buku di sana serta tulisan sebanyak satu paragraf. Aishia membaca dengan keras supaya Rio mendengarnya juga.


"If you're looking for your little brother, he's with us. Take half of your money on a hiking trip by midnight and he'll be back."


Aishia tertegun setelah membacanya, begitu pula dengan Rio. Jika ada surat semacam ini, bukankah sudah jelas bagaimana keadaannya? Adegan klise yang sering terjadi di film atau mini series.


"Rio... bagaimana ini? Kita beritahukan pada Alba?" Tanya Aishia.


Aishia menggigit bibir bawahnya. Hal terburuk yang ia bayangkan untuk terjadi. Mungkin dia akan benar - dipecat dari perkerjaannya ini sebelum lewat seminggu.


Selain mengkhawatirkan pekerjaannya, hal paling dia cemaskan adalah keadaan Kei saat ini. Bagaimana kalau mereka tidak memberikan makanan padanya? Tempat tidur? Atau segala sesuatu yang Kei butuhkan? Hal ini membuat Aishia semakin was - was.


"Kak Al harus tahu." Ujar Rio dengan yakin.


Rio berjalan masuk, ia mencari keberadaan Nichol dan Arsene. Dia takkan memberitahu Elvan karena anak itu masih berada di tempatnya konser. Elvan tidak perlu tahu atau konsernya akan kacau.


Sebagai kakak yang paling memanjakan Kei, tentu Elvan akan mengalami kecemasan berlebihan kalau mengetahui berita ini. Lebih baik dia tidak tahu sama sekali.


Aku telah mengacaukannya. Bagaimana kalau Kei terluka? Aku tidak mau itu. Kehilangan lagi... aku tidak mau hal itu terulang kembali.


Aishia lantas berlari menuju ke luar membuat Rio meneriakkan namanya dengan kencang. Menghentikan Aishia untuk melakukan sesuatu yang nekat. Meski dia karateka hebat, tapi belum tentu dia dapat mengalahkan mereka.


Aishia menyentuh sekitar uluh hatinya, di mana ada luka tusuk yang telah dijahit di sana dan sedang dalam proses pemulihan.


"Kali ini aku takkan melakukan kesalahan fatal dan mendapatkan luka semacam ini lagi!"


...****...


Alba dan Louis baru saja tiba di mansion. Alba dengan terburu - buru masuk ke dalam hingga tak sadar ada Rio yang berdiri di dekat pintu masuk.


Bruk!


"Aduh!" Rio meringis kesakitan sementara Alba tampak acuh.


"Rio, di mana Nichol?"


"Mungkin di ruang tamu. Kak Al, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu!"


"Nanti saja dulu, aku ada urusan dengan Nichol." Alba dengan langkah cepat menuju ruang tamu disusul oleh Louis.


"Ta-tapi ini tentang Kei- Kak Al, dengarkan aku dulu!"


Karena Alba tak kunjung berhenti, Rio pun mengejarnya. Beda dengan Alba dan Louis yang lebih atletis daripada Rio yang anak rumahan membuat Rio kesusahan mengejar kedua kakaknya.


Sampai di ruang tamu, ternyata Nichol memang ada di sana sambil memainkan ponsel Aishia. Dia menyadari kedatangan Alba, Louis serta Rio.


"Oh, kalian sudah datang-"


Alba menggapai kerah Nichol dan nyaris membuat pria itu kehilangan pijakan kakinya. Nichol juga dibuat sesak karena Alba menarik kerah kemejanya dengan sangat kuat.


"Foto itu... apa maksudmu, hah?!" Teriak Alba.


Seketika telinga Louis dan Rio berdenging saking kerasnya suara yang dihasilkan. Sedang Nichol yang jaraknya paling dekat malah merespon biasa saja.


"Foto itu berasal dari ponsel Aishia, temannya menemukan posisi Kei. Dia disekap di pondok dekat wisata pendakian di bukit Utara." Kata Nichol sambil menunjukkan chat antara Aishia dan Mia.


Rio yang juga melihatnya terkejut karena rekan dojo Aishia berhasil menemukan Kei. Tapi karena tidak memegang ponselnya, Aishia tidak melihatnya. Dia mengetahui informasi penting ini dari surat yang dikirim di kotak surat.


"Kalau begitu kita harus segera ke sana!" Perintah Alba.


Belum selangkah Alba berjalan, Rio mencegat pergelangan tangannya. Alba menatapnya tajam. Rio tahu bahwa Alba semakin di luar kendali. Segera dia menyodorkan surat yang sedari tadi ingin dia berikan pada Alba.


Alba menyatukan alisnya, "Apa ini?"


"Baca saja dulu."


Alba menghembuskan napas dengan kasar, membuang segala kekesalan membabi buta dalam dirinya. Ia membaca surat tersebut kata demi kata dengan cermat.


"Ap-"


Setelah membacanya hingga selesai, Alba seakan kehilangan kata - katanya. Tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya. Kedua lututnya terasa begitu lemas untuk membantunya tetap berdiri.


Nichol mengambil selembar surat itu dari Alba dan membacanya dengan teliti. Seusai itu, dia menggertakkan giginya dengan geram. Situasi seperti ini sangatlah buruk.


Masalahnya, wisata pendakian sangat sulit untuk dijangkau oleh mobil sehingga sulit pula bagi para pasukan polisi untuk menyergap mereka. Ditambah ada Kei di sisi mereka, ia takut mereka melakukan sesuatu yang menyakiti Kei. Mereka tak boleh gegabah di sini.


"Kita tetap harus melaporkan ini kepada polisi." Louis mengeluarkan ponselnya dan memanggil nomor darurat.


Nichol menarik Alba menuju ke mobil, sementara Rio menyusul mereka. Louis juga berada di belakang sambil berusaha membuat laporan penculikan kepada polisi.


Di dalam mobil ketika semuanya sudah siap untuk jalan.


"Apa ada yang melihat Arsene?" Louis melongok pada Rio dan Nichol yang notabene lebih dulu pulang ke mansion daripada mereka.


"Tidak tahu, tidak peduli. Ayo jalan saja dan temukan Kei. Kak Louis juga sudah telepon polisi 'kan?" Tanya Nichol tidak sabaran.


"Sudah. Mereka sedang dalam perjalanan menuju bukit Utara." Jelas Louis.


"Itu bagus. Ayo berangkat dan selamatkan Kei."


...****...


Sebuah mobil terparkir di jalur berlumpur. Akibat hujan sore ini yang membuat permukaan tanah menjadi basah. Akses menuju wisata pendakian menjadi lebih sukar untuk ditempuh.


"Mobilnya hanya bisa sampai sini saja."


Aishia turun dari mobil dan menatap ke kejauhan. Tempat yang gelap dan banyak semak belukar. Untung saja di dalam mobil itu ada senter supaya Aishia lebih mudah melewati jalur menuju bukit Utara.


"Yosh, ayo selamatkan Kei!"


Tep!


"GYAAA!"


Aishia baru maju selangkah sampai ada telapak tangan yang menyentuh pundaknya dari arah belakang. Karena ini malam hari dan di hutan pula, tentunya Aishia terkejut. Bulu kuduknya meremang seakan menyadari keberadaan roh halus.


"Tenanglah, ini aku."


Baru saja berniat ingin memberikan tendangan dan tinjuan kepada roh halus yang sekiranya tidak tembus pandang ini. Namun, suara tak asing masuk ke pendengaran Aishia.


Memang benar bahwa dirinya bekerja belum lama di mansion Shceneider. Tapi dia cukup hapal dengan suara ini karena sering ngobrol bersamanya.


Aishia menoleh ke belakang. Di sana berdiri seorang pria dengan tatapan datarnya, begitu mati seolah tak ada kehidupan. Namun, hal ini membuat Aishia bersorak senang dalam hatinya.


"Arsene?!"


TBC